
Fokus , tujuanmu adalah masuk lebih dalam ke organisasi, bukan pacaran dengannya.
"Aku sudah lama tak berlatih, aku akan jadi lawan yang mudah..."
"Aku tak akan mempersulitmu." Dia tersenyum kecil...aku bisa memandangi senyumannya seharian. "Tapi terserah padamu, kau bebas memilih partner sparring, lagipula kau bisa tidak bertarung, hanya menonton kami untuk pertaman atau mencoba faselitas lainnya. Jika Alex langsung memberimu sabuk hitam artinya kau memang layak di levelnya."
"Aku akan mencoba... Aku memang butuh latihan lagi. Baru kembali ke NY Tuan Nathan." Tuan Alan bilang kami akan melaporkam soal Enrique saat dia kembali awal minggu.
"Iya aku baru kembali. Akhir pekan biasanya kami memang berlatih, entah dimana Louis, biasanya dia paling semangat untuk berlatih dan tak disangka aku menemukan punya kepala auditor pemegang sabuk hitam jiu jitsu." Aku meringis lebar. Aku bukan tipe Amanda yang bisa lari kencang dengan stiletto kukira, itu salah satu cabang beladiri juga harusnya.
"Louis tak berlatih Jiu jitsu?"
"Tidak dia boxing, kau pernah menyentuh boxing?"
"Tidak, itu nampaknya bukan buat wanita." Dia tersenyum.
"Kau benar, itu memang bukan buat wanita..." Pertama kalinya aku bicara pada Nathan diluar masalah pekerjaan.
"Holy s*hit?! Black belt?!" Sekarang Louis yang datang pada kami. Dia menunjukku...
"Alex mengetesnya sendiri dan memberikan dia beltnya. Dia senior dari 80% populasi disini."
"Kau ternyata wonder woman..." Aku langsung tertawa.
"Itu hanya karena aku terlalu terobsesi dengan martial art waktu kuliah lagipula aku tinggal di lingkungan Brooklyn."
"Aku suka kau, kupikir kau masih beginner, tak kusangka kau black belt. Kau sangat merendah rupanya! Pantas saja kau bisa memutar tangan orang."
"Tangan siapa yang dia puntir?"
"Enrique ..."
"Tentu saja dia."
"Kalian membicarakan aku." Enrique Gonzales orang yang kami bicarakan datang. Sekarang aku melihatnya dengan perasaan tak suka. Tuan Alan belum melapor, dia bilang dia perlu bertemu Nathan langsung, sekarang aku mengerti jika mereka memang dekat.
"Hei Bro,..." Nathan menyebutnya Bro.
"Belt hitam?!" Enrique menunjukku."Kau belt hitam?!" Mukanya tak percaya, dia ternyata hanya sabuk coklat, kurasa hidup jadi mudah untuknya, buat apa sabuk hitam.
"Tentu saja, dia lebih tinggi darimu. Kau punya masalah dengan wanita yang punya lebih tinggi levelnya darimu?" Suasana langsung memanas.
"Chill bro..., aku hanya heran mungkin Alex pilih kasih karena dia wanita cantik."
"Kau mau sparring?" Aku menantangnya.
"Tunggu dulu...Tunggu dulu ada apa dengan kalian..." Nathan menengahi kami. Dia tak tahu kami memang berselisih. Tapi aku memang tak keberatan ingin menendangnya sekarang.
"Natalie, aku mendukungmu." Louis langsung mendukungku. "Natalie, kau yakin?" Tapi di belakangku dia berbisik khawatir padaku.
"Aku ingin menghajarnya, aku bisa menang dari pecundang itu. Tenang saja...Kemarin bahkan sia tak bisa membalik puntiran tanganku, belt coklatnya itu harusnya jadi belt kuning." Aku tentu saja punya perhitungan.
"Kau pikir kau bisa menang? Ini wilayah pria, kuberi kau saran, lebih baik kau belanja dan ke salon, jangan membahayakan dirimu sendiri."
"Kalian ini kenapa tiba-tiba datang langsung sparing? Kalian punya masalah sebelumnya?" Nathan masih mencoba mencegah sparing kami.
"Ini cuma sparring, tidak ada yang personal. Right Bro..." Berlawanan dengan Nathan, Louis mendukungku menghajar as*sho*le ini. "Aku mendukungmu Natalie! Hajar dia!" Dia tak segan menambahkan bensin.
"Louis!" Nathan tak mengerti apa yang Louis lakukan, karena memang belum ada yang dilaporkan soal penggelapan yang Enrique lakukan.
"Aku mau taruhan..."
"Hah taruhan?! Ayolah kenapa kalian malah ribut?" Nathan yang berusaha menahanku. "Alex dua orang ini tidak akan sparring." Alex yang baru tiba tak tahu permasalahan kami. Tapi aku tak perduli karena ini kesempatanku show off ke dua orang.