
"Maaf Hisao-san, saya harus menjelaskan sesuatu disini. Mungkin Anda tidak tahu, bahwa saya bukan hanya satu kali menerima posisi pendamping. Banyak pengusaha yang lain telah memakai jasa saya sebagai pendamping. Karena saya menerima perjanjian kerjasama dengan Tuan Yamada, maka setahun ini saya eksklusif tidak menerima sebagai pendamping untuk perusahaan lain, walaupun saya tetap bisa melayani sebagai Geiko di acara ochaya. Saya Geiko, sebuah status pekerja seni, seperti yang saya bilang status saya adalah tidak berpacaran. Saya akan tetap di status saya sebagai pendamping Anda, tanpa ada hubungan khusus yang perlu dijelaskan..."
Dia diam. Nampaknya rencananya melakukan klaim sepihak yang kumentahkan membuatnya kesal. Tapi kenyataannya aku tak perduli dia kesal atau tidak, asal aku melakukan pekerjaanku dengan baik.
"Apa Anda sudah membeli hadiah untuk kita bawa?" Aku memilih mengabaikannya, bagaimana perasaannya bukan urusanku, mengingatkan hadiah pada klien yang akan kami temui. Sebagai bagian tugasku sebagai pendamping.
"Ini makan malam kita yang mengundang, apa kita harus memberikan hadiah." Dia tiba-tiba bertanya padaku.
"Kakek Anda jika mengundang orang selalu mengatakan bahwa hadiah akan membuat orang tersenyum. Dalam event di ochaya dia selalu datang dengan hadiah kecil untuk tamunya. Entah kecil atau besar, hadiah adalah untuk menghargai persahabatan dan hubungan bisnis yang terjalin. Jika belum mungkin kita masih bisa mampir ke department store. " Aku memberikan ide padanya.
"Aku sudah tahu, sudah kusiapkan. Terima kasih sudah mengingatkan." Sekarang dia tersenyum. Rupanya tadi dia hanya mengetesku.
"Oh baiklah. Apa Anda punya sesuatu khusus yang harus saya tahu soal makan malam ini?"
"Tidak, kurasa. Apa ada yang harus kutahu."
"Ahh saya mendengar istri tuan Yoshibara punya kesulitan minum karena dia alergic alkohol. Saya punya kesempatan bertemu dengannya sekali dan dia menyebutkannya."
"Ohh baiklah. Sepertinya kau malah jadi yang lebih familiar bertemu mereka disini."
"Seperti yang saya katakan saya akan mencoba yang terbaik membantu Anda sesuai tugas saya dan pengalaman saya." Dia mendengus kesal kemudian tertawa.
"Kenapa kau bicara sangat sopan, kaku dan teratur seperti itu." Aku memang bukan gadis Ropponginya. Sekarang aku menghela napas panjang.
"Kau pendamping, bukankah kita harus punya sedikit koneksi, tidak bicara kaku seperti ini." Apa yang dia inginkan sebenarnya, aku bermanis-manis dan bersikap sebagai kekasihnya. Aku hanya pendampingnya, pendamping tidak memamerkan kemesraan didepan klien. Menyebalkan!
"Saya hanya bersikap sopan pada Anda, maaf jika kesopanan saya menganggu Anda." Apa yang kau harapkan?! Aku merayumu?! Pulang, tidur dan bermimpilah saja! Kau pikir semua orang akan dengan sukarela merayumu?! Kau yang bodoh! Kau pikir kau bisa membeliku hanya dengan champagne tower dari Kakekmu! Aku tak semurah itu. Aku langsung terpancing membencinya.
Didalam hatiku aku menyumpahinya habis-habisan tapi mukaku tetap dengan senyum kecil. Seperti yang dia katakan double faceku sempurna.
"Baiklah, bagaimana jika kita mulai dengan pertanyaan pribadi. Kudengar kau berasal dari Tokyo."
"Meninggal sejak umur saya 15." Dia diam sebentar.
"Ayahmu?"
"Meninggal di umur saya ke 17." Aku menjawabnya dengan ekspresi standar tidak punya emosi, datar, dengan wajah dihiasi senyum kecil.
"Ohh kasihan sekali."
"Saya tidak perlu dikasihani." Aku menjawabnya singkat. Lagi-lagi datar dan aku duduk tegak didepannya.
"Kenapa kau bisa berakhir di Gion?"