
“Kenapa aku membuatmu kesal?” Dia memandangku tapi hanya menatapku, lalu mengalihkan perhatiannya.
“Sudahlah aku tak akan bisa mengatakannya sekarang.” Dia tak akan mengatakannya sekarang? Lalu apa yang dia tunggu?Aku penasaran.
“Guilio, kau sedang ada masalah belakangan? Kecuali masalah selibatmu itu kau nampaknya perlu sedikit bersantai.” Aku bertopang dagu menatapnya, aku mau mengatakan sesuatu karena besok dia ke Napoli bertemu Bova. “Guilio, kau tahu aku sebenarnya kecewa Bova tak datang sampai sekarang... Kenapa aku tak bisa menghilangkan rasanya.”
“Sudah kubilang dia tidak serius... kau tak percaya.”
“Entahlah, kupikir ada sesuatu. Aku pikir janjinya kemarin itu benar-benar dari hatinya kemudian tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi, dia tiba-tiba harus pergi ke Napoli lebih awal, mungkin dia mau dikenalkan dengan gadis lain oleh Ayah angkatnya yang dia hormati. Aku tahu dia sangat menomorsatukan bisnisnya, aku kehilangan...” Aku mempermainkan gelas minumanku dengan memutar mutar atasnya sambil bertopang dagu. “Kau bisa cari tahu apa yang terjadi nanti untukku...agar aku tak penasaran?”
“Iya akan kucari tahu.” Dia tak melihatku sama sekali saat menjawabnya, mungkin aku membuatnya bosan. Sementara aku melihat kesamping dan kutemukan gadis-gadis itu masih mencuri pandang ke Guilio.
“Kau benar-benar tak mau bergabung dengan mereka?”
“Tidak. Kau jangan tanya itu lagi itu membuatku kesal.” Aku meringis lebar.
“Baiklah-baiklah, maafkan aku. Kau akan ke Napoli besok bukan ... Disana kota besar pasti banyak yang bisa kau lihat.”
“Nona Monica...” Seorang menyapaku, ternyata Luca Vicari. Dia pria yang sederhana, wajahnya tak terlalu membuatmu terpesona seperti Bova atau Guilio, tapi tetap menarik karena dia ramah. Rambut gelap andalusianya itu
“Ohhh Luca, apa kabarmu?” Dia seorang anak pemilik winery dimana aku menjual anggurku.
“Baik, kudengar kau lebih baik lagi, kau membeli tanah disebelahmu bukan, bahkan katanya kau akan membukan winery sendiri. Selamat untukmu.” Teryata beberapa hari ini berita telah menyebar, mungkin Lucas yang mengatakannya, karena dia juga menjual anggurnya ditempat yang sama.
“Luca, aku tahun depan sepertinya masih menjual padamu, pengerjaan winery masih memakan waktu.” Jika sudah berjalanpun aku perlu setengahnya untuk membiayai gaji pekerjaku.
“Kalau itu tergantung keputusanmu, kau tahu aku selalu menerima hasil panenmu.” Dia melihat ke Guilio.
“Iya, aku salah satu investor disini.”
“Ohhh, benarkah.Aku baru tahu...”
“Ohh, ya seperti biasa, kalian diundang untuk pesta Natal tanggal 27. Tuan Guilio, aku juga senang jika kau bisa datang.”
“Ohh pesta Natal tanggal 27, boleh tampaknya aku bisa kesana.”
“Ahh bagus sekali jika begitu. Monica, aku tidak punya pasangan untuk pesta ini. Bisakah aku memintamu jadi pendampingmu...”
“Aku...” Aku kaget, kami memang teman. Baru kali ini dia mengajakku jadi pendampingnya, apa dia tidak punya teman wanita yang bisa jadi pendampingnya. Hmm... sebenarnya dia baik, aku tidak keberatan.
“Tidak-tidak, aku pergi dengannya.” Tiba-tiba Guilio yang menyambar perkataanku sekarang.
“Hahh? Kau pergi denganku?” Kenapa dia harus pergi denganku, disana banyak gadis-gadis. Kenapa dia mau datang denganku.
“Tentu saja, jika tidak bersamamu, aku dengan siapa.”
“Itu Joana, Marcia....” Guilio ini merusak pasaranku saja. Kenapa dia tidak bisa mencari orang lain untuk pergi bersamanya, banyak yang ingin pergi bersamanya. Kenapa dia harus menggandengku.