The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 52. Who Are You?! 3



"Tidak. Kita hanya teman seperti katamu. Teman tetaplah teman..." Tampaknya dia suka bekerja dengan bibirnya. Aku aku hanya ingin menyelesaikan ini segera tanpa banyak bicara.


"Kau tak akan menyesali ini?" Pertanyaan yang aneh yang dilakukan sambil menurunkan helai bena*ng terakhir. Aku mengagumi pahatan tubuhnya. Aku tak ingin memikirkan perasaanku, apa yang akan terjadi biarkan terjadi saja anggap saja ini orang asing. Cas*ual se*x as friend.


"Kita melakukan ini hanya untuk pelepasan. Apa yang harus disesali?"


"Kau mengatakan itu pada temanmu sebelumnya. Tapi kau berakhir jatuh cinta padanya." Dia berbisik di telingaku. Menggodaku lebih jauh lagi, membuatku melenguh menginginkannya.


"Nathan ini hanya untuk pelepasan. Jangan membawa pembicaraan ini melebar ke yang lain. Aku tak akan menuntutmu menikahiku. Mana pengamanmu?" Aku menyederhanakan prosesnya. Yang terjadi akan terjadi cukup sampai disini. Aku bertekad begitu setidaknya.


"Aku tak punya disini... apa kau pikir aku sengaja membawa pengaman kesini dan merencanakan ini?"


Aku diam sekarang.


"Jadi dimana..."


"Di kamarku di lantai 3." Dia tersenyum kecil. "Aku bisa mengontrolnya..." Sekarang dia mengambil posisinya. Aku merasakannya sekarang.


"Tidak...Kumohon tidak." Aku berusaha menahannya.


"Kau takut sekali..."


"Nathan...tidak. Aku punya disini."


"Ohhh baiklah. Lebih nyaman tidak bukan..." Dia meringis kecil.


"Lepaskan aku, akan kuambilkan." Dia akhirnya setuju. Aku mencari di tas-ku disamping tempat tidurku dan memberikan padanya.


"Hmmm... Tyson yang harusnya menggunakannya." Dia tertawa kecil.


"Jangan mengolokku, ..."


Dia melihatku, aku melihatnya memasang pengaman itu, sangat percaya diri. Dan aku mengapai tombol lampu mengelapkan semuanya, menyembunyikan wajahku di cahaya temaram tipis lampu luar kamar.


"Kenapa... Tak boleh menciummu, dan sekarang kau suka kegelapan." Dia meraihku, aku terpejam ketika dia mencu*mbuku. Begitu sabar dan lembut , membuatku merasa diperhatikan, dia tidak terburu-buru, dengan sabar menggodaku. Aku yang tak sabar sekarang, aku membalik posisi kami, aku ingin mempercepat semuanya.


"Nat! " Dia tercekat ketika aku membalik posisi kami, menurunkan diriku mengapainya, aku memeluknya sesaat menyesuaikan diriku. Karena aku tak sabar lagi, tak ingin terlalu banyak bicara soal ini.


"Ehmm, Nathan..." Aku dengan cepat mendapatkan apa yang kuinginkan, ini sudah terlalu lama, memeluknya dengan erat dengan tubuh meremang bahagia. Dia melepas dirinya setelah dia memelukku begitu erat karena terpicu oleh eranganku.


Tak ada dari kami yang bicara sesaat setelahnya. Semua dari kami punya pikiran sendiri yang menyiksa setelah ini.


"Sekarang apa... kita teman bukan?" Aku yang mengatakan itu padanya.


"Tidak, ini cuma casual s*ex. Kita tidak membawa perasaan apapun soal ini." Teman, Agar aku tak merasa bersalah pada diriku sendiri, tak ingin merasa bersalah padanya, tak ingin terjebak pada perasaanku. "Tetaplah bersikap sebagai boss-ku, aku bukan kekasihmu. Itu tadi hanya untuk pelepasan. Tak ada yang lain..."


Dia tidak menjawab apapun soal itu. Aku tak perduli, cukup aku bisa menyelesaikan kecurigaannya malam ini.


"Kenapa?"


"Karena kita cuma teman Nathan." Aku tersenyum padanya. Berusaha menenangkan diriku sendiri, sebenarnya aku merasa ini melelahkan. Aku berusaha tidak memikirkan ini tapi nyatanya setelah ini aku pasti akan menangis.


Dia tak berkata apapun padaku setelahnya.


"Kau ingin pergi?" Dia malah bertanya padaku dan berbaring menyamping melihatku sambil menopang kepalanya.


"Terserah padamu? Kau ingin aku pergi?" Aku berharap dia berkata dia menginginkanku pergi sekarang. Setidaknya aku bisa membersihkan diriku dari kecurigaan dan hanya berusaha menjadi kamera pengawas saja.


"Tidak." Aku sedikit terkejut saat dia berkata tidak.


"Kau percaya padaku sekarang?"


"Kau tak punya sesuatu yang ingin kau akui. Sudah kukatakan padamu kau tidak akan terluka..." Dia masih belum mempercayaiku tentu saja, sekarang aku harus sangat berhati-hati.


"Pecat saja aku jika kau tak mempercayaiku." Dengan begitu aku akan pergi tanpa harus membawa beban apapun. Baik ke boss-ku di FBI atau ke Nathan.


Dia tidak bicara apapun sekarang.


"Sudahlah, anggap saja seminggu ini liburanmu." Akhirnya dia mengatakan sesuatu. Kurasa dia masih penasaran tidak mendapatkan pengakuan apa-apa dariku.


"Apa temanmu itu bisa tidur bersama denganmu malam ini?" Dia meringis dengan pertanyaannya sendiri.


"Kau mau mencobanya. Mungkin aku akan mencoba membunuhmu saat kau tidur." Aku melirik padanya.


"Kau bisa melakukannya di banyak kesempatan sebelumnya, kenapa kau harus mempersulit dirimu sampai sekarang." Sekarang dia tertawa.


"Pergilah. Kau tahu kau tak bisa tidur bersamaku."


Dia beranjak dari sampingku. Memakai kembali pakaiannya, aku menatap siluetnya dari remang cahaya lampu kamar yang baru diterangkan dimnya.


Kupikir dia akan pergi. Tapi ternyata dia kembali ke bedku.


"Apa yang kau lakukan?" Aku menatapnya tak mengerti.


"Tidur. Good Night Natalie. Tidurlah, tak akan terjadi apapun setelah ini."