
POV Bova
“Berikan gelasku.” Tangannya menjangkau gelasnya tapi aku menjauhkannya.
"Kau tak boleh minum lagi." Aku mengambil gelasnya. Dia yang kulihat adalah seorang yang punya daya juang kuat, ternyata dibelakangku menyembunyikan rasa sakitnya dengan sempurna. Tadi bahkan dia tak ingin aku tahu kenapa dia menangis, aku hanya bisa mengoreknya saat dia sedang minum.
"Aku hanya ingin menghibur diri, ini akhir tahun paling menyedihkan. Aku hanya ingin merayakannya sedikit..."
Baiklah, mungkin tak selamanya dia bisa bertahan setiap waktu. Kuakui 10 tahun adalah waktu yang lama. Entah kenapa aku sekarang memahami apa yang dia rasakan, dia disisihkan karena kekurangannya, walaupun dia memberikan semua waktunya untuk hubungan mereka. Rasanya disisihkan, persis seperti Mamaku yang menangisi kepergian Ayah sendiri tiap malamnya. Dulu aku tak mengerti kenapa dia menangisinya, tapi sekarang aku mengerti, bukan dia menangisi Ayah, tapi dia hanya menangis karena hatinya tersakiti. Kuberikan lagi dia gelasnya.
"Kuantar kau pulang nanti." Seseorang memang perlu menangis untuk membuatnya lega. Mamaku memasang wajah dia baik-baik saja tiap paginya, tapi di kamarnya tiap malam dia menangis. Sampai Paman menerimanya kembali, memberinya sesuatu untuk bersandar dan tak perlu menghadapi semuanya sendiri.
"Kau tak sedang berniat tidur dirumahku bukan. Kenapa kau mau mengantarku." Dia bertopang dagu dan melihat padaku, wangi vanilla parfumnya masih tercium samar. Mama juga suka Vanilla, wangi manis ini membuatku merasa berjalan ke lorong waktu puluhan tahun, saat aku masih suka bermain dengan parfumnya yang kutemukan dan menyemprotkannya ke sekeliling kamar.
"Pikiranmu jelek sekali padaku. Kau sedang kesepian Vanilla. Tak apa aku menemanimu tidur." Aku menggoda Vanilla ini, tapi aku tahu dia tidak ingin terlibat denganku sama sekali, aku tak menyalahkannya.
"Jika kau berani mencoba aku akan membunuhmu jika aku sadar keesokan harinya." Aku hanya tertawa, nampaknya dia serius dengan ancamannya ingin membunuhku. Tapi kemudian dia memberiku alamatnya, cara masuk ke apartmentnya. Dia nampaknya percaya aku tak akan mengambil kesempatan apapun.
“Masih mengharapkan mantanmu kembali?” Sebuah pertanyaan untuk menyelami isi hatinya.
“Dia tak mungkin kembali bodoh. Kau pikir dia akan memandangku dengan wanita itu disisinya.”
“Kau ingin dia kembali?”
“Aku tak tahu. Aku suka rasanya jika dia kembali, tapi aku juga membencinya.” Dia memainkan minumannya. “Apa aku terlihat cenggeng bagimu?”
“Setiap orang punya keinginan semuanya akan baik-baik saja, aku mengerti kenapa kau menangis. Tadi kau meneleponnya atau dia meneleponmu? Ada sesuatu yang dikatakannya padamu.” Aku sekarang mengoreknya, aku mau tahu apa yang terjadi sehingga dia menangis begitu rupa.
“Blonde itu hanya memberiku 1/3 kesepakatan kami. Dia menuruti semua kata blonde itu dan tak memandangku sama sekali. Aku membencinya tapi aku juga masih merindukannya. Aku sangat bodoh, aku benci cinta.” Akhirnya aku tahu alasan dia menangis. “Dan kau tidak percaya cinta Tuan Bova? Aku ingin bisa sepertimu...” Dia meminum minumannya sambil bertopang dagu, nampaknya perasaan disisihkan itu menghancurkannya.
“Aku? Aku berpikir cinta hanyalah sebuah ... hal yang tidak logis.”
“Iya itu memang tidak logis, tapi membuat duniamu tiba-tiba dipenuhi pelangi. Rasanya membahagiakan. Tentu hal itu akan hilang, tapi jika rasanya menghilangpun kau tetap punya teman menunggumu pulang. Cuma itu sebenarnya. Tapi banyak hal yang kemudian tak sesuai dengan harapan, banyak masalah terjadi. Setiap orang punya harapannya masing-masing dan tidak ada pikiran yang sama. Akhirnya masing-masing menjauh dan melepaskan. Akhirnya berakhir menyedihkan sepertiku, tapi sebagian yang lain berakhir seperti Mama dan Papaku, mereka adalah teman hidup, menerima satu sama lain, sampai akhir menutup mata.”
“Hmm...ya hanya dua itu pilihannya.” Aku tetap berpikir itu tidak akan berhasil untukku kadang. Walaupun kadang aku juga ingin mencoba percaya itu bisa berhasil. Aku membiarkannya minum kemudian, tamu sudah hanya tinggal satu dua orang. Dan kemudian kosong,tak lama setelah membersihkan restoran semua orang bersiap pulang.
“Terima kasih. Aku tak tahu kenapa kau baik sekali.”
“Tidurlah jika kau mengantuk. Akan memakan waktu setengah jam mencapai rumahmu.” Dia memejamkan matanya dan tak lama tertidur begitu saja disampingku. Aku menghela napas melihatnya. Menemukan dia bersedih begitu rupa, berusaha menanggung beban dipundaknya atas keluarganya membuatku ingin membantunya sebisaku. Mungkin benar aku menemukan wanita sepertinya selalu menarik, tidak manja, bahkan berani mengambil resiko masuk di site ‘sugar baby’ itu walau dia mungkin tak ingin, dia mau melakukannya karena terdesak, berusaha tidak ingin bergantung pada pria sepenuhnya, rasanya ketidakmampuanku menolong Ibuku saat aku masih kecil dulu sebagian terbayarkan karena menolongnya.
“Kita sudah sampai.” Aku mengoncangkannya supaya dia bangun. Dia tertidur begitu lelap. Aku perlu menepuk mukanya beberapa kali.
“Kita sampai?” Dia akan lebih mabuk lagi setelah tertidur, aku akan memastikan dia sampai ke kamarnya. Apartmentnya ada di dua lantai teratas dari bangunan apartment sepuluh tingkat ini. Dia, adik dan Ayahnya tinggal disini. Aku beralih ke sisi lainnya untuk membantunya keluar.
“Ayo langkahkan kakimu. Aku akan membantumu turun.” Aku memegangnya yang goyah.
“Aku baik-baik saja.” Orang mabuk selalu menyangka mereka baik-baik saja. Padahal berjalan di garis lurus saja mereka tak bisa.
“Pegangan.” Aku menjangkau bahunya. Takut dia terpeleset, saat turun mobil. Membawanya ke lift dan naik ke lantai sembilan.
“Wangimu enak. Pantas saja blonde itu menyukaimu.” Dia mulai meracau saat kami masuk lift dan karena aku memegangnya cukup dekat. “Apa kau suka parfumku tampan. Tapi aku bukan tipemu, aku kurus, tidak blonde...” Dia menegadah melihatku, aku tersenyum. Saat dia sadar dia tak akan berani merayuku begini, besok dia tidak akan ingat apa yang dia katakan.
“Aku benci blonde... Wanita baru suamiku juga blonde. Kenapa blonde-blonde itu begitu cantik.”
“Kau juga cantik.”
“Benarkah. Aku cantik? Kenapa aku kalah dengan blonde itu,... aku akan sendirian sekarang.” Sekarang dia benar-benar melekat dan memelukku menegadah padaku. Dia cukup tinggi, dia menaruh kepalanya di bahuku, memelukku begitu rupa. Wangi vanilla itu menerpaku lagi, sementara dia bersandar dan memelukku erat, wajahnya menyentuh daguku. Sial! Dia akan membuatku terbunuh dan aku ingin balas memeluknya sekarang. “Kau tampan sekali dan hangat...” Dia mendekatkan dirinya begitu rupa, matanya setengah terpejam, rambut wanginya, membuatku tak tahan untuk tak membalas memeluknya yang memakai gaun maxi halus itu. Memeluk tubuh langsingnya membuatku ingin menciumnya, jika dia sadar aku tak akan punya kesempatan ini, aku merasa seperti seorang pria jahat sekarang.
Suara lift yang berdenting adalah alarm tanda aku harus mengakhiri ini.
“Ayo...” Aku mengarahkannya keluar. Aku harus menghela napas panjang. Kami tiba di sebuah ruangan setelah dia membuka pintunya. Ruangan keluarga yang penuh dengar warna-warna hangat dan foto keluarga yang terpajang di dindingnya. Tak heran dia tak ingin hidup sendiri, dia mempunyai keluarga yang tampaknya berbahagia. Dia pasti punya mimpi yang sama.
“Dimana kamarmu?”
“Disana...” Dia menunjuk salah satu pintu di ruangan lebih dalam. Aku membawanya ke sana, membuka pintunya dan menuntunnya ke bednya. Akhirnya aku bisa menaruh gadis ini ke bednya.
“Tidurlah.” Aku memiringkan posisinya, menaruh bantal disisinya sehingga dia bisa tidur miring, menghindari dia tersedak jika dia muntah, nampaknya dia tidak akan muntah dia tidak minum terlalu banyak. Tangannya menjangkauku kemudian.
“Javier aku merindukanmu, kenapa kau pergi dengan blonde itu...” Vanilla manis yang mabuk ini mengira aku mantan suaminya sekarang, matanya terpejam tapi dia memelukku begitu erat. Sehingga aku harus tetap disisinya.
“Aku tidak akan pergi. Aku ada disampingmu. Tidurlah kau akan baik-baik saja Vanilla.” Aku mengelus rambutnya dan menenangkannya.
“Aku mencintaimu...jangan meninggalkanku” Dia memelukku tambah erat, apa dia sudah bermimpi . Bukan aku yang dicintainya, mantan suaminya.
“Kenapa kau mencintai orang yang ingin melupakanmu Vanilla.” Dia diam tak menanggapiku, aku tahu mungkin dia tadi hanya meracau setengah sadar dalam tidurnya. Tak butuh lama napasnya menjadi tenang dan dia tertidur begitu saja dan pelukannya terasa mengendur. Bekas matanya yang sembab terlihat olehku. Gadis cantik ini merasa dunianya sudah berakhir dan dia harus menerima hidupnya akan berjalan sendiri. Tinggal aku yang melihatnya di pelukanku sekarang, merapikan rambutnya dan menyentuh pipi cantiknya. Tangannya masih melingkar di pinggangku. Entah apa yang mendorongku, aku mencium bibir lembutnya begitu saja.
****! Aku tersadar dan menarik diriku sendiri. Menjauhkan diriku darinya. Dia akan membunuhku jika tahu aku melakukan ini.
Sekarang aku bergerak menjauh dari bednya. Memandangnya yang tertidur. Apa yang terjadi aku pasti sudah gila menciumnya. Sekarang aku keluar dari kamarnya tak berani masuk lagi merasa harus segera pergi dari sini. Jika sesuatu terjadi disini karena aku tak bisa menahan diri, dia akan membenciku, sudah bagus aku mendapatkan kepercayaan darinya.
Aku tak mau dibenci olehnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=