
Berminggu-minggu kemudian, tak ada masalah lagi, sementara panen mencapai puncaknya dan kami akan merayakan minggu liburan besar di 1 November Tutti i Santi (Hari Santa dan Santo) dan 2 November All Soul Day ( Hari untuk mengingat mereka yang meninggal), cottage dan penginapan dengan kapasitas hanya 200 orang ini full book dalam minggu ini.
Aku dan Ibu sibuk dari pagi sampai malam, walaupun aku merasa manager dan pegawaiku loyal, sistem kami sudah baik, tapi aku tetap harus memastikan semuanya berjalan lancar dan menangani personal para tamu, kehangatan keluarga yang selalu mereka ingat untuk kembali. Salah satu pesan Ayah yang selalu kepegang.
Aku iseng melihat list tamu, sebuah nama menarik perhatianku , Fibricio Bova... Bova? Family yang disebutkan oleh Alida, Fibricio Bova ini kenapa dia disini? Berniat menuntut balas atas 20.000 euro itu? Aku melihat masa tinggalnya, 3 hari? Dia disini tiga hari?
Apa dia mau membunuhku secara khusus? Keluarga mafioso Bova ingin mengambil nyawaku karena 20.000 uero? Yang masalahnya mereka buat sendiri? Mana Fabricio Bova ini. Aku ingin bicara padanya.
“Kau tahu Fabricio Bova ini, Mar?” Aku bertanya kepada seorang manager bernama Marianna.
“Fabricio... Tentu saja tahu.” Aku mengangkat alis kepadanya, kenapa dia seperti artis.
“Ohhh... Kenapa kau seperti hafal di luar kepala, apa dia semacam artis?”
“Karena dia super hot Nona, dia sepertinya kaya, mobilnya Maserati Nona. Aku kebetulan datang waktu dia mendaftar, dia tidak memakai voucher diskon sama sekali, hanya datang dan menyewa villa termahal, diatas bukit sana. Tapi siang dia tidak tinggal, seperti dia ada pekerjaan, dia hanya sampai jam 10, berjalan-jalan dikebun, lalu malam di makan malam dia kembali selama dua hari ini.”
“Ohh ya?” Marianna sampai hafal kebiasaannya, se-hot apa pria ini dan apa dia ada hubungannya dengan Alida. Baiklah, mungkin dia tidak berniat membunuhku, tapi kenapa dia disini secara khusus. Aku penasaran.
“Nona, itu orangnya, mobilnya baru kembali. Kurasa sebentar lagi dia akan ikut makan malam. Akan kutunjukkan orangnya padamu Nona nanti di makan malam.” Aku melihat mobilnya, melewati kami dan menuju wilayah villa khusus kami di ujung bukit sana.
Makan malam yang ramai, kami mengelar meja di depan restoran untuk menampung tamu, memasang dekorasi romantis tambahan, paving tambahan di halamannya. Restoran ini menghasilkan, ini sudah jadi restoran permanent dan terkenal di wilayah ini. Ibu tentu saja senang, di masa tuanya ini dia terkenal sebagai pemilik restoran terkenal. Juga ada kafe yang tetap buka saat kami tidak menyajikan makan siang dan malam perlu kalian tahu bahwa jam makan biasanya antara tengah hari sampai jam dua, sementara restoran utama baru buka lagi 7.30 untuk makan malam.
Banyak orang mengantungkan hidupnya di pertanian ini, entah kenapa itu kepuasan yang paling besar buatku. Dan mereka merasa ikut memilikinya, beberapa diantara mereka sudah bekerja belasan, bahkan puluhan tahun sejak ayahku masih ada, sejak aku masih kecil.
“Nona, itu dia.” Dan aku melihatnya duduk sendiri dengan tenang disebuah sudut. Ahh, sepertinya seusiaku juga mungkin lebih tua kurasa, matang, bold, rapi, terlihat dingin dan tampan. Memang tak salah Marianna mengatakan dia tampan.Hanya dengan celana jeans gelap dan baju rajutan warna gelap, dia punya kharisma Don Juan.
“Selamat malam Tuan, senang bisa menyambut Anda disini.” Aku menghampirinya saat makanan pembuka baru dihidangkan.
“Ahh selamat malam.”
“Apa saya menggangu. Boleh menemani Anda sebentar.”
“Tidak, silakan duduk. Saya malam-malam sebelumnya melihat Anda Ibu Anda selalu menyempatkan diri menyapa tamu penginapan. Anda pemiliknya bukan.” Dia cukup ramah untuk impresi pertama. Dan suaranya bisa membuatmu bermimpi terlalu dalam.
“Iya, saya pemiliknya. Monica Minetti. Apakah makanannya enak...”
“Frabricio Bova. Tentu saja, ... saya sangat menikmatinya. Pujian untuk kepala kokinya, saya rasa itu Ibu Anda.”
“Benar sekali. Banyak koki-koki lain bergabung juga, hanya beberapa hidangan terbaik mengambil resep keluarga.”
“Anda menjalankan bisnis ini Anda dengan sepenuh hari, saya harus memuji Anda.” Aku tersenyum untuk pujiannya.
“Terimakasih, biarkan saya mentraktir Anda champagne malam ini.” Aku memberi tanda ke pelayan yang mengerti apa yang aku minta jika aku mengacungkan tanda tertentu. Champagne dihidangkan dan kami bersulang.
“Saya mengenal nama Bova sebenarnya. “ Dia melihatku dan tersenyum, dia nampaknya tahu siapa yang kubicarakan.
“Bingo.”
“Apa Anda disini karena Alida sakit hati?” Dia langsung tertawa.
“Jika saya sakit hati, saya tidak memberikan pujian keorang itu.” Cukup masuk akal. Tapi aku masih menunggu. “Yang sebenarnya adalah, Alida sepupu jauh saya, datang ke saya di Palermo dan membawa beberapa orang anak buah saya, saya tidak tahu alasan dia melakukannya, lalu anak buah saya kembali dan mengatakan kepada saya mereka disutuh berbuat keonaran sebenarnya, tapi kemudian mereka berhadapan dengan Benetti, yang lebih aneh mereka berakhir dengan pasta enak dan diberi uang yang lumayan. Plus Alida langsung kembali ke Milan tanpa mengatakan apapun. Saya penasaran... karena liburan dan saya harus mengunjungi beberapa orang di sini, saya ingin melihat sendiri tempat ini dan jatuh cinta dengan tempat ini. Nah sekarang bisa jelaskan sebenarnya kenapa bisa orangku mau membuat onar malah berakhir dengan pasta luar biasa ini dan uang sogokan? Alida memang sering membuat keributan katakan kali ini apa yang dilakukannya?”
Begitu rupanya. Jadi masalah Alida benar-benar selesai.
“Ahh, hmm...baiklah. Saya akan memberitahu Anda apa yang terjadi dengan detail...”
“Dia berani mengerjai Guilio Benetti, dan berhadapan dengan madre Benetti? Astaga gadis itu berani membawa nama Bova?” Nampaknya dia terkejut. “Saya akan mengatakan pada Anda, jika dia berani mengacau lagi disini Ayahku akan membiarkannya bekerja sebagai pelayan. Dia memang pembuat masalah, ini pasti sudah membuat Anda marah...”
“Ohh tidak, saya sudah menguras kartunya. Dia boleh datang lagi.” Pria itu tertawa lepas sekarang, dan aku percaya dia tidak punya niat buruk sekarang.
“Kalau begitu percayalah Bova tidak akan mempermasalah apapun dari tindakan Anda dan Nyonya Benetti, sihlakan lakukan apapun yang Anda mau dengan dia jika dia datang lagi.” Aku tersenyum sekarang.
“Aku percaya kau tidak mencari masalah datang kesini sekarang.”
“Ohh ternyata kau sengaja datang kesini karena tahu aku Bova?”
“Aku tak sengaja melihat namamu di list tamu.”
“Aku minta maaf membuatmu khawatir jika begitu Nyonya Monica.”
“Nona, ...” Aku tersenyum kecil.
“Oh, maafkan aku. Nona Monica, jadi kau mengelola tempat ini dari Ayahmu kurasa.” Pria tampan ini bertanya lebih jauh.
“Benar sekali.”
“Kau pasti pebisnis hebat, lihat betapa ramainya tempat ini.”Dia memuji terang-terangan, aku tersenyum, aku suka orang mengakui kapasitas pekerjaan yang aku lakukan. “Saya memiliki beberapa usaha di Palermo, jika Anda ke Palermo Anda bisa mengunjungi saya. Boleh minta ponsel Anda.” Permintaan yang sedikit menggoda. Tapi memberikan nomor pribadi ke mafioso Bova ini agak berbahaya. Tapi dia menarik.
“Mungkin saya bisa mengajak teman-teman dan keluarga kesini.” Dia tersenyum. Tapi kurasa tidak, dia terlalu berbahaya, aku menghindari orang yang terlalu berbahaya.
“Anda tahu dimana bisa menemukan saya... Nikmati makan malam Anda Tuan. Terima kasih sekali lagi. Saya akan meminta seseorang mengurus diskon khusus untuk Anda saat Anda check-out.”
“Kau baik sekali Nona, terima kasih.” Sudah cukup aku memeriksa pria tampan ini. Pria killer seperti ini tak boleh didekati. Pria seperti Guilio. Dan aku pamit padanya, tak menunggu lama kulihat ada gadis lain yang bicara padanya.
Pria tampan, mereka selalu berbahaya. Jangan terlalu dekat jika tak mau terbakar.