The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 61. Risk for a Question 2



"Mengakui apa?" Sekarang aku tak bisa bicara. Dengan kejadian Oguri dia menetapkan sudah pikiran terburuknya padaku ternyata.


"Aku tak mungkin memberitahu orang yang masih menyimpan teka-teki... Tapi aku juga tahu mungkin kau mungkin hanya pion. Kau bisa mulai mendapat kepercayaanku dengan menyebutkan nama atasanmu Nathalie cantik. Kau memang cantik, tapi atasanmu salah jika gadis cantik bisa menembus lingkaranku..." Dia menaikkan daguku dan dia kali ini menciumku begitu saja. Ciuman memaksanya yang mengunci tengkukku itu membuatku kehabisan napas.


"Lepas...." Dia tidak melepasku. Malah semangkin mengetatkan pelukannya. Aku tak bisa melawannya karena lenganku sakit. Aku menbencinya sekarang karena sudah memaksakan ciuman.


"Itu hukuman manis untuk orang yang sudah membantuku mengawasi perusahaan tapi ternyata juga penyusup cerdik."


"Beberapa kali kubilang... aku bukan..."


"Stttt diam sayang, jangan memotongku atau kucium lagi ..." Dia menaruh tangannya di bibirku aku merinding.


"Satu hal lagi, apa kau tahu kita sudah diawasi beberapa hari ini. Dari beberapa hari yang lalu sejak kita datang ke Chicago, Howard menemukan ada beberapa kendaraan dengan perilaku aneh disekitar sini. Mungkin mereka ada diluar jendela sana. Apa mungkin kau sudah dicurigai Natalie, mungkin atasanmu tak mempercayaimu lagi, mungkin dia mendengar teriakan kepuasanmu dari jendela beberapa hari lalu, itu sebabnya dia tetap menaruhmu disini..." Nathan tersenyum puas sekarang. Jadi dia sengaja menjebakku.


"Apa kau sengaja menjebakku disini!?" Dia tersenyum kecil. Aku tak mendapatkan apapun selain digunakan sebagai pion oleh atasanku dan tidur dengannya?! Kenapa aku merasa sebagai orang tak berguna sekarang?!


"Sttt...Jangan berteriak." Dia menciumku sekali lagi. Aku mengelak, tapi dia mengunci tengkukku, mencium leherku. Kulit lembabnya menempel padaku dengan rasa kepemilikan absolut. "Apa kau selalu mencurigaiku Sayang... mungkin saja aku menjebakmu, apa kau tak senang terjebak denganku. Aku bersikap baik padamu, mesra dan sudah kubilang kita teman yang baik. Kenapa kau tak pernah mempercayaiku...."


"Kau bajingan licik..." Dia tertawa kecil.


"Aku tahu kau dikirim seseorang. Itu sangat mudah, tak ada gadis normal senang melibatkan dirinya dalam bahaya, tak ada gadis normal yang terlalu awas atas situasi di sekelilingnya, tak ada gadis normal yang bisa memutuskan menembak dari balik pintu, tak ada gadis normal bersikap baik-baik saja setelah semua itu dan tidak lari menjauh ketakutan. Kau bukan mata-mata yang baik, terlalu mudah ditebak, tapi kau auditor yang bagus, kurasa kau salah memilih profesi. Kau dikirim untuk meneliti perusahaanku. Benar? Tapi kau tidak mendapatkan apapun selama setahun ini, kau pikir kau bisa masuk ke dalam lingkaranku tapi sayangnya tidak semudah itu mendapatkan kepercayaanku..." Dia sudah tahu sejak pertama, dia hanya bermain tarik ulur denganku.


"Lepaskan aku..."


"Kau tak bisa kembali ke sana sayang, ... ******* puasmu sudah terekam mungkin di sana. Lebih baik kau mengundurkan diri saja. Kau tahu bagaimana anggota tim-mu membicarakanmu sekarang? Kariermu sudah tamat..."


"Atasanku tahu aku tak berkhianat."


"Benarkah, kurasa kau itu terlalu naif menilai situasi. Kau bisa tinggal dirumahku, nonton bersamaku, ikut denganku kemana-mana bahkan seranjang denganku tapi boss-mu tahu dia tak mendapatkan apa-apa darimu , menurutmu apa yang dia akan pikirkan? Apa kau tak berpikir ke sana..."


"Lepas Nathan..." Aku mulai terisak. Kenapa aku bisa terlibat kasus ini.


"Stttt jangan menangis. Sudah kubilang kau temanku. Kau terlalu tegang, jika aku bilang aku bisa melindungimu maka aku bisa. Aku sudah memperingatkanmu sekali kau melangkah masuk maka kau tak bisa keluar. Nama atasanmu Natalie.... beritahu aku siapa dia? Orang FBI? FED? INTERPOL? Kurasa tak mungkin interpol, tebakanku kau FBI, FED tak punya nyali untuk kasus seperti ini walaupun mereka bisa melakukan analisa." Dia tetap berbicara berbisik padaku. Perkataannya dibarengi dengan ciuman di leher dan tengkukku.


"Aku tak percaya padamu. Lepas!"


"Sayang jangan terlalu cepat melepasnya. Kau nakal...." Dia mengatakan itu dengan suara normal. Dia sadar mungkin kami diawasi diluar sana. "Jika kau membentakku lagi aku tak berjanji aku akan mengampunimu...." Dia berbisik mengancamku. Aku tak berani bicara lagi. Dia menghela napas dan menatapku sekarang.


"Aku sudah berjanji akan melindungimu, aku serius, katakan siapa yang ada diatasmu. Kau sudah tak bisa pergi dari sini, sekali kau melangkah masuk terlalu dalam, kau tak bisa keluar lagi sayang... Tadinya aku mau bersabar, menunggu kau mengakuinya, tapi kau ingin mempercepatnya ya sudah kita lakukan saja sekarang. Aku kasihan juga padamu kau terlihat sangat binggung..."


"Lepas..." Aku mendorongnya.


"Jangan bergerak-gerak seperti itu, kau mau memancingku? Kita sedang berpelukan mesra Nathalie sayang. Bahumu sedang sakit, itu baru dijahit semalam. Jangan sampai John harus mengantarmu ke dokter lagi."


"Kau orang jahat." Aku memukulnya.


"Kau tak tahu siapa yang jahat disini. Kadang hanya permainan beberapa orang yang mengadu pion mereka. Aku bisa mengeluarkanmu dari permainan ini dan memberimu indentitas baru."


"Aku tak percaya padamu."


"Kau sudah terperangkap, bukan kau harus percaya.... tapi kau tak punya pilihan. Aku tak akan membiarkanmu lolos dengan mudah dan kariermu sudah hancur karena mereka tahu kau tidur denganku. Apa lagi yang kau inginkan, aku bersikap baik padamu karena aku tahu kau hanya pion. Dan kau melakukan beberapa hal untukku, lagipula kau tak pernah berniat membunuhku... kau hanya diperintahkan untuk mengawasiku, Bossmu hanya pelaksana lagipula, ada kepentingan lebih tinggi diatasnya. Aku hanya ingin tahu siapa itu agar atasanku yang terselubung itu agar dia bisa mengurusnya...."


"Aku tak percaya padamu."


"Apa aku tak baik padamu, jika aku ingin membuatmu menghilang dari awal sudah kulakukan. Kau tak pernah menganggap serius tawaran pertemananku?"


"Yang mengawalku itu anggota special forces, Howard mereka sudah kelepasan membuka indentitasnya tadi, kau juga tahu siapa lagi special forces yang berlatih di hutan. Army special forces Green Berets, mereka ada 6 orang 3 lagi ada di LA. Mungkin kau pernah melihat mereka. Apa boss-mu punya Green Berets pribadi sepertiku? Jika aku berkata bisa melindungimu berarti aku bisa..." Aku diam mendengar perkataannya. Ini sepertinya dia tidak bohong, dia memang agen khusus dengan peringkat tinggi.


Karena aku diam saja. Dia bicara lagi...Kali ini mengangkat daguku.


"Kita akan mulai dengan namamu sayang, beritahu aku nama aslimu..."


😎😎😎😎😎😎😎😎


bersambung besok ya sayang......