
"Setsuko-san, aku suka gayamu!" Kakek tua ini ternyata di pihakku. Aku tersenyum lebar padanya. "Yang dikatakan Setsuko-san benar, jika seorang pria mau memiliki sepenuhnya waktu dan pikiran seorang wanita, dia harus bersikap pantas. Tambahkan itu ke detail perjanjian Tuan Hiroka, yang dimaksud mendampingi spesifik adalah acara resmi dan berkumpul dengan kolega. Tidak ada kewajiban mendampinginya berdua secara personal." Tuan Hiroka menambahkan di kertas perjanjian dengan tulisan tangan dan kami menandatangani kembali perjanjian itu.
"Terima kasih sudah menyetujui saya Tuan Yamada."
"Kau bekerja padaku Setsuko-san, bukan ke Hisao, jika dia mencoba sesuatu yang tidak menyenangkan bagimu, aku akan memastikan dia mendapat pelajaran, dan jika dia kehilangan bantuanmu, aku juga akan menyerah membantunya." Tuan Yamada tampaknya cukup senang bisa bekerja sama denganku memojokkan cucunya sendiri.
"Saya mengerti Tuan Yamada. Tuan Hisao, saya senang bisa membantu Anda." Aku tersenyum menang, tapi wajah Hisao kaku. Nampaknya dia tidak terbiasa jika wanita bisa menaikkan daya tawar melalui konfrontasi langsung di depan mukanya.
Jangan tersinggung Tuan Hisao. Ini bisnis, bukan personal. Kakekmu yang meminta bantuanku. Kau jelas tidak bisa memaksakan kehendakmu padaku atau aku akan mengadu ke Kakekmu.
"Kalau begitu saya punya permintaan khusus." Tiba-tiba Hisao bersuara. Sekarang rupanya dia berniat membalasku.
"Saya mendengarkan?" Aku menantangnya.
"Saya tidak ingin warna busana selain hitam dan putih selama Anda mendampingi saya." Hmm... kau pikir kau akan menang. Kau akan tahu bagaimana kemampuanku dengan hanya dua warna itu.
"Diterima." Aku tersenyum dengan sombong.
Tuan Yamada tertawa mendengar percakapan kami.
"Kurasa kalian akan jadi partner yang hebat." Dia tersenyum lebar padaku. "Setsuko-san, jangan mau kalah padanya." Sekarang dia berbisik padaku.
"Tuan Yamada, kapan saya pernah mengecewakan Anda." Dan entah kenapa aku menjadi gembira kemudian melihat Tuan Yamada percaya padaku. Mendapat pengakuan dari orang yang sudah berpengalaman membuatku senang.
Tuan Yamada dan yang lainnya pergi kemudian meninggalkan aku dan Hisao dalam ruangan. Kali ini aku menunggunya bicara. Kurasa aku sudah cukup mengambil bagian kesenanganku.
"Setsuko-san, lain kali jika bersamaku lebih baik kau singkirkan double-facemu itu. Pembicaraan penuh kesopananmu itu membuatku terganggu sebenarnya."
"Anda tidak pernah berada di posisi saya Hisao-san. Saya hanya berupaya tidak menyinggung siapapun."
"Saya akan mengingat itu. Saya minta maaf jika membuat Hisao-san tersinggung..."
"Benarkah? Kalau begitu jawab pertanyaanku. Apa kau menyukaiku sekarang?" Dia melipat tangannya menantangku.
"Menyukai apa maksudmu?" Aku menatapnya balik.
"Kenapa kau berputar-putar menjawab satu pertanyaan saja? Aku sudah bilang aku menyukai orang yang terbuka... Itu pertanyaan sederhana, aku sudah tahu jawabannya, kau tak perlu berputar-putar didepanku."
"Tidak." Aku menjawab singkat. Aku tidak menyukainya tentu saja. Setidaknya untuk sekarang.
"Itu lebih baik." Dia tersenyum kecil. "Kau lebih menyukai tipe-tipe Derrick Tan bukan."
"Saya kira itu bukan urusan Anda." Dan aku tidak bersedia menjawab pertanyaan pribadi. Dia ingin aku terus terang. Baik, aku akan menjawabnya terus terang.
"Hmm... kau benar, itu bukan urusanku. Kakekku sangat memandang tinggi dirimu. Kita lihat nanti sampai dimana dia benar."
"Assisten-ku akan menghubungimu nanti. Ingat aturan yang kuberikan padamu hanya hitam dan putih." Dia bangkit dari duduknya.
"Dimegerti." Aku membungkuk mengantar kepergiannya.
Dia sangat tidak menyukaiku.
_____
Hari ini 2 dulu yaa besok aku banyakan
Jangan lupa tetep vote like dan komen
Makasih semua