The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 20. One Step Forward 1



"3.3 juta dollar?! Kau yakin kau menyebutkan jumlah yang benar?!"


"Saya yakin, semua bukti sudah saya serahkan ke Tuan Alan. Buktinya jelas, dia tidak mungkin menyangkal...dari bulan pertama lounge dibuka dia sudah melakukan penggelapan."


"Bagaimana mungkin..." Nathan kehabisan kata-kata sekarang, dia tak menyangka orang yang dianggapnya teman itu bisa menggelapkan jutaan dollar dari  bisnis yang  belum genap berumur tiga tahun itu.


"Aku akan kembali ke apartment, aku ingin laporannya sekarang juga. Minta Alan menemuiku di apartment? Kalian juga." Nathan berjalan pergi begitu saja meninggalkan aku dan Louis. Dua orang pengawalnya mengikuti dia dengan cepat.



"Teleponlah boss-mu, dia akan meledak jika kita berlama-lama. Ayo, kita pergi bersama, ikut mobilku saja."


Kami bergegas kemudian ke apartment Nathan setelah aku menelepon Tuan Alan untuk bergabung. Ini adalah kali pertama aku ke apartment Nathan.


"Apa hubungan Nathan dengan Enrique? Kenapa kelihatannya dia sangat kecewa?”


“Bisa dibilang mereka itu teman masa kecil yang bertemu lagi sekarang di NY. Nathan dan keluarganya berasal dari Chicago.” Kurasa apa yang kucari ada di Chicago, group perusahaan yang lebih kecil, mungkin dijalankan dengan nama orang  ketiga, perusahaan dimana tempat perputaran uang yang kami curigai.


“Enrique 3 tahun lalu pernah bangkrut, usaha pubnya bangkrut, dan saat itu Ibunya sedang sakit. Dia menolongnya. Dia percaya Enrique tidak akan mengkhianatinya tentu saja, Enrique mungkin berhutang segalanya kurasa. Tapi  aku juga entah kenapa tak pernah percaya pada Enrique, walau aku tahu dia melakukan pekerjaan yang baik... intuisiku terbukti. Aku yang mendorong namanya masuk ke audit pertama.”


“Begitu rupanya. Hatinya pasti dalam suasana buruk sekarang.”


Kediaman itu bukan  apartment tepatnya, tapi townhouse 4 tingkat modern di West Village, ini memang kediaman orang kaya, lingkungan  para milyuner di upper side NY, disamping Hudson River. Mengambil parkir disisi jalan kami masuk ke dalam, mobil Nathan sudah  terlebih dahulu disana bersama mobil pengawal.


Kami melewati pintu pertama ruang tamu luar, dimana para pengawal dan sopir berada. Satu orang pegawai rumah  tampak ada disana dan mengenali Louis, memberi tahu Tuannya bilang jika semua orang sudah datang diminta berkumpul di ruang kerja,  kami masuk ke ruang duduk kedua. Ruangan monokrom yang didominasi warna coklat muda dan putih itu tampak elegan.


“Kita menunggu Alan disini saja, sebelum masuk ke ruang kerja.”


“Tuan Nathan akan marah pada kita?” Aku membayangkan dia akan menyalahkan kami.


“Enrique mengakali pembukuan, kita bukan orang yang harus disalahkan, kita menemukan kesalahan  itu.” Tiba-tiba di ruang tamu depan ada keributan. Suara seorang wanita ribut mencoba masuk ke ruang tamu kedua tapi dihalangi John dan pengurus rumah.


“Nona, Anda dilarang masuk.” Aku melihat siapa ternyata itu Amanda pacar Nathan sebelumnya.


“Aku ingin bertemu Nathan. Mobilnya ada didepan.”


“Tuan Nathan tidak ingin bertemu Anda lagi, dan barang-barang Anda sudah dikeluarkan dari sini. Saya minta maaf tapi Anda tak bisa berada disini.” Rupanya Amanda tinggal bersama Nathan sebelumnya. Nampaknya perpisahan ini sangat rumit. Bayangkan  mengeluarkan barang-barang gadis itu, mungkin diperlukan jasa pindah  rumah dan sudah pasti sangat memukul. Kurasa Nathan bukan  pria yang menghabiskan waktu dengan wanita sembarangan.