
"Siang Nona, kau sudah pernah latihan sebelumnya."
"Ehmm pernah intermediate kurasa, tapi sudah lama tak latihan." Dulu aku juga mencapai Advance belt hitam strip 4 dan dalam pelatihan intensive di akademi Quantico. Hampir setahun ini aku tak pernah menyentuh Gym lagi.
"Baiklah, ayo ke dalam..."
"Kau siap." Aku telah selesai berganti baju Jiu jitsu, pemanasan dan sudah siap untuk penilaian. Banyak laki-laki antusias sekarang. Populasi wanita yang sedikit adalah kesempatan untuk cuci mata.
Tehnik dan gaya bertarung Jiu Jitsu Brasil terfokus pada pertarungan bawah, bantingan, cekikan, kuncian sendi, dan pemanfaatan posisi menguntungkan. Pada prinsipnya, dari masing-masing posisi dapat dilancarkan berbagai variasi gerakan. Dan ini sangat bagus untuk self defense sehingga tekniknya banyak diadopsi untuk pelatihan kami di agency.
"Nona, aku siap menjadi sparringmu." Seorang pria diujung sana bersiul untukku.
"Nona, aku bersedia kau kunci dibawah." Beberapa orang mulai coba menggodaku, aku tersenyum saja pada mereka.
"Aku tak akan terlalu serius, kau hanya harus mencoba mengunciku dengan beberapa teknik. Ini akan membuatku menilai ketepatan teknik dan kekuatan kuncianmu. Kau sebelumnya di intermediate bukan." Aku mengangguk dan bersiap dengan kuda-kudaku.
"Kuda-kudamu bagus. Kau yakin kau intermediate?" Dia merangsek mencengkram mencoba membantingku, tapi ternyata reflekku masih cukup bagus. Detik berikutnya aku sudah memuntir tangannya dan meggunakan teknik yang tepat untuk membantingnya di lantai. Menguncinya sehingga dia harus menyerah.
Orang-orang terdiam sekarang. Melonggo melihatku membanting dan mengunci instructur belt hitam.
"Nona kau yakin kau di intermediate?" Dia bangkit dan berkacak pinggang padaku. Aku meringis lebar. "Aku serius bertanya, kau level apa sebelumnya tak mungkin kau intermediate?"
"Advance, 5 tahun, kita sama . Maaf aku sudah lama tak latihan. Aku tak yakin bisa menggunakan levelku sebelumnya."
"Astaga, Nona... kau membuatmu tampak bodoh. Kalian level pecundang pemula semua tak punya kualifikasi menjadi sparringnya." Dia menunjuk orang-orang yang mengelilingi kami. Dan semua orang sekarang berakhir dengan kekecewaan dan tertawa lebar. Aku baru sadar dia membawaku ke kelas pemula.
"Aku sudah kehilangan masa depanku." Beberapa orang membuatku tertawa dengan perkataan mereka.
"Ayo, kita kembalikan reflekmu. Gerakanmu masih bagus, masih latihan fisik?" Aku mengangguk.
"Bagus..." Ayo lanjut. Kami berlanjut dengan beberapa orang masih menonton. Ternyata aku belum kehilangan beberapa teknikku, walau tenagaku dengan cepat terkuras karena latihan fisik yang tak memadai.
"Kau nanti masuk ke advance, tidak di kelas ini. Kelasnya dimulai dalam lima belas menit" Alex berkata padaku. "Kau kuberi belt hitam saja sama dengan penilaian levelmu sebelumnya." Aku berterima kasih sementara dia memberikan beltku.
"Mengagumkan..." Aku mendengar orang bertepuk tangan. Ternyata Nathan dibelakangku. Dia ternyata berlatih Jiu jitsu dan sudah mencapai belt hitam juga.
Wanita-wanita yang ada digym terpaku melihat padanya. Ya Tuhan, rambutnya yang berantakan membuatnya terlihat sulit ditanggung. Jika saja dia bukan targetku...
"Tuan Nathan." Aku tersenyum padanya. "Saya tak tahu Anda berlatih disini juga. Tuan Louis yang merekomendasikan tempat ini." Dia mendatangiku. Aku hanya mencapai telinganya kurasa.
"Mau sparring?" Tawaran yang mengiurkan. Tapi daripada memcari orang lain lebih baik sparing dengannya tentu saja.
"Apa tak ada sparing partner wanita di level advance?
"Kau tidak beruntung kali ini..."Aku tersenyum padanya, sepertinya bukan tak beruntung tapi sangat beruntung, bagaimana bisa aku mempunyai target seganteng ini.