
Aku pergi dari depannya ke ruang tengah! Kesal, ingin menangis, apa dia menolakku? Kenapa dia begitu tega. Aku datang kesini dan dia pindah kamar!
Aku akan kembali saja besok! Aku kesini bukan menerima ini.
Dia tak keluar kamar, mungkin dia mandi lalu tidur disana, aku duduk di depan televisi dan berniat tidur disini. Jika dia tidak mengerti hal ini aku akan membencinya.
Tak lama dia keluar dengan rambut masih lembab, wangi shampoonya mencapaiku, aku tak berniat melihatnya, mataku ke televisi yang menayangkan migrasi paus! Kenapa aku ke Milan hanya untuk menonton tayangan paus tidak jelas ini! Paus jelek!
"Cara..."
"Hmm..."
"Apa kau marah?" Dia bertanya karena dari tadi sikapku langsung berubah, siapapun bisa menyadari itu, aku sedang kesal!
"Tidak, aku mau tidur saja." Sekarang aku langsung beranjak ke kamarnya berniat tidur disana dan membiarkannya tidur di kamar tamu. Yolanda saja tahu menempatkanku dimana, tapi dia malah berniat tidur di kamar lain! Keterlaluan!
"Cara, tunggu dulu..." Dia menyusulku. Tapi aku tak menunggunya, aku mau membanting pintu didepannya! Dia menahan pintu yang akan kututup.
"Apa lagi!?" Nada tinggiku membuatnya sedikit kaget. "Pergilah!" Mataku memanas, aku ingin memangis karena kelakuan bodohnya.
"Tunggu dulu. Kenapa kau tiba-tiba marah?"
"Pikirankan sendiri!Sana pergi? Kau menyuruhku tidur bukan!" Dia memaksa masuk, membuatku tak bisa menutup pintunya.
"Kau marah karena aku menyuruhmu tidur?"
"Kau bodoh!" Aku tambah kesal dan mendorongnya keluar. "Sana keluar!"
"Aku memang bodoh. Baiklah, kita bicara sampai jam berapapun kau mau... Aku salah berkata begitu, jangan marah padaku. Kau sudah jauh-jauh datang kesini, memasak untukku, aku malah membuatmu marah. Maafkan aku. Akan kulakukan apapun untuk membayarnya." Dia tetap tidak mengerti! Dasar bodoh!
"Aku membencimu paus bodoh!" Aku memukul dadanya karena kesal dia tidak mengerti. Dia menerimanya dan memelukku.
"Aku hanya mencintaimu, aku bersalah..., katakan bagaimana kau ingin aku membayarnya akan kulakuan apapun untukmu." Aku mendorongnya lagi, tapi sekarang dia tak mau melepasku.
"Cara... " Aku terus meminta melepaskan diri, tapi dia tak memberiku kesempatan, dia tambah erat memelukku. "...aku minta maaf, jangan suruh aku pergi. Untuk apapun aku bersalah padamu aku akan memperbaikinya...." Aku menatapnya masih dengan kesal.
Tangannya mengapai tengkukku dan mengunciku sekarang, dia menciumku begitu saja. Aku menolaknya karena masih kesal tapi dia tetap disana, menungguku memaafkannya.
"Maafkan aku, aku tidak akan menyuruhmu tidur..." Aku memberontak mendorongnya, tapi dia mengunciku disana, menciumku untuk meminta maaf.
"Kau jahat..."
"Aku salah, maaf. Jangan usir aku." Aku terbawa sekarang, penolakanku mengendur,...tanganku memeluk erat tubuhnya, menginginkannya memperlakukanku seperti kekasihnya.
"Aku kekasihmu, kenapa kau..." Dia menciumku lagi membuatku bungkam. "Kau memang kekasihku yang paling berharga, kau tahu itu..." Dia memelukku begitu erat seakan sangat menginginkanku, menekanku ke dinding, dirinya di bawah sana terasa sekarang menekanku membuatku melenguh.
Dia menginginkannya, dia menginginkanku. Aku memeluknya, celana tidurnya yang lembut itu membuatku bisa merasakannya dengan jelas. Aku menekankan diriku padanya, sangat menyukai ketika dia menekanku kembali...
"****! Cara..." Lenguhanku membuatnya tak sabar.
"Please..." Aku sangat ingin dia. Aku ingin dia melakukannya.
"Aku sangat menginginkanmu Cara." Dia mem*angut leherku, menekanku ke dinding dengan dirinya yang sudah menegang sepenuhnya...
"Disana, lagi,..." Tubuhku ketagihan sensasinya, aku mencarinya, aku ingin disentuh lagi dan lagi. Desahanku terlepas saat dia mengabulkannya.
"Kau ..."
"Guilio..." aku menyebut namanya dengan putus asa. Menyisipkan tanganku menyentuh kulitnya untuk yang pertama kali.
"Apa aku boleh tidur disini malam ini..." Dia berbisik di telingaku.
"Boleh." Mendengar jawabanmu dia menciumku dalam, menekanku dalam dan membuatku terlalu menginginkannya lagi.
Dia membawaku ke bednya, membuat kami leluasa saling mencium, menyentuh dan memandang satu sama lain. Untuk pertama kalinya aku melihatnya, seluruh dirinya dan merasakan dia memuja tubuhku. Melepaskan semua yang menghalangi kami.
"Kau se*x*y..." Dia tersenyum mendengar pemujaannya dan meman*ggut bibirku.
"Kau membuatku tak bisa menahan diri Cara, kau mau ini..." Aku mengelinjang kegelian saat merasakan sesuatu ingin menyentuhku, tapi dia menahannya, aku ingin mengapainya, membuat diriku menyambutnya , tapi dia menahan tubuhku disana, napasku dan napasnya tertahan.
"Please Guilio, ..."
"Aku juga sangat menginginkanmu Cara..." Dia mengendalikan permainan, mengunciku dibawahnya, menggodaku, tapi tidak melakukannya. "Cara, aku mencintaimu..." Dia menyiksaku, aku sudan menginginkannya teramat sangat tapi dia menghentikan dirinya.
"Kau menyiksaku balena bodoh!"
"Katakan kau mencintaiku..." Dia tersenyum melihat ketidaksabaranku.
"Aku mencintaimu..." Bersamaaan dengan itu dia membuat dirinya memasukiku, aku mengerang panjang. Dia bergerak pelan, aku memejamkan mataku menikmati sensasinya, menikmati penguasaannya atas tubuhku.
"Cara, jangan membenciku setelah ini..."
"Apa maksudmu..."
"Apa kau berpikir aku bren*gsek setelah aku membuatmu berada dibawahku, aku sangat menginginkanmu. Menahan diriku sangat menyiΔ·sa, pikiranku sudah kemana-mana."
"Jadi itu yang terjadi. Aku yang salah..."
"Please... fa*ster." Tubuhku menegang, aku didorong ke ujung pelepasan, Guilio memberiku apa yang kuinginkan, aku meledak, mengejang dibawahnya, memeluknya erat.
"Yes Honey..." Dia memberiku kesempatan menikmatinya. Tapi dia tetap disana. Kontrol apa yang dimilikinya, dia memang penakluk.
"Itu luar biasa...kau luar biasa." Aku memujinya atas apa yang dilakukannya padaku. Dia tersenyum dan membelai rambutku.
"Cara, aku belum selesai..." Kali ini dia menguasaiku lagi, membuatku terguncang lagi, kali ini lebih tajam, lebih cepat. "Kau basah sekali sayang. Fu*ck ..." Aku terlempar lebih cepat karena kata-kata pemujuaannya. Kali ini dia menyelesaikanku, hentakan pinggulnya erangannya membuatku merasa dia memilikiku.
"Guilio, itu didalam..." Dia tidak melepasku dan melihat mataku.
"Aku tak takut resikonya. Tapi jika kau belum siap, kau bisa mengambil tindakan pencegahan, aku punya pilnya. Maaf Cara...." Dia masih mengatur napasnya. Ketika dia melepasku dan berguling ke sampingku kehangatannya dibawah sana masih terasa. Aku tersanjung ketika dia mengatakan siap mengambil resikonya.
Bertopang dagu aku melihatnya. Dia membalas tatapanku. Sesaat kemudian merengkuhku dalam pelukannya dan ciuman kecilnya mengapaiku.
"Maaf... aku membuat kekacauan Cara." Aku tersenyum.
"Kau begitu yakin dengan ini?"
"Kita sudah bersama dua puluh tahun Cara. Apa yang belum membuatku siap? Tapi aku juga tahu kita perlu waktu mempersiapkannya, menikmati hubungan kita, mungkin bersikap lebih jujur lagi, hanya tadi aku ingin saat pertama kita sempurna..." Pengakuan yang begitu manis, aku tersentuh.
"Kau manis..." Aku tertawa kecil.
"Aku takut ingin memilikimu, temanku bilang kau akan menendangku jika aku melakukannya padamu terlalu cepat, menganggapku brengsek. Aku bersedia menunggu selama yang kau inginkan, ...tapi ternyata itu membuatmu marah. Maafkan aku... kau sudah susah-susah datang kesini, membuat makan malam, aku malah membuatmu marah."
"Kau sudah membayarnya dua kali..." Dia tertawa dan merengkuhku erat, kali ini menciumku lagi.
"Kau menyukainya Cara..."
"Ehmm... iya." Dia tersenyum senang.
"Aku mau pilnya?" Dia melihat mataku.
"Aku belum siap jika ini terjadi Guilio, kau mengerti maksudku, bukan aku tak ingin ini."
"Aku sangat mengerti, aku hanya mengatakan aku memberimu pilihan, bahwa aku yakin pada kita, aku juga ingin memberikan yang terbaik untukmu." Dia manis sekali malam ini, beluna ini tahu membuatku tersanjung.
"Aku mencintaimu... " Memandangnya sedekat ini, membuat dia menyayangiku, tak pernah ada dalam pikiranku. Tapi tiba-tiba ini terjadi. Dia menatapku untuk kata-kata itu.
Membuatnya mencium singkat bibirku sekali lagi.
"Aku kadang merasa bersalah tidak menyadari keberadaanmu, aku selalu kembali padamu tapi kau tak pernah sadar kau yang aku butuhkan, aku perlu bertemu seorang Geisha bijak yang mengatakannya padaku."
"Pacar temanmu itu Geisha..."
"Iya. Kita harus berterima kasih padanya nanti. Jika dia menikah kita akan kesana. Ke Kyoto..."
"Hmm...kita akan berterima kasih padanya." Aku tersenyum.
"Sayang, apa kau pernah patah hati padaku? Apa kau pernah mengharapkanku..." Aku tersenyum. Entahlah dulu kukira, siapapun tahu dia tampan.
"Aku...merasa kau memanfaatkanku, saat kita dulu bertemu di high school, tapi aku tahu gadis-gadis di sampingmu terlalu menyilaukan, semangkin kesini aku terbiasa menganggapmu teman, karena kau juga menceritakan kebrengse*kanmu aku lama-lama jadi tidak mengidolakanmu lagi, ..." Dia tertawa. "...kau memang breng*sek, tapi kau teman yang loyal dan jujur, setia kepada temanmu, aku tidak menyesali pertemanan kita selama 20 tahun ini... Aku benar-benar punya teman terbaik yang tak pernah meninggalkanku." Aku menyentuh dadanya yang bidang menjalankan jari-jariku di kulitnya. Sekarang aku bisa menyentuhnya... Dia terdiam saat aku menyentuh area sen*si*tif di dadanya.
"Tapi kenapa kau sekarang jadi teman tidurku...." Aku mencium dadanya, mengulumnya, merasakan dirinya terbangkitkan lagi dibawah sana. Dia berga*irah karena aku ... Sekarang aku yakin aku adalah wanitanya. Aku cantik seperti dia terbangkitkan oleh wanita lain...
"Balena,... kau mengera*s lagi." Aku menatapnya dengan senyum kecil.
"Kau yang membuatku begini." Dia merengkuhku lagi, menciumku dengan paksa ketika aku pura-pura menghindar, ganti mengulumku sebagai hukumannya, ini panas.
"Balena, aku mau mandi..." Ini panas dan aku berantakan dibawah sana.
"Cara mio, kau yang memulainya, kau harus menanggung akibatnya, kau yang mengulumku sampai meng*era*s, jangan memulai jika kau tak ingin menanggung akibatnya, aku akan menyelesaikan ini bersamamu, lagipula kau membuatku menunggu berbulan-bulan ..." Kali ini dia tak menunggu, dia memposisikan dirinya siap untukku. Aku mencoba melepaskan diri dari balena yang terlalu bersemangat ini.
"Balena ini lengket..." Aku tertawa karena dia melekat tak mau melepaskanku. Tapi aku merasa tak nyaman...
"Begitu? Lengket. Aku punya caranya..." Dia menarikku ke kamar mandi, meman*dikanku sekaligus menggodaku. Membuat aku menginginkannya lagi, aku tak tahu mandir bisa begitu se*xy, kali terengah karana dia menguasaiku begitu cepat, membantingku ke bednya lagi. Kali ini tak memberiku ampun, menunjukkan dirinya yang suka memaksa dan mendominasi...
"Guilio..." Aku menyebutkan namanya lagi malam itu dan untuk kali kedua dia mengerang diatasku tapi sekarang dia tak melakukannya di dalam.
Mataku terpejam... Aku lemas, setelah gelombang yang menderaku berulang kali, dia membersihkan apa yang dilakukannya padaku. Membuatku memakai kaus besarnya, menyelimutiku, membuat aku menatapnya sebelum tidur.
"Balena, kau hebat. Aku mencintaimu. .." Dia tersenyum senang.
"Tidurlah Cara...Besok waktu kita masih panjang." Sebuah kecupan di kening membuatku terpejam dengan bahagia dan tersenyum sebelum tidurku.
Ternyata malam ini aku tak tidur sendiri.
Balena ini menjadi teman hangat disebelahku.
Aku mencintaimu Balena...
πππππππ
Baca sekarang, kalo gak akhir bulan bisa ilang ini wkwkwkwk
Bonus π³π³π³π³π³π³π³π³