
Aku tersinggung, kadang benci cara berpikir para pemilik uang seperti dia.Apa di pikirannya membayar sesuatu itu berarti akan mempermudah segalanya. Aku tak suka disamakan. Jika aku menjadi teman dengan seseorang, aku tidak mau memanfaatkan kebaikannya.
"Berarti aku memang bukan gadis yang Hisao-san maksud. Aku tak perlu kau membayarku dengan waktu liburanku, ini caraku membalas kebaikan Hisao-san, terima kasih Hisao-san..." Aku menjawabnya dengan singkat tanpa melihat ke arahnya.
Kami berdua diam, mungkin aku salah, aku tak menyukai dia terlalu banyak memberiku hal yang tak perlu, entah kenapa aku merasa dibeli ketika dia membandingkanku dengan gadis lain, dengan gadis Ropponginya itu. Mungkin dia tidak bermaksud begitu, tapi caranya membawa wanita lain membuatku berpikir begitu.
"Dan sekarang kau tampaknya tersinggung karena satu kataku bukan."
"Aku tidak tersinggung. Maafkan aku Hisao-san. Maafkan saya saya hanya ingin membalas kebaikan Hisao-san." Aku mencoba tersenyum, bagaimanapun dia klienku. Apa yang kurasakan memang tak perku dia perhatikan. Sudahlah anggap saja memang begitu cara dia berpikir. Makanya aku tak pernah menyukainya.
"Ditambah lagi kau memakai double facemu itu lagi didepanku." Dia menyindirku.
"Saya tidak begitu."
"Benarkah?"
"Benar." Dia mengangkat bahunya padaku.
"Aku memang tak mengerti pikiranmu. Sudahlah ayo kita makan."
Kami makan malam kemudian. Aku berusaha memastikan aku terlihat tidak kesal akan apapun kemudian. Ini lebih baik. Memegang bahwa dia klien yang membayar untuk liburan ini. Aku memasang wajah ramahku lagi sekarang, mengesampingkan aku telah mendengar hal menyinggung ini. Menempatkan diri sebagai teman memang tidak pas, menempatkannya sebagai klien lebih baik.
Klien memang macam-macam, terserah mereka mau berpikir seperti apa. Dengan itu hatiku menjadi ringan lagi sehingga makan malam itu berjalan baik tanpa kami harus punya perselisihan.
Kami pulang kemudian. Besok mungkin aku tak akan berjumpa dengannya lagi. Aku mungkin harus menemaninya sarapan sebentar, tak sopan jika aku langsung pergi begitu saja.
"Hisao-san, terimakasih atas makam malamnya."
"Tentu."
"Apa saya boleh keatas dulu."
"Iya, pergilah."
Tapi kemudian pintuku diketuk. Siapa? Hisao!? Aku yang sudah dalam baju tidur panjangku menjadi khawatir. Kenapa dia kesini? Tampaknya terlalu beresiko untuk tinggal disini. Ini terlalu dekat...Bagaimana jika dia sedang terlalu 'merasakan dorongan' dan aku adalah orang yang terdekat yang bisa dicapainya. Ini agak mengerikan...
Ketukan kedua membuatku mau tak mau membuka pintu.
"Hisao-san? Ada apa..." Dan dia juga dalam kaus tidur dan celana panjang.
"Aku mau bicara. Masih terlalu pagi untuk tidur. Boleh?" Aku merinding, ini tak baik. Aku ingin mencari alasan. "Ini cuma mengobrol, ..." Nampaknya dia tahu isi kepalaku. Ketika pintu terbuka dia melempar dirinya ke sofaku.
"Ada apa?"
"Sebenarnya kenapa tadi kau tersinggung."
"Tersinggung apa, aku baik-baik saja?" Aku bertekad tak menganggapnya teman, tapi klien sehingga aku tak tersinggung lagi.
"Apa aku menyebutkan hal yang membuatmu tersinggung tadi? Aku hanya menyebutkan gadis lain hanya akan berterima kasih atas kebaikanku. Apa itu membuatmu tersinggung, apa yang salah dengan itu?"
"Tidak, aku tak tersinggung. Hisao-san salah menangkap sikap saya, tidak ada yang tersinggung."
"Apa memberi libur itu salah bagimu?"
"Tidak saya tidak tersinggung apa-apa Hisao-san." Dia menghela napas mendengar jawabanku.
"Sudah kukatakan padamu, aku bukan orang yang suka jika orang didekatku tidak jujur..." Aku mundur lebih jauh dari dudukku. Menginap disini adalah sebuah kesalahan. " Jika kau sedang tidak dalam mode double facemu itu, kau akan memanggilku nama tanpa embel-embel, kadang kau tak menyebutkannya sama sekali. Tadi selesai pembicaraan tadi, sampai sekarang kau berubah seperti saat pertama kita bertemu. Kau tidak menyukaiku. Sekarang katakan masalahmu soal percakapan kita tadi atau ini tidak akan selesai dengan mudah Setsuko."
"Apa maksudmu ini tidak akan selesai dengan mudah? Tak ada apa-apa, aku baik-baik saja dari tadi, memanggilmu dengan embel-embel atau tidak bukan tanda aku sedang kesal padamu."
"Jangan mencoba kesabaranku..."
‐---- bersambung besok yaaaa
Jangan lupa vote, like, jempol dan komennya😁😁