
Bova berkata dia tak akan menjawab Lorina, dan akan membiarkannya menunggu tanpa kepastian. Dalam waktu menunggu itu mereka tidak akan bertindak sembarangan. Aku percaya saja pada pengaturannya, lagipula apa yang bisa mereka lakukan jika sekarang semua orang mengecap mereka penjahat besar dan tidak ada yang mau membantu mereka karena diancam oleh Bova.
Marriane seperti biasa datang siang, dan membantuku saat siang, sementara Papa biasanya datang pagi-pagi sekali membawakanku sarapan bersamaan dengan dia ke restoran. Tapi Bova biasanya datang malam, setelah semua urusannya selesai dia akan datang, jika dia bisa dia menemaniku makan malam. Dokter mengatakan mungkin aku harus opname sekitar 10-14 hari baru hari ke enam aku sudah sangat bosan bedrest.
“Nona, lihat apa yang aku bawa hari ini.” Sementara Marriana senang membuatkanku sesuatu dari rumah. Tenyata dia membawa panna cotta. Aku tersenyum senang melihat kudapan manis itu.
“Kau rajin sekali...”
“Nona ajari aku resep panna cotta baru, jika bisa ala bintang lima.” Dia mengeluarkan buku catatannya. Setiap dia memasak dia selalu bertanya apa kekurangannya dan meminta aku mengusulkan sesuatu yang baru. Dia selalu membawa buku catatannya. Kurasa itu harta berharganya, buku itu sudah lusuh tapi dia membawanya kemana-mana dan memasukkannya ke plastik cover yang bagus.
“Kau kesini ternyata untuk kursus memasak.” Dia tertawa ngakak sekarang.
“Nona kau sudah tiap hari bosan mengawasi orang memasak, dirumah biar aku memasak untuk kalian.”
“Kau memang bermulut manis seperti caramel.” Dia meringis lebar. Tapi aku tetap mengajarkannya sebuah resep baru seperti yang dia mau.
Seorang membuka pintu kemudian. Tidak biasanya dokter berkunjung ketika jam makan siang. Aku melihat siapa yang datang.
“Zia?” Ternyata Ibu Bova dan istri Paman Bova yang kesini.
“Nyonya-nyonya...” Marriane juga ternyata tak tahu dia akan kesini.
“Eliza sayang, kau terluka? Bibi melihat beritanya. Fabri,anak itu sama sekali tidak bercerita. Harusnya bibi datang lebih awal.” Dia datang dan memelukku.
“Bibi juga baru kembali dari Madrid menjengguk seorang teman, aku baru tahu berita ini. Ya Tuhan Eliza berapa lama kau harus bedrest?” Istri pamannya yang sekarang bertanya.
“Kata dokter 10-14 hari Bibi, tapi aku akan pulih, kau repot-repot menjengukku kesini. Aku hanya perlu beristirahat...”
“Tertembak di dada kau bilang hanya perlu beristirahat, lihat dirimu, kau bahkan perlu begitu banyak peralatan di tubuhmu. Mereka jahat sekali, Gianni itu memang jahat sekali.”
“Ini sebenarnya kecelakaan Bibi, ...”
“Aku dengar ceritanya, tetap saja mereka itu memang jahat.” Aku tersenyum mendengar pembelaannya, dia sampai datang kesini menjenggukku, dia baik sekali.
“Dia akan membayarnya Bibi. Yang penting aku akan pulih. Terima kasih Bibi berdua sudah kesini.”
“Anak bodoh. Tentu saja Bibi harus kesini. Apa Fabri menungguimu, kenapa sampai sekarang dia belum datang? Dia yang perlu dimarahi sekarang.” Ibu Bova sekarang ingin memarahi putranya.
“Dia ada pekerjaan Bibi, biasanya pagi Ayah yang menjenggukku, siang Marrianne yang datang. Dan malam Bova menemaniku makan disini, kadang dia menungguiku, aku minta maaf Bibi, aku sudah menyuruhnya pulang tapi dia berkeras menungguiku.” Aku takut Ibunya marah anaknya bermalam disini.
“Baguslah, dia tahu diri. Dia memang harus menungguimu, Ayahmu sakit, kau tak punya siapapun menjagamu. Bagaimanapun dia memang harus tidur disini. Bagaimana kerja pengawalnya itu, sampai kau tertembak begini, Bibi jadi sedih melihatmu.”
“Tak apa Bibi, benar tak apa. Aku akan sembuh.” Aku jadi tersenyum dengan kehangatan keluarga Bova padaku.
“Kami membawa banyak makanan dan buah untukmu.”
“Nyonya, kulkas disini sudah penuh, lemari itupun isinya banyak sekali makanan...” Marriane tertawa. “Banyak sekali yang membawa makanan kesini. Tamu-tamu yang membawa Nona membawa banyak makanan tiap hari, kadang aku membaginya ke perawat yang menjaga Nona.
“Benarkah Marriane, astaga, ...” Mereka jadi mengobrol sambil makan, mendengar Ibu-ibu mengobrol membuat aku tidak bosan. Tiba-tiba ada Jose yang jika siang ada dirumah sakit masuk. Sering ada tamu menjengukku walaupun waktunya dibatasi oleh dokter. Plus dia takut sesuatu yang buruk terjadi, entah ada orang suruhan Gianni atau kejadian tak terduga, jadi dia masih meminta Jose tinggal disini.
“Nona, ada Lorina Gianni. Katanya jika bisa dia ingin menjengukmu.” Lorina Gianni si Miss Italia yang mencium Bova.
“Gianni? Mau apa dia kesini.”
“Sebenarnya beberapa hari yang lalu...” Kuceritakan apa yang terjadi kemarin lusa. Sampai dia berani menawarkan diri terang-terangan dan bahkan mencium Bova dipertemuan pertama mereka.
“Aku setuju, ayo kita beri pelajaran gadis tak tahu diri itu, berani sekali dia merayu Gianni, gadis murahan seperti itu memang perlu dicaci-maki supaya dia tahu diri dan tidak membanggakan harta Ayahnya yang berlimpah itu.” Tampaknya hari ini aku akan melihat drama besar. Kali ini siangku tak akan membosankan.
“Aku akan jadi Ibumu dan dia Bibimu.”
Akhirnya Jose membiarkan gadis itu naik. Bibi-Bibi itu duduk di sofa di sisi lain kamar sementara bed perawatanku di bagian sisi yang lainnya. Mereka mengobrol sambil makan, tak ada yang mengenalkan mereka.
“Nona Lorina, Anda baik sekali mengunjungi saya.” Aku yang menyapanya duluan. Miss Italia ini memang cantik, dia memilih gaun casual musim dingin berwarna merah cerah untuk menjenggukku , mungkin sekalian statement bahwa kami sama sekali berseberangan dan dia tak keberatan mengadu dirinya denganku.
“Ahh kau punya pengunjung ternyata.”
“Iya, mereka bibi-bibiku.”
“Halo Zia, selamat siang...” Sopan juga, dia menyapa dua wanita yang kuakui sebagai bibiku.
“Kau orang Gianni pertama yang pernah kulihat, selain pengacaramu? Terima kasih sudah datang kesini.” Aku tetap biasa saja, lagipula aku tak punya energi untuk marah-marah dengan bersemangat, dokter akan memarahiku jika aku bisa menghabiskan energiku dengan mencaci maki seseorang.
“Hmm... berapa lama kau bedrest?” Dia tidak minta maaf sama sekali. Gianni tidak meminta maaf, mereka menawarkan ganti rugi. Orang yang harus merendahkan diri meminta pengampunan mereka nampaknya.
“Kata dokter 10-14 hari.”
“Ohh lama juga.” Jawaban yang sangat kejam. Dua orang Bibi disana nampak memperhatikan pembicaraan kami. Mungkin sudah tak sabar ingin memcaci gadis ini. “Aku turut prihatin dengan kecelakaan yang menimpamu. Aku sebenarnya tak tahu urusan ini tapi kurasa kau juga tahu ini kecelakaan. Kami tak pernah berniat melukai orang.”
“Hmm...” Aku hanya meringis mendengar dia menyebutkan kecelakaan dengan begitu yakin.
“Aku kasihan padamu, aku kesini untuk menawarkan perdamaian, buat apa kita saling menyalahkan seperti ini. Tak ada gunanya kita saling mempersulit satu sama lain, aku akan menghapus semua hutangmu. Membayar semua biaya rumah sakitmu jika kau mundur dari kasus ini dan memberi ganti rugi kepada adikmu atas waktunya yang dihabiskan dengan kakakku, terserah dia mau minta berapa tapi aku yakin asal masuk akal Ayah tidak akan keberatan. Kau akan menjalankan bisnismu dengan tenang seperti biasa lagi, hidupmu akan mudah lagi.” Dan belum termasuk aku akan mengambil pacarmu darimu, menjadikannya milikku.
“Uang keluargamu memang banyak Nona.”
“Terimakasih atas pujianmu.” Gadis gila, dia malah menganggapnya pujian bukan sindiran.
“Kami mungkin tak punya uang banyak sepertimu. Tapi kami juga tak begitu rendah menggadaikan harga diri kami.” Aku menatap mata Miss Italia ini. Nampaknya gelar miss Italianya itu didapat karena koneksinya yang luar biasa. Dia menentang mataku.
“Kurasa kau tidak mengerti kondisimu sekarang.”
“Ohh jelaskan apa yang tidak kumengerti, tak usah basa-basi, jika kau bisa membunuhku sekarang untuk menghilangkan masalahku juga tampaknya kau tak keberatan melakukannya.” Aku bicara terang terangan kepada gadis ular ini.
“Baiklah Nona dengan harga diri tinggi, kau dengarkan logikaku baik-baik sekarang. Pertama kau bukan siapa-siapa. Kau cuma janda yang mendapati bisnis keluargamu hancur dan harus membayar kami dengan mengadaikan adikmu. Kedua, kau hanya ditolong oleh Bova, dimanfaatkan sebagai pion untuk mengangkat nama keluarganya. Bagaimana jika aku bisa menawarkan jalan yang lebih baik untuk mengangkat nama keluarga Bova. Aku dan keluargaku punya segalanya, aku Miss Italia, jauh lebih cantik, lebih kaya , lebih segalanya darimu, kau hanya janda miskin yang banyak hutang dengan Ayah sakit-sakitan! Aku bisa membeli Bova! Kau akan langsung dibuang jika aku maju! Perempuan sepertimu harusnya tahu diri, aku menawarkan penyelesaian terbaik untukmu dan keluarga kalian. Hidup damai, dan kau juga mendapat publisitas gratis dengan kasus ini, uang berlimpah, langsung 3 restoran berdiri, penghapusan piutang, sedikit darah, sedikit mengendurkan harga dirimu yang terlalu tinggi itu! Kau yang tak tahu diri jika tak menerima tawaranku! Kau mengerti gadis sombong!” Ternyata gadis cantik ini bisa galak juga. Sebenarnya semua kata-katanya itu memang masuk akal jika dilihat dari satu sisi, tapi sekarang akan ada sisi pembanding lainnya.
“Kau sudah selesai?!” Sekarang Ibu Bova yang bicara. Dia berdiri mendatangi bed ku bersama dengan Bibi Angeli nampaknya dia sudah cukup mendengar.
“Bibi, jangan tersinggung aku bicara kenyataan pada ponakanmu ini. Dia perlu dibukakan matanya! Aku menawarkan jalan tengah dari awal kasus ini, tapi perempuan sombong ini mementahkan semuanya. Kau harusnya mengatakan padanya bahwa aku benar...aku menawarkan jalan tengah logis dan damai, semua orang senang, kita bisa melanjutkan hidup kita masing-masing.”
“Kau yang gila Gianni. Sekarang kau dengarkan baik-baik. Aku adalah Isabella Bova, Ibu Bova. Aku dan anakku berjuang bersama dari kami muda, kami bukan orang kaya sepertimu. Kami pernah dibawah, dan aku sekarang akan mengatakan padamu. Aku lebih suka putraku membayar untuk tidur dengan seseorang daripada terlibat dengan gadis kaya yang tidak menghargai manusia sepertimu. Kau mau membeli putraku dengan uangmu?! Bawa mati uangmu, kau menghina orang seperti kau adalah Dewi yang harus disembah. Kakakmu memakai adiknya sebagai teman kencan gratis seperti budak, jika aku jadi Eliza, aku akan menyuruhmu hal yang sama, biar kau rasakan sendiri bagaimana diperk*osa berminggu-minggu! Gadis gila!Bahkan kau sedikitpun tak mengucapkan maaf. Gianni kalian memang sesuatu! Memuakkan!”
“Dan aku Angeli Bova, istri patriach Bova akan mengatakan Bova tak akan pernah bekerja dengan Gianni. Kau pikir kami bisa kau beli dengan uangmu?! Kau kira kau bisa membeli keluarga Bova dengan uangmu?! Gadis ba*ngsat, aku sendiri yang akan membuat masalah denganmu jika kau berani menyentuh keponakanku! Kau mengerti!” Aku meringis mendengar mereka menunjuk gadis itu mencaci-makinya sambil berkacak pinggang!
Sementara Miss Italia itu tampaknya shock mengertahui indentitas dua wanita itu.
“Pergi dari sini, wanita yang kau rendahkan ini adalah keluarga kami. Kau ular pergilah dengan segudang uangmu itu, akan kulihat sampai dimana uangmu bisa menyelamatkanmu.” Nyonya Isabella Bova, Ibu Bova sekarang menunjuk pintu keluar.
“Harta tak akan bisa menyelamatkan saudaramu sekarang. Kau akan belajar itu gadis Gila. Pergi sekarang!” Nyonya Angeli menambah caciannya dengan senang hati.
Aku melihat dua Bibi-bibi melampiaskan emosinya dengan puas. Miss Italia itu pergi dengan muka merah. Bukan hanya mempermalukan dirinya, tapi misinya kesini sudah gagal total, karena dia mengatakan akan membeli keluarga Bova dengan uangnya.