The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 105. Beautiful Momiji Dream in the Autumn 5



Musim gugur, saat daun momiji menjadi kuning lalu coklat kemerahan dan akhirnya gugur ke tanah. Aku tak pernah terlalu menyukai musim gugur, warna matahari terbenam ini membuatku tak  nyaman. Tapi hari ini  adalah hari pernikahanku, musim gugur ini entah bagaimana menjadi pertama aku merasakan aku menjadi bahagia dan menikmatinya.


“Bibi bahagia untukmu. Sangat bahagia... Andai Ayah dan Ibumu bisa melihatmu.” Saat kerudung pengantin seperti tutup padi itu dipakaikan padaku, Bibi meneteskan air mata kebahagiaannya.


“Terima kasih  Bibi,  aku tak akan sampai disini jika tidak memegang tanganmu.” Aku memeluknya dan turut menangis di bahunya. Merasakan tangan tuaitu memelukku. Semua aturan ketat yang dia berikan untukku itu adalah untuk peganganku. Dia melakukan semua yang dia bisa untuk melihatku seperti ini.


“Kau  memang anak baik dan tahu membanggakan orang tua.  Semua  ini adalah kebahagiaan untukmu.”


“Kau akan selalu menjadi Ayah dan Ibuku Bibi. Aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri.” Walaupun aku kebanyakan akan berada di Tokyo nanti,tapi rumah keluarga kami selalu akan ada di Kyoto. Kami akan  sering berada di  Kyoto dan akan mengunjunginya.


“Tentu saja. Kau selalu jadi anak yang berbakti. Bibi percaya itu.”


Sungguh hari itu berjalan seperti mimpi, melihat Hisao berjalan dengan kimono hitamnya dan berjalan disampingku saat memasuki kuil untuk upacara khusuk itu. Walaupun hari itu melelahkan, tapi rasanya seperti pindah ke rumah baru, melelahkan tapi kau akan terbiasa akhirnya.


“Kau tahu aku tak pernah menyukai musim gugur. Aku sebenarnya berharap pernikahanku ada di  musim semi atau musim panas.” Aku duduk bersama Hisao dan memandang Kyoto yang menguning sebelum kami bersiap-siap ke resepsi malam.


“Kenapa...” Hisao bertanya sambil menggengam tanganku.


“Karena dulu aku melewati tahun-tahun musim gugur penuh kesedihan. Ibuku mengalami sakit parah  selama musim gugur,  rasanya seperti memghadapi kesedihan berlapis-lapis setiap hari dimusim gugur itu, saat akhir musim gugur dia pergi, aku menjadi beku di musim dingin. Dua tahun  setelahnya Ayahku meninggal di musim gugur. Aku ingat itu adalah titik terendah  dalam hidupku. Aku benci suasana suram musim gugur...” Dia merangkul bahuku.


“Hanii Bee... aku berjanji, mulai sekarang, kita akan berbahagia disetiap musim gugur.” Janji yang membuat mataku menghangat dan senyumku terkembang. “Kau akan menyukai musim gugur sama seperti musim lainnya. Aku percaya kita akan berbahagia.”


“Aku mencintaimu.” Dan aku bersandar padanya melihat  daun-daun momiji yang  berguguran  itu. Perasaan tak nyaman itu masih ada, tapi itu adalah  sebagai pengingat atas masa lalu. Memandang dirimu pernah di dasar dan berjalan untuk bisa naik kembali dengan kuat.


Dan mungkin dia benar, musim  gugur tidaklah selalu suram. Ada matahari kemerahan  yang hangat, daun-daun momiji yang   jatuh itu hanyalah perayaan dari kerja keras di musim semi dan musim panas yang sibuk. Bagian dari kelahiran baru dan harapan yang selalu bisa tumbuh melewati musim semi berikutnya. Kita hanya harus percaya  tidak selamanya hidup dibawah  dan melakukan yang terbaik untuk berjalan.


“Kita akan menua, sedih  dan bahagia bersama. Entah itu musim gugur atau musim semi.” Ada saatnya musim semi datang, dan kelopak sakura mekar berhamburan memenuhi langitmu. Dan tanpa kau sadari  sebenarnya kau tak pernah sendiri.


“Kita akan bersama...” Aku mengucapkannya dan melihat tatapan hangatnya.


Sebuah janji untuk melewati entah  badai ataupun pelangi. Entah  salju dingin ataupun matahari hangat.


Daun momiji masih terus berguguran. Tua, layu dan hanya akan jatuh ketanah.


Musim dingin menjelang. Putih  kelabu, meninggalkan ranting yang mengering.


Kesedihan, kebahagiaan  adalah bagian dari musim. Silih berganti membuat pahatan di pikiran manusia.


Tahunan,  puluhan, ratusan dan  ribuan  tahun lagi  momiji akan tetap menjadi layu dan jatuh.


Tapi tahunan, belasan, ratusan dan ribuan tahun lagi tetap ada pucuk hijau di musim berikutnya.


Dan pohon tua  itu tetap berdiri kokoh disana. Menjadi menua dan bahagia bersama melewati waktu dan musim yang berganti.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


...THE END AND HAPPY ENDING...


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...



Makasih banyak sudah menemaniku melewati satu bulan ini


Akhirnya Setsuko dan Hisao happy ending. Dan Oktober kita akan ke Italy. Kayanya aku mulai nulis season dua nya tanggal 1/2 Okt


Aku mau nambahin bab Alexa --- Alena dulu besok.


Jadi yang  mau VOTE hadiah tanggal 1 aja yaaa VOTE nya tetep disini untuk bulan Oktober


See you tanggal 1/2 Oktober buat season baru ketemui Guilio (masih di book ini)