
Dalam beberapa hari kemudian, media meledak dengan penangkapan Adriano Gianni. Dan kemudian dakwaannya diberitakan dengan sejelas-jelasnya oleh satu media utama yang merupakan kelompok Bova dan menjadi headlines di media masa tentu karena nama besar Gianni. Artikel dengan detail yang sangat menyudutkan dibarengi dengan bukti-bukti valid.
Beberapa wartawan memburuku, tapi pengacaraku mengatur ini dengan pengawalku, agar tidak menggangu bisnisku. Kami akan melakukan wawancara dengan wartawan yang ingin tahu sehari kemudian.
Benar saja, banyak orang di hari itu bertanya kepada pelayan apakah restoran yang muncul di berita headline, dan berimbas restoran ramai dengan orang yang belum pernah mencoba makan di restoran kami menjadi pertama kalinya mencoba menu kami, yang digambarkan sebagai sudah melewati dua generasi pemilik dan hampir bangkrut dikarenakan permainan bunga mencekik Gianni.
Efeknya seperti diduga. Tapi aku harus mengorbankan citra adikku, untungnya dia tidak disini membaca semua berita yang beredar tentang dirinya. Jika tidak dia akan tambah stress. Gianni tidak bisa dipenjara hanya langsung karena perdata tanpa kasus krimimal, untukmenciptakan liputan luas Gianni harus dipenjara, kasus adikku adalah jalan paling mudah untuk memenjarakannya. Dan setelah itu bukti-bukti dia melakukan pengancaman dengan tukang pukulnya kepada pemilik bisnis yang lain juga akan dibeberkan di pengadilan.
“Seseorang mencarimu Nona.”
“Siapa? Apa tukang pukul?”
“Kurasa dia bukan tukang pukul, lebih tepat potongannya dia pengacara. Dia hanya berkata dia orang yang diutus Tuan Gianni.”
“Ohh... Baiklah, ayo kita lihat apa yang dia mau. Bilang Carlos dulu untuk bicara dan menemaniku sebentar.” Carlos pengawal yang paling senior disini, karena sering berkerja dengan Tuan Armando dia sedikit banyak mengetahui apa yang lebih baik dikatakan atau tidak.
"Nona, jangan terpancing emosi atau terpancing mengatakan apapun padanya. Indentitas back up Nona harus tetap dirahasiakan." Carlos memberi garis apa yang tidak boleh kukatakan.
"Mengerti Carlos. Ingatkan aku jika aku terpancing."
Seorang pria yang sudah mungkin pengacara senior karena aku menebak setidaknya dia sudah berusia 50 tahunan datang padaku kemudian.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan? Anda mencari saya?" Carlos duduk di meja sofa diruanganku untuk mengamatinya.
"Saya Paulo Benito, pengacara Tuan Gianni. Hanya ingin bicara dengan Anda."
"Baiklah, Tuan pengacara apa yang bisa saya bantu? Langsung saja saya tidak punya waktu untuk pembicaraan yang terlalu panjang." Dia tersenyum kecil padaku.
"Saya kesini dengan damai Nona. Saya menawarkan penjadwalan ulang pinjaman, pemangkasan seluruh bunga, dan penghitungan ulang jumlah yang harus Anda bayar. Kita damai saja dan Anda batalkan tuntutan, masalah kita akan selesai." Dia pikir aku akan menyetujuinya setelah dia membuat Valentina menderita karena perbuatannya.
"Kau beraninya..."
"Tunggu dulu saya belum selesai Nona, kesepakatan ini juga mencakup kompensasi yang sesuai untuk Nona Valentina. Kita bisa membicarakan semua ini baik-baik, yang saya minta hanya Anda memberitahu wartawan bahwa yang melakukan ini adalah salah satu manager penagihan dan tidak diketahui langsung oleh Tuan Gianni. Kami menginginkan semuanya damai daripada kita saling menyerang dan menjelekkan satu sama lain." Sekarang dia diam.
"Permintaan berdamai Anda ditolak. Aku akan tetap meminta Gianni masuk penjara." Sekarang dia menghela napas.
"Nona Eliza, mungkin Anda belum tahu siapa Gianni. Dia bisa melakukan banyak hal, jika kita berperang di pengadilan hanya akan menghabiskan waktu, biaya dan tenaga. Lebih baik Anda pertimbangkan ini. Tak usah buru-buru menjawab saya, bermusuhan dengan Gianni tidak akan berakhir dengan baik."
"Berhubungan baik dengan Gianni pun tidak akan berakhir dengan baik. Gianni merayu Ayah saya untuk mengambil pinjaman lunak tapi menipunya di penanatanganan perjanjian sampai melibatkan adik saya. Beberapa minggu yang lalu saya didorong ke sudut dan diancam dengan memasukkan Ayah saya ke penjara atau menyerahkan adik saya. Anda pikir itu pengalaman yang menyenangkan?"
"Jika Anda menyetujui ini kami akan memberikan kompensasi, dan masalah ini selesai. Bagaimana..."
"Jadi masalah trauma adik saya juga selesai. Anda bercanda."
"Adik Anda mendapatkan kompensasi dan ..." Aku langsung memotongnya.
"Ahh orang kaya, mereka menganggap uang mereka menyelesaikan segalanya. Tapi kami kaum bawah bahkan harus mempertaruhkan nyawa, sumber penghidupan bahkan kehormatan kami. Apa Anda pikir ini adil Tuan pengacara yang terhormat...." Pengacara itu diam sekarang. Aku menatap lurus padanya. "Dan Anda juga terlalu banyak menerima uang mereka sehingga nurani Anda mati untuk orang seperti kami."
"Nona ini pekerjaan. Jangan membawa semuanya terlalu personal." Aku langsung mendengus dan tertawa.
"Ohh Anda memang tidak tahu bagaimana rasa tertekan dan merasa bersalah seumur hidup saya mengadaikan kehormatan adik saya. Bahkan sekarang saya tidak ingin dia tahu apa yang terjadi. Jadi untuk Anda ketahui saya sudah terlanjur membawa masalah ini seumur hidup saya. Saya juga ingin dia membayar dengan hidupnya atas apa yang dia lakukan. Anda jelas dengan jawaban saya?! Kita akan bertemu di pengadilan. Sihlakan keluar...."
Pengacara itu memandangku. Dia tahu aku sudah tak akan mundur lagi.
"Baiklah, nampaknya apa yang terjadi memang tak bisa didamaikan lagi. Kita akan bertemu di pengadilan."
Aku menghela napas saat pengacara itu keluar. Dengan mudahnya pihak Gianni menawarkan damai dan memberikan kompensasi uang. Uang mereka memang berlimpah ruah, memberikan ratyat jelata sedikit tak akan mempengaruhi kekayaan mereka sedikitpun.
Memuakkan.
"Nona kau melakukan hal bagus tadi." Tuan Armando meneleponku setelah rekaman pembicaraan itu sampai kepadanya.
"Saya akan memastikan bahwa Anda mendapatkan keadilan dan balasan setimpal Nona. Adrianno Gianni akan membayar apa yang dilakukannya."
"Terima kasih Tuan Armando, jika tidak ada bantuan Anda dan Tuan Bova, mungkin saya masih terpojok disini."
"Sebenarnya ini keberuntungan Anda bertemu dengan Tuan Bova." Benar, jika tidak mungkin aku masih harus merelakan adikku.
Aku kembali ke rumah dengan tubuh lelah, tapi hatiku tenang tanpa beban. Dan rumahku ramai dengan kehadiran tiga pengawal yang harus mengawasiku sebagai investasi berharga untuk menjatuhkan Gianni.
"Tuan Carlos, apa kamar kalian nyaman. Apakah ini cukup baik bagi kalian, apa ada yang kurang, aku hanya punya maid yang datang seminggu dua kali." Aku bukan milliuner yang berani menggaji maid untuk tinggal dirumah. Maid yang kubayar perjam kurasa sudah cukup.
"Nona ini lebih dari cukup, kami tak akan membuat kacau rumah Anda. Kami berjanji, kami tahu diri..." Aku tertawa, suasana cukup ramai disini sekarang. Aku memberi tahu mereka faselitas tambahan di rumah yang bisa mereka gunakan dan mereka beristirahat sama sepertiku.
Bova meneleponku lagi. Padahal lusa sore kami akan bertemu, mungkin dia tahu aku kedatangan pengacara Gianni.
"Don Juan, ada apa? Kau mau didongengkan sesuatu sebelum tidur?" Dia tertawa di seberang sana.
"Kau hebat menjawab pengacara itu. Mungkin entah bagaimana dia akan membiarkanmu menang nanti dan memenjarakan Tuannya karena pidatomu yang menggugah rasa kemanusiaan itu." Aku meringis.
"Apa ada pengacara seperti itu. Kalau ada kurasa dia sudah dipecat dan tak mendapat pekerjaan seumur hidupnya." Dia tertawa.
"Mungkin saja bukan. Tapi kau tahu, kau membuat mereka benar-benar membayar. Pemberitaan begitu masif akan membuat orang mengingat nama Giani buruk selama bertahun-tahun, posisi tertentu akan tak bisa dicapainya lagi. Jika dia berambisi menjadi perdana menteri atau menteri sekalipun itu sudah tak akan bisa namanya sudah terlanjur di banned buruk. Kau membuat mereka membayar..."
"Baguslah, itu sepadan dengan apa yang mereka lakukan pada kami. Bekas luka seumur hidup."
"Armando akan mengaturnya, dia tak akan melepaskan mereka kau tenang saja. Apa pengawalmu melakukan tugasnya dengan baik..."
"Mereka bertugas dengan baik, tenang saja."
"Baiklah. Tampaknya kau baik-baik saja."
"Ini semua berkat bantuanmu Don Juan. Aku baik-baik saja."
"Asal kau tidak menangis dan terlihat begitu menderita lagi." Aku menangis? Mungkin saat aku mabuk aku tak sadar menangisi semuanya.
"Saat aku mabuk kau mengorekku bukan?" Dia diam sekarang. Ternyata benar. Ada hal-hal yang secara tidak sadar aku akui di depannya.
"Bukan hal yang buruk Vanilla. Kau tak perlu bersikap kuat sepanjang waktu."
"Aku harus walau kadang ... itu ... berat. Maaf aku mencoba bersandar padamu."
"Mencari bantuan bukan hal yang buruk Vanilla. Kau selalu minta maaf. Tak ada yang perlu dimaafkan."
"Kalau begitu terima kasih untuk ke seratus kalinya."
"Tidurlah. Jumat sore kita bertemu." Dia memutuskan tidak menjawab terima kasihku. Seperti yang kubilang mungkin ke 100 kalinya.
"Malam Don Juan."
"Selamat malam Vanilla."
Vanilla, dia selalu memanggilku Vanilla belakangan. Apa maksudnya, ... apa dia begitu suka dengan wangi Vanilla seperti dia suka cookies vanilla.
Manis, sayang aku tak berani menjangkaunya sampai kapanpun. Berada didekatnya terlalu lama akan membuatku seperti cookies yang terlalu lama dalam oven. Hangus.
Tapi bukankah dia suka cookies hangus.
Baiklah aku sudah gila!
Aku bukan cookies Vanilla! Tidurlah Vanilla, Don Juan itu adalah oven panas yang akan membuatmu menyesal.