The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 65. Switching



"Itu tergantung keputusanmu sendiri Kate. Jika kau tak memberikanku nama kau akan kutaruh di LA, kau akan melapor ke Alan seperti biasa. Kita tak akan berhubungan lagi. Apa yang terjadi disini tetaplah disini." Dia bicara serius soal melepasku. Bahkan memanggilku dengan nama asliku. Jadi benar dia melepasku. Aku akan aman, dia membiarkanku pergi.


Tapi jika dia melepasku berarti aku juga tak bisa kemana-mana, hanya melakukan tugasku sebagai auditor di Garcia, dan semua pekerjaanku akan sia-sia, mungkin dalam enam bulan bossku akan menarikku. Tak ada kemungkinan aku akan naik ke level pimpinan tim. Tapi bagaimana kalau aku memberitahunya siapa boss-ku apa aku punya kesempatan mendapatkan promosi dari bossnya.


"Ohh ternyata begitu..."


"Apa yang kau pikirkan?"


"Kenapa kau melepasku?"


"Kita teman. Kenapa aku mempersulitmu, bagian mana perkataanku yang tidak kau percayai."


"Kita teman. Baiklah? Tapi bukankah aku tahu beberapa hal tentangmu?"


"Kau tahu, tapi mereka juga tahu hal umum seperti itu. Bukan masalah untuk membiarkanmu tahu, jika kau memberitahu pada mereka pun tidak akan berakibat fatal."


"Begitu ternyata." Aku mendekat padanya. Dia sekarang melihatku dengan heran.


"Nathan, apa yang akan terjadi jika aku bersedia bekerja sama denganmu." Sekarang dia tersenyum kecil dan kemudian tertawa, sekarang bersandar dan bersikap santai menyandarkan kepalanya melihatku.


"Kau punya otak licin juga Nathalie cantik. Tak kusangka kau akan mengatakannya ini. Katakan alasanmu..."


"Aku lelah menganggapmu setengah musuh, setengah teman. Dan selama bertahun-tahun di unit yang sama aku dipasang selalu di tugas lapangan, aku lelah menjadi umpan. Jika aku gagal di tugas ini aku sudah pasti diberikan tugas garis depan lainnya, dianggap terlalu menarik untuk dijadikan umpan, seperti Oguri, aku menyelesaikan kasus itu dalam samaranku sendiri, timku hanya membantu sedikit, dan sekarang karena itu aku juga menanggung tugas ini sendiri, boss ku tak memberi tahu apa sebenarnya yang terjadi, takut aku membocorkan informasi, semuanya harus kuhadapi sendiri... " Aku mendekatinya. Nathan yang harus kulobby sekarang. "Sudah kepalang basah aku di anggap sebagai pion disini, mungkin aku bisa menumbangkan satu benteng jika aku ditangan orang yang benar. Jadi sekarang aku mengharapkan bantuanmu sebagai teman..."


"Kau serius Kate?" Dia mengamit pinggangku sekarang, membawaku didekatnya.


"Kau tahu temanku Tyson, yang kuceritakan padamu, sekarang akan naik menjadi kepala unit. Dia tak pernah sekalipun menjalani tugas lapangan sepertiku, dipasang sebagai umpan, bertahun-tahun kami berteman, dia bahkan tak memberitahuku dia berkencan, tapi dia menolakku begitu saja saat aku menemuinya... tanpa takut melukai perasaanku. Seharusnya bukankah dia tak membuatku malu seperti itu... Aku menangisinya sendiri dan dia tak memandangku sedikitpun setelah bertahun-tahun kami bersama, tak bisakah dia mempertimbangkan perasaanku...."


"Jadi sekarang kau mengganti temanmu? Dan ganti memanfaatkanku...Baiklah, kita akan mulai dengan apa yang kau pikirkan akan kau dapatkan."


"Aku berganti perusahaan Nathan, itu hal umum terjadi, perusahaan lama tidak memberiku kesempatan berkembang dengan baik. Aku juga ingin dijadikan orang kepercayaan oleh orang yang tepat. Apa itu berarti memanfaatkan bagimu?" Aku mengatakan alasanku terang-terangan.


"Kenapa kau menyangka aku bisa jadi teman."


"Kau kelihatannya lebih tulus, kau bersedia melepaskanku karena memandang pertemanan kita. Aku harusnya tak salah menilai, aku melihat bagaimana kau memperlakukan orang-orang disekelilingmu."


"Hmm ternyata begitu. Nampaknya tugas garis depan itu sebenarnya punya banyak keuntungan bagi pemula... Bisa berganti kubu dengan cepat..." Dia tertawa.


"Well, kurasa kau benar juga." Dia melihatku dan nampaknya mempertimbangkan penawaranku.


"Baiklah, akan kulihat apa yang bisa kulakukan untukmu... Ketikan namanya. Nama atasan lansungmu yang sekarang, kantornya dan nama divisi." Dia memberikan ponselnya padaku sekarang.


'Albert Reed' Aku mengetikkan namanya atasanku beserta nama divisiku, cabang kantor dan memberikan padanya.


*Kayanya aku pernah pasang nama bossnya Natalie tapi aku lupa dimana wkwkwk jd sembarang aja. Jangan protes namanya salah


"Hmm, ok. Tapi kau harus tahu bukan berarti kau bisa masuk lingkaran dalamku sekarang. Aku tak bisa memasukkan orang luar ke operasiku. Dan aku tidak akan mengatakan siapa aku padamu, apa statusku, siapa bossku, aku hanya akan mencoba menawarkan kesediaanmu bergabung."


"Tentu saja. Aku hanya ingin punya kesempatan yang lain seperti yang kubilang, bukan untuk mengetahui operasimu. Aku juga tahu kau tak bisa memasukkan orang luar kecuali yang memang sudah terlibat sejak awal."


"Baiklah,..."


"Kenapa kau, kenapa tiba-tiba memelukku?" Dia menatapku dengan heran...


"Kenapa kau bertanya begitu?" Aku yang heran kenapa dia bertanya, ini hanya rasa terima kasih sebagai teman. Lagipula aku menyukainya, aku tidak keberatan.


"Aku tidak meminta bayaran merekomendasikanmu. Aku tidak akan memanfaatkanmu seperti itu." Dia melepaskan pelukanku.


"Aku tak menganggap kau memanfaatkanku.Ini hanya..."


"Tidak Kate, kita tidak akan melakukan ini." Apa dia serius menolaknya? Bukankah kami sudah pernah melakukannya sebelumnya.


"Kenapa..."


"Karena kita berteman. Teman tidak saling memanfaatkan seperti itu." Dia serius menolakku dalam kesempatan pertama.


"Tapi..." Dia melepas pelukan tanganku.


"Aku tak akan menyentuhmu..." Dia tersenyum padaku. Aku tak mengerti pria yang satu ini. "Tapi aku akan menciummu saja, dia mengamit pinggangku dan menciumku singkat. Aku langsung kehilangan pelukan hangatnya. Dan hanya bisa bertanya apa arti ciumannya itu.


"Nathan?" Aku menatapnya dengan aneh, kenapa sebenarnya dia menolakku.


"Di duniaku aku tak ada istilah teman seperti yang kau bilang. Term temanmu itu terlalu rancu dan rumit untukku." Dia menjauhkan dirinya dari diriku.


"Apa kau menolak membantuku?" Tiba-tiba aku menyimpulkan kenapa dia menolakku.


"Aku akan membantumu tapi aku tak perlu bayaran seperti yang ada dalam pikiranmu. Apa yang akan kau lakukan? Apa kau berpikir aku akan memintamu tidur denganku."


"Kau yakin? Jika kau menolak membantuku katakan saja..." Mungkin saja dia ingin mengingkari perjanjian kami, alasan kedua yang bisa kutemukan, dia adala bang*sat sebenarnya, dia boleh dijadikan target pembunuhan.


"Aku akan berusaha membantumu, tapi kau tak usah membayarku seperti itu. Teman tak saling membayar seperti itu. Apa aku meminta bayaran."


Sekarang aku kehabisan kata-kata. Hanya bisa menatapnya dengan aneh. Apa dia memang sebaik itu.


"Kau aneh." Dia tertawa.


"Jika aku berkata kita teman, aku akan bersikap tulus, tapi jika kau mengkhianatiku, kau tak akan pernah melihatku lagi dari pandanganku, seperti Enrique, aku akan menyuruh orang lain mengurusmu sesuai aturan. Kau mengerti... Lagipula aku akan mengajukan kesediaanmu, bukan berarti bossku akan setuju. Jika kau tak berhasil kau boleh mengundurkan diri dan jadi auditorku saja di Garcia Int." Aku tertawa.


"Hmm...baiklah. Setuju." Dia tersenyum melihatku.


"Istirahatlah sana, ... hari ini pasti membuatmu tertekan bukan. Maaf harus memaksamu seperti tadi pagi. Tapi aku harus memastikan di pihak mana kau berdiri." Aku melihatnya dengan perasaan campur aduk.


"Terima kasih jika begitu...."


"Aku tak berjanji ini akan berhasil. Lagipula kau pasti harus melakukan sesuatu yang dimintanya nanti."


"Iya aku tahu. Terima kasih."


"Sana pergilah. Kau perlu istirahat. Ini hari yang panjang." Aku tersenyum dan meninggalkannya. Aku sudah membuat pertaruhanku. Entah ini berhasil atau tidak, kita akan segera tahu.