The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 74. Kimiko Yamasaki 9



"Kalau begitu saya mungkin harus menawarkan jumlah yang lain pada Anda. Saya akan memikirkan jumlah yang pantas, bagaimana kalau saya double kan jumlahnya." Aku langsung tersenyum.


"Saya berterima kasih atas kebaikan Yamasaki-san. Saya akan memikirkannya." Dasar pelit.Tidak berani membayar taruhan.


Dia diam sekarang. Kurasa dia juga tahu aku menganggap remeh jumlahnya.


"Lebih baik mengambil apa yang bisa kau ambil daripada kau tidak mendapatkan apapun. Kuberi kau dua minggu Setsuko-san, kuharap kau bertindak dengan bijak."


Ternyata dia ternyata hanya meremehkanku lagi-lagi. Hmm... tapi dia juga harus tahu, aku tak bisa dibeli dengan hanya tawaran doublenya itu. Aku lebih baik tak mendapatkan apapun daripada menjual diriku hanya dengan tawaran bahkan lebih rendah dari rayuan Aoki. Aku menganggapnya rendah sekarang.


"Saya berterima kasih atas nasehat Yamasaki-san. Tentu saja saya akan memikirkan kata-kata Anda." Aku membungkuk padanya.


"Bagus jika begitu. Kalau begitu saya kembali, saya menunggu kabar baik dari Anda dalam dua Minggu. Ini kartu nama saya." Dia memberikan sebuah kartu nama mengkilat untukku.


"Baik Yamasaki-san."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sabtu siang Hisao yang sudah tiba di Kyoto menemuiku. Dia meringis mendengar apa yang terjadi. Tapi sebenarnya memang benar, sekali kani tak punya pendukung hubungan kami sebenarnya tetap tidak mungkin.


"Hmm...jadi dia memang mengatakan hal seperti itu padamu."


"Kau harus lihat bagaimana muka kakunya setelah membayar sepuluh jam. Dia terlihat sangat menyesal berani berkata sepuluh jam, dan aku langsung dituduh secara tidak langsung mempermainkannya. Aku menjadi sangat senang dia datang...Tapi dia tidak dapat menarik perkataannya sendiri." Aku menambahkan sambil menertawakan kejadian semalam.


"Hmm... Jadi bagaimana hasil pembicaraanmu?"


"Aku mencoba bicara dengan santai ke kakek, meminta nasehatnya sebelum pelan-pelan memberitahunya keinginanku." Dia berhenti bicara. Aku semangkin takut.


"Jadi apa yang dia katakan."


"Dia bertanya beberapa hal tentang awal hubungan kita beberapa bulan ini. Tentang apakah kau pernah merayuku, siapa yang mengejar duluan, ..." Hisao meringis. "Well kuceritakan semuanya. Kenapa aku tertarik padamu. Dia tidak mengatakan setuju, tapi dia tidak juga menolak. Kurasa kemungkinan Kakek akan setuju, jika kita tidak melakukan tindakan salah. Dia hanya bilang masih terlalu dini memutuskan hal seperti itu. Aku tahu apa maksud kakek, dia memberiku waktu apa aku akan tetap padamu atau berubah. Masih ada konflik didepan. Kita punya peluang. Dan sebenarnya semangkin banyak pihak Yamasaki melakukan tindakan tak perlu kita semankin diuntungkan."


"Tindakan Yamasaki menawarkan uang padamu, padahal Ayah dan Ibu saja belum mengatakan padaku apapun adalah sebuah bukti bahwa dia sangat mengejar pertalian ini. Kartu nama itu adalah bukti yang harus kau simpan."


"Apa yang harus kujawab dua minggu ke depan."


"Diamkan saja. Dia tak akan menelepon atau menemuimu. Dia akan terhina melakukannya, apalagi harus membayar 10 jam kedua. Mungkin setelah kau tak meneleponnya Kimiko Yamasaki yang akan turun melakukan provokasi. Biarkan saja ..."


"Begitukah..." Aku tak bisa berpikir soal begini. Yang kutahu menyenangkan orang, soal bertengkar aku harus banyak belajar lagi. "Hisao, kenapa kakekmu bisa dikatakan tidak langsung menolakku."


"Dia menyukaimu, lagipula dia pasti memperhitungkan resiko aku bisa menyukaimu. Kau tak ingat pertama dia mengenalkanmu padaku dia memujimu setinggi langit."


Aku tersenyum. Benarkah aku disukai.


"Nampaknya kau memang mengemaskan untuk kakek-kakek. Kau sangat baik bermain peran cucu yang penurut mungkin." Aku tertawa sekarang.


"Aku tak tahu, aku hanya berusaha menghibur orang lain dengan kehadiranku. Mereka membayarku mahal... Aku berusaha memahami mereka. Membuat mereka tertawa..."


"Tak heran kakek menyukaimu... Kau benar menghiburnya mungkin. Sejak nenek tak ada rumah sepi, dia kehilangan orang untuk bicara dan bertengkar."


"Hmm.... jadi kita akan tetap jadi kekasih."


"Tentu saja. Aku merindukanmu Hanii." Aku tersenyum, begitu mudah dia mengatakan dia merindukanku.


"Kau ternyata seperti teddy bear yang manis." Sekarang aku memeluk lengannya yang biasa kugandeng.


"Jadi sekarang aku punya panggilan teddy bear?"


"Itu cocok untukmu my Teddy Bear. Apa kau keberatan?"


"Tidak Hanii Beee."


Nampaknya sekarang kami jadi pasangan beruang madu.