
Kembali ke Milan dengan baik-baik saja kali ini adalah keberuntungan besar bagi Fabricio Bova. Jika tidak ada Nathan yang menolongnya maka sekarang dia akan tinggal nama.
Tapi di setiap kesulitan besar terdapat peluang besar juga. Kali ini dia didukung Nathan yang nampaknya punya dana tak terbatas entah dari mana berniat membuat Italy bergoncang, dan ingin membuat salah satu perusahaan Gianni jatuh,seperti katanya teman Guilio ini punya kepentingannya sendiri. Dia bertemu langsung dengan Pamannya membahas apa yang terjadi di NYC. Stella yang ikut dengannya menjelaskan secara rinci rencana mereka untuk menjatuhkan Gianni dan perusahaannya.
“Ini Stella, dia penghubung Nathan Garcia, orang yang sama yang membantuku di penculikan Valentina.”
"Kau datang dengan rencana matang Nona, bahkan kau hanya penghubung. Siapa sebenarnya bossmu?" Stella hanya tersenyum.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa menjelaskan sampai kesana. Yang penting dari rencana ini adalah kepentingan kita sama, dan yang lainnya bisa disesuaikan kemudian. Sebagai tambahan kami hanya ingin berhubungan dengan Anda, Tuan Nathan tidak ingin dia terlihat sama sekali." Stella menambahkan keterangan tentang kerjasama mereka.
“Baiklah, kami memang berhutang pada Anda karena menyelamatkan nyawa Bova. Terima kasih untuk itu. Semoga di masa depan kita tidak di posisi saling berhadapan. Baiklah, jika ingin membuat kerusuhan kita lebih baik datangi biang yang bisa membuat kerusuhannya. Dia mau membunuhmu? Aku sudah memperingatkannya. Ayo kita buat akhir hidupnya lebih menderita lagi, sampai dia tidak bisa bangkit lagi."
Mereka bertemu dengan Antonio Segni, yang kali ini langsung kagum dengan semua bukti yang di pegang Bova. Kali ini Stella tidak ikut, dia hanya menemani Bova sebagai assisten. Karena Nathan tak mau dia terekspos begitu jauh. Dia hanya mau berhubungan dengan Bova, tidak yang lain. Undercover adalah lebih baik baginya.
"Kau benar-benar sesuatu Fabricio Bova, aku kagum bagaimana kau bisa merencanakan ini begitu detail, dan bagaimana kau bisa mendapatkan dokumen luar biasa ini."
"Saya punya teman Tuan yang ingin membuat masalah dengannya , dan nampaknya keinginannya bisa membuat Anda merasa beruntung. Entah bagaimana Gianni ini nampaknya sangat senang menyinggung orang-orang di luar sana. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi teman saya tidak bercerita secara menyeluruh soal motivasinya dan saya pun tidak bisa memberitahu siapa dia pada Anda. Tapi dia akan menyediakan dukungan penuh pada rencana kita."
"Baikah, kita lakukan ini, tak mungkin aku melewatkan kesempatan untuk mengoyahkan posisi orang kuat grup lawan. Ini adalah kesempatan yang sangat baik. Aku ambil data ini, ada orang yang lebih ahli akan mengurusnya.”
\=======***=========
"Fabricio Bova?" Giovani Gianni melihat siapa yang masuk ke restoran itu, bagaimana mungkin orang itu muncul disini. Sementara orang khusus yang disewanya melaporkan dia masih di NYC dan belum menemukan cara mendekatinya. Orang yang dibayarnya sedang berusaha mencari cara untuk melenyapkannya di NYC, kenapa dia malah melihatnya makan siang di restoran ini bersama seorang wanita siang ini? .
Tadi pagi laporan masih sama. Tapi siang ini dia muncul di Milan? Ada apa sebenarnya dengan laporan orang itu. Dia merasa harus meneleponnya lagi sekarang, apa orang itu menipunya.
Fabricio Bova sengaja muncul disini. Dia tak sengaja lewat di restoran ini dan melihat orang tua itu masuk bersama pengawalnya. Dia sengaja memutar dan memutuskan untuk ikut bergabung makan siang bersama Stella. Dia ingin memberi permainan psikologis pada orang tua ini. Fabricio Bova melihat ke orang tua itu yang umurnya sama dengan Pamannya itu, orang tua itu melihat dengan penasaran tapi kemudian memalingkan muka seperti orang yang tertangkap bersalah melihatnya.
Jadi sekarang dia mendatanginya sekalian menyapanya.
"Tuan Gianni, senang bertemu dengan Anda. Walaupun mungkin Anda tak senang bertemu demgan saya." Bova langsung duduk didepannya.
"Tak ada yang istimewa aku bertemu denganmu, jangan terlalu meninggikan dirimu sendiri. Kau tidak diundang disini." Giovani membalasnya dengan ketus. Fabricio Bova tersenyum dengan tanggapan ketus salah satu orang terkaya di Italia itu.
“Sihlakan pergi Tuan?” Salah seorang pengawal yang ikut dengan Giovani sekarang bicara.
“Biarkan dia aku ingin lihat dia ingin bicara apa.” Tapi Giovani merasa tak takut sekarang. Dia malah penasaran.
"Aku tidak bertanya."
"Ohh, iya baiklah Anda tidak bertanya. Saya hanya memberitahu Anda, mungkin saja Anda menerima laporan yang salah dari orang Anda." Bova terang-terangan sekarang pada orang tua itu. Giovani sekarang tahu pasti telah terjadi sesuatu di NY melihat reaksi Bova kemungkinan orang yang dia kirimkan ini sudah ditangkap. Tapi dia mengirim pesan bukan dengan ponsel yang terdaftar atas namanya. Lagipula pesan itu adalah enkripsi, kemungkinan itu dibuktikan adalah kecil. Tapi bangsat ini tahu apa yang dia lakukan dan ini membuatnya gentar sekarang.
Berbagai pikiran sekarang berlalu lalang di pikiran Giovanni Giani.
"Aku tidak meminta laporan apapun tentangmu. Jangan kita dengan kau bisa mempecundangi adikku kau bisa menganggapku remeh juga. Satu saat kau akan meminta maaf dengan menangis darah di depanku."
"Tuan Gianni, Paman saya pernah memperingatkan keluarga Anda beberapa waktu yang lalu, cukup adalah cukup, tapi nampaknya bagi Anda, tak ada yang bisa lebih berani dan kuat dar Anda. Anda kepala keluarga. Sekali Anda ikut tersuruk keluarga Anda seluruhnya akan ikut terpuruk. Anda lebih baik sangat berhati-hati mulai sekarang."
"Kau mengancamku anak muda?”
“Mengancam? Anda mengirimkan seseorang untuk membunuh saya.” Sesaat Giovani terdiam, jadi benar dia tahu dan mungkin orang itu sudah mati?
“Omong kosong.”
“Orang Anda sudah mati. Akan datang saatnya giliran Anda.”
“Kau berani?!” Orang tua itu naik pitam mendengar Fabricio Bova berani mengancamnya.
“Tuan Gianni. Jika aku membidik seseorang, aku pastikan dia tak akan lolos. Kau memicu perang terbuka? Kau mungkin punya uang banyak, tapi uangmu akan jadi kuburanmu sebentar lagi.”
“Kau memang perlu dihajar!” Tiga pengawal mendatangi Bova dengan cepat. Tapi Stella juga datang. Pengawal pertama yang ingin mencengkaram kerah Bova, di hajar oleh bogem mentah serangan kedua datang dan diantisipasi dengan baik oleh Bova. Stella bergerak cepat gadis itu membereskan satu orang lainnya, walaupun kekuatannya tak sebesar bossnya Bova, tapi dia sebagai assisten tidak mempermalukan orang yang sekarang disebut bossnya itu.
Tiga orang terkapar. Bova duduk kembali didepannya sambil merapikan bajunya. Gianni terbelalak ketakutan sekarang.
“Tuan Gianni, jika saya mau nyawa Anda sekarang, saya bisa melakukannya. Tapi tentu saja saya tak sebodoh itu mengotori tangan saya sendiri. Jadi sekarang Anda lihat saja bagaimana saya menyelesaikan urusan ini. Anda sudah mati bagi saya. Tadinya saya tidak berniat memulai masalah, tapi karena Anda yang mengirimi saya pembunuh, maka saya akan membidik Anda dengan senang hati.”
Setelah berkata begitu, Fabricio Bova berjalan pergi. Stella mengikuti bossnya itu dengan tenang. Fabricio Bova melirik assisten yang berada disampingnya itu dengan penasaran.
“Nona Stella, kau minta gaji berapa? Tertarik bekerja denganku?” Stella meringis lebar.
“Tuan Bova, Anda sangat memuji.” Bova hanya memuji kerja gadis itu. Dia tahu Stella tak mungkin mau terperangkap di Milan. Dia biasa menjelajah dunia bersama Nathan Garcia.