
Hari ini cukup sibuk, aku berhasil mendapatkan kerjasama dengan agen perjalanan dan menjadi salah satu mitra kerjasama untuk restoran mereka, tapi aku mengambil untuk restoran ke dua dan tiga. Yang ini aku tetap pertahankan bukan restoran turis, karena deal dengan mereka aku malah harus menurunkan harga.
"Wow Anda berhasil Nona! Hilda yang sudah mengikuti perjalanan kami selama belasan tahun dari Ibuku bersorak untukku."
"Belum terlihat uangnya Hilda, mereka baru membayar tagihan kita setelah tempo 30 hari. Dan baru dimulai bulan Februari, hanya kita dapat jaminan settlement."
"Bagaimanapun ini bagus Nona, kita jadi punya montly income tetap dari kedua restoran lainnya. Ini sangat bagus."
"Kita juga sedang menawar ke penginapan-penginapan kecil jika mereka mau kerjasama dengan kita. Kita mungkin bisa memasukkan makanan juga dengan membagi keuntungan dengan mereka. Tapi ini hanya berlaku di dua restoran lainnya yang bahannya bisa kukompromikan dan harganya bisa ku tekan. Disini tidak bisa."
"Ohh soal itu Nona, aku baru mau memberitahumu. Aku sudah menerima telepon mereka tertarik dan mau bicara denganmu. Ada dua penginapan yang tertarik Nona. Ini berkat nama kita yang sudah lama disini kurasa..."
"Ohh benarkah? Boleh, langsung atur pertemuan secepatnya dengan mereka setelah Natal besok."
"Baik Nona, segera..."
"Pulanglah Hilda, restoran sebentar lagi tutup."
Akhirnya sedikit cahaya di ujung lorong, walaupun masih banyak yang harus kulakukan. Last order sudah ditangani tamu terakhir sudah kembali, omzet hari ini bagus. Memang banyak peningkatan dari dua bulan yang lalu. Dan kami menerima beberapa booking untuk office party untuk Natal dan Tahun baru. Setelah hanya memperoleh keuntungan tipis selama beberapa tahun akhir bulam ini aku bisa melihat angka yang bagus.
Lampu-lampu depan sudah dimatikan, pekerja sedang membersihkan restoran, hampir selesai. Aku duduk di meja sudut, masih berusaha dengan laptopku mengirimkan beberapa penawaran kerjasama, mendata alamat email mereka untuk dikirim besok, dua restoran lain ini harus mendapatkan pemasukan rutin secepatnya. Jika tidak investasiku tak akan bisa kembali. Aku duduk di tempat Ayah biasanya duduk. Didepan sana juga Aku tak ingin pulang rasanya, tak bisa tidur memikirkan Valentina.
'Apa kau baik?' Aku mengirimkan pesan padanya. Tak lama balasannya datang.
'Aku baik kak, tenanglah.' Dia membalasku. Setidaknya dia masih bisa membalasku.
Bova meneleponku kemudian. Aku mengangkatnya.
"Pulanglah."
"Apa?"
"Kenapa kau masih di duduk saja disana sendiri."
"Bagaimana kau bisa melihatku?"
"Aku mau kembali dari kantorku dan sekarang lewat didepan restoranmu..." Ohh ya kantornya tidak jauh dari restoranku dan harus melewatiku harusnya. Kulihat sebuah BMW didepan sana.
"Aku akan pulang nanti."
"Jika kau sakit, itu tak menguntungkan bagi siapapun?
"Kau selalu menjaga investasimu dalam keadaan baik?!"
"Jangan tersinggung, tapi sekarang iya." Aku jelas tersinggung diperlakukan sebagai investasi. Dasar terlalu terus terang.
"Pergilah, aku bisa menjaga diriku sendiri." Aku tak akan mengindahkannya.
"Keras kepala..." Aku langsung menutup teleponnya walau dia belum selesai bicara. Kupikir dia akan menyerah dan pergi. Tapi ternyata dia malah berbelok dan parkir di sisi dalam. Mau apa lagi Don Juan anti komitmen ini.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Pulanglah. Ini sudah malam..."
"Sebentar lagi." Aku mengabaikan keberadaannya. Berusaha keras mengabaikannya jika kau ingin tahu. Dia menghela napas melihatku.
"Apa yang kau lakukan disini..."
"Aku mengirim email ke semua penginapan kecil dan agen perjalanan untuk menawarkan kerjasama."
"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri." Aku tak menanggapinya. Aku perlu mengerjakan ini. Mendapatkan surplus, membuat karyawan yang sudah ada lebih bermanfaat.
"Aku perlu banyak uang, jadi jangan mengatakan jangan terlalu keras pada diriku sendiri."
"Kau bisa menbayar biaya pengacaramu tahun depan atau kapanpun kau punya uang nanti. Jangan sampai kelelahan..."
"Terima kasih atas perhatianmu. Aku tahu batasku. Aku tak akan membahayakan kelangsungan tuntutanmu. Kenapa kau sendiri masih disini..." Dia tak menjawabku.
"Ada salju diluar..." Aku sekarang melihat ke luar, benar saja ada salju yang turun. Udara akan semangkin dingin, tahun lalu aku masih di Madrid. Kami sedang menyiapkan cookies untuk dibagikan. Kenapa aku lupa memerintahkan menyiapkan cookies di Natal ini. Semua masalah ini membuatku tak fokus sama sekali.
"Benar juga, aku harus menyiapkan sedikit cookies ..."
"Apa?" Dia heran tiba-tiba aku bicara.
"Aku harus menyiapkan cookies."
"Membuat cookies? Sekarang?!"
"Sekarang!"
"Ini jam 11 malam,..."
"Aku akan menyelesaikan cookiesku dalam dua jam." Cookies tak sulit dan aku punya semua bahan dan alatnya disini dan masih ada staff yang tinggal, aku akan memberinya tambahan uang lembur. Ini akan jadi hadiah natal yang manis bagi pelanggan. Kenapa aku melupakannya, kepala chef nya berganti tiga tahun lalu. Mom selalu mengajarkan itu, kami membagikan cookies kepada pelanggan di sini. Tapi kami melupakannya.
"Pulanglah. Aku punya pekerjaan."
"Bolehkah aku membantu? Dulu aku sering membantu membulatkan cookies."
"Pulanglah, ini sudah malam." Aku mengusirnya.
"Kantorku sudah libur besok, biarkan aku membantumu. Aku serius soal aku terlatih membuat bulatan cookies." Dia tersemyum, aku menghela napas melihat senyumnya. Astaga apa yang dilakukan Don Juan ini di dapurku.
"Apa bayaranmu? Aku tak memberimu uang lembur, aku hanya memberimu sekantong kecil cookies."
"Setuju..." Dia langsung mengangkat jempolnya. Sekarang aku tertawa.
Don Juan yang terlalu tampan ini bisa membuat cookies ku terlalu manis