The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 60. Risk for a Question 1



Aku terbangun dengan rasa pegal dan tak nyaman di bahuku mungkin karena obat penahan sakitnya sudah hilang efeknya.


Aku turun karena mau makan sedikit dan minum obatnya. Jam 10 aku harus ke kantor polisi lagi. Hidupku bolak-balik kantor polisi belakangan.


"Nona, kau sudah bangun. Aku mendengar kau tertembak? Astaga..." Deborah menyapaku dengan khawatir.


"Aku tak apa. Hanya sedikit insiden dengan orang gila." Dia menyiapkan sarapan untukku kemudian. "Yang lain sudah pergi?" Aku masih melihat dua mobil di bagian depan rumah.


"Ohh semua pria sedang jogging Nona, mungkin mereka akan kembali sebentar lagi. Pria-pria itu sangat peduli dengan latihan mereka."


"Ohh baiklah."


"Tuan katanya akan ke Jepang akhir minggu depan lau tak ikut Nona?"


"Jepang? Tidak, sebenarnya aku harus kembali ke LA segera, kantorku disana..." Kenapa mereka ke Jepang, aku jadi khawatir dia mencari keterangan tentang kasusku di Jepang.


"Ahh itu mereka kembali." Kulihat empat laki-laki itu kembali masuk ke rumah dan mencari minuman di kulkas.


"Nathalie, kau terlihat baik pagi ini syukurlah." Howard menyapaku. Hanya John yang bersama dengan Nathan semalam.


"Belakangan kau berkali-kali lolos dari peluru. Kau nampaknya punya banyak nyawa cadangan." Howard menggodaku, aku meringis. Baru misi kali ini aku benar-benar berhadapan dengan bahaya sebenarnya yang mengancam nyawaku.


"Iya dipinjamkan Nathan dan John semalam. Jika tak ada dia yang merebut pistolnya aku sudah tinggal nama." Aku berterima kasih pada Nathan dan Josh sekarang.


"Itu sekarang pasti sakit, perlu tiga empat hari untuk membaik. Aku pernah tertembak di lengan juga waktu latihan misi di tengah hutan..."


"Di tengah hutan? Kau pernah sampai latihan di tengah hutan?" Aku menatapnya Howard sekarang, yang bisa menerima latihan misi di tengah hutan seperti itu pasti hanya pasukan khusus. Howard terdiam, seperti sadar dia sudah membocorkan sesuatu. Teman-temannya melihatnya.


"Maksudnya... Kami dulu pernah latihan di tengah hutan. Iya tentu, Sean beberapa melatih beberapa dari kami dengan bagus." Howard mencoba memperbaiki kalimatnya, tapi aku sudah terlanjur menyimpulkan keterangannya.


Kurasa orang-orang ini adalah bagian dari pasukan khusus. Jadi Nathan memang punya izin khusus sehingga bahkan dia punya tim sendiri? Dia agen tingkat tinggi? CIA? Apa jenis operasinya? Dia mungkin orang yang mengelola dana ratusan juta atau mungkin milliaran dollar. Aku benar-benar berpikir kemungkinan itu. Dengan angka uang yang dia pegang dia mungkin aset agen tingkat tinggi.


Jika dia adalah agen? Kenapa bossku menargetkannya. Apa karena bossku tak tahu siapa dia, bossku tak bisa mengakses informasi apapun tentang dia selain data umumnya. Atau bossku diperintahkan oleh seseorang.


Uang adalah kuncinya disini, dengan uang yang dia kelola, misal dia mempunyai bagian dari uang itu, dan pastinya iya, seseorang yang duduk di tingkat tinggi pasti melindunginya. Dan yang lainnya berusaha mengungkapkan hubungannya karena mungkin mereka pernah bertemu.


Semua pikiran lalu lalang di dalam pikiranku sejak kemarin. 'Aku bisa melindungimu' itu yang dia katakan padaku. Dia ingin aku membuka semuanya sebelum mendapat kepercayaaannya.


"Ohh..." Kemarin dia juga mengatakan hal itu.


"Mereka bersembunyi di daerah pertanian Minessota dan North Dakota. Orang Sean berhasil melacaknya melalui temannya, kami bekerja lebih cepat dari polisi. Dia akan diserahkan ke polisi setelah ini..." Ini adalah salah satu penegasan jika dia bisa melakukan apa yang dia katakan.


"Apa yang harus kulakukan padanya?" Aku tak tahu apa yang akan kulakukan padanya. Polisi akan mengurus hukumannya bukan.


"Kalau aku mungkin aku akan menghajarnya sendiri dulu. Aku tidak berniat seperti itu sebenarnya. Belakangan aku hanya ingin pergi menjauh saja dari kasus memusingkan ini.


"Aku siap-siap dulu ke kantor polisi." Aku naik ke atas lagi. Sebuah ketukan di pintuku tak lama kemudian.


"Nathan ada apa?" Dia masuk ke kamarku dan duduk di bedku sekarang.


"Jika kau ingin istirahat hari ini, istirahatlah tak usah menemui Ailes, aku akan menyuruh orang membawanya langsung ke kantor polisi LA."


"Ohhh, baiklah. Tak apa bukan?"


"Kenapa tak apa tak ada yang perlu kau maksudkan, tentu saja tak apa." Aku melihatnya.


"Kenapa kau baik padaku." Dia tersenyum kecil.


"Karena kita teman...." Aku tak bisa jadi temanmu. "Tak usah terlalu banyak berpikir, serahkan saja semuanya padaku, belajar percaya padaku..." Dan bagaimana aku tak usah terlalu banyak berpikir. Kau akan baik-baik saja di sampingku..."


"Aku akan baik-baik saja?" Jelas aku tak baik-baik saja. Bagaimana kondisi berpura-pura ini dikatakan baik-baik saja.


"Kau akan baik-baik saja." Dia menegaskan lagi.


"Nathan, jika kau punya izin membunuh apa kau agen pemerintah?" Akhirnya aku menanyakan apa yang ada dipikiranku. Aku tak bisa menebak-nebak sepanjang waktu.


Dia diam sebentar dengan pertanyaanku. Dia maju selangkah dan merangkul pinggangku, posisi favoritenya untuk mengintimidasi wanita kurasa.


"Nathalie sayang,..." Aku mendorongnya.


"Apa yang kau mau?" Tapi secepat itu juga kusadari aku tak bisa mendorongnya bahuku berdenyut sakit.


"Kau nampaknya tahu sedikit tentang apa yang kusebutkan. Tapi kau tak berpikir kau bisa bertanya begitu saja bukan, jangan bertanya kecuali kau siap menanggung resiko pertanyaanmu. Apa kau siap mengaku sekarang?"