
“Sudah dia sudah hampir deal, harganya pun bisa kuterima kukira...” Aku menyebutkan harga yang didapat Fabian dan membicarakan perhitungan penambahan penyertaan modal yang kami akan bicarakan nanti.
“Bova ini, apa dia berniat ikut campur dalam manajemen.”
“Oh tidak, dia punya banyak usaha lain sepertimu. Dia punya investasi pub dan restaurant di Catania, ...”
“Ohhh begitu. Berapa usianya, aku lupa bertanya kemarin?”
“36, ...” Matang dan mematikan. Pikiranku menyebut itu sendiri.
“36?! Ohhh dia masih muda? Kupikir aku akan berhadapan dengan orang tua, ternyata umurnya tak jauh?”
“Hmm... dia masih muda.” Dia memperhatikanku.
“Kutebak dia tampan.”
“Lebih tampan darimu.” Guilio langsung meringis lebar dengan perkataanku. “Kau tahu, kemarin Raoul datang kesini dengan menyebalkan, dia berani mencoba memelukku, dia memberikan bogem, mematahkan hidungnya, dia mengancamnya, bahkan bisa menangani senjatanya, astaga dia keren sekali...” Aku bercerita dengan seru tentang apa yang dilakukannya.
“Ohhh, benarkah. Kau nampak terpesona padanya. Ehm, Monica...”
“Apa?”
“Aku tak semurah kau Guilio,...” Sekarang Guilio tertawa keras dengan sindiranku. Mengakibatkan gadis-gadis menatap iri padaku lagi. Tunggu sampai makan malam, akan lebih banyak lagi dari mereka menatap iri Casanova dan Don Juan dimejaku.
“Baiklah-baiklah aku sangat tertarik seperti apa Bova ini.” Dia masih tersenyum melihatku, seakan aku sudah melakukan kejahatan yang kusembunyikan.
“Hmm, kau akan bertemu dengannya sebentar lagi, aku sudah bilang kita meeting jam lima.” Melihatnya disini aku tertarik mengerjainya. “Guilio, kau masih terikat sumpah selibatmu?” Aku bertaruh dia sudah mematahkannya.
“Masih, aku masih belum punya pacar baru. Aku belum mendapat pencerahan.”
“Pencerahan, benarkah?” Aku meringis tidak percaya. “Kau berbohong jangan kelewatan padaku, sepertinya itu terlalu bagus untuk kupercayai.”
“Aku berani bersumpah untuk siapapun yang kau inginkan. Bahkan demi Ibuku...” Dia membuatku mengerutkan alis sekarang. Sebuah keajaiban melihat Casanova ini kembali ke jalan yang lurus. Antara keajaiban atau dia memang putus asa. Baiklah, mungkin ini saatnya dia berubah, manusia mungkin harus berubah.
Tak menunggu lama aku menerima pesan Fabian sudah sampai. Aku minta dia bertemu di café, sementara aku pegawaiku telah menyiapkan ruangan pribadi untuk kami. Fabian sampai dan langsung menuju café. Untuk kedua kalinya mengakibat mata-mata para wanita mengagumi kedatangannya. Kurasa mereka sudah terbiasa untuk diperhatikan sebagai model seperti ini.
“Ahhh, ini rupanya Tuan Fabricio. Monica sering bercerita tentang Anda, akhirnya kita bisa bertemu.” Apa maksudnya kalimat aku sering bercerita, dia sengaja nampaknya.
“Saya harus minta maaf soal Alida, jika dia menyusahkan Anda lagi dimasa depan. Sihlakan lakukan apapun untuk menanganinya, dia memang pembawa masalah di keluarga kami.”
“Sudahlah, kita anggap saja masalah itu sudah berlalu brother. Sekarang kita bicara bisnis saja, ini agar Monica bisa merencanakan segala sesuatunya....” Dimulailah pembicaraan serius sore itu. Aku mengagumi mereka, bisa berbicara di level yang sama, pertemuan ini efektif,tidak melengceng kemana-mana, membentuk gambaran visi besar, berhasil menyepakati jumlah dan goal-goal yang harus aku capai sebagai pelaksana, terutama aku harus tetap fokus kebisnis restaurant, penginapan plus perkebunan karena winery sendiri mungkin baru akan menghasilkan tiga tahun setelah penyulingan pertama.