
Aku benar-benar dipanggil menghadap Nathan Garcia keesokan harinya. Aku sedikit tak tenang, tapi aku sadar aku memang perlu merasa takut padanya, menjadi sombong didepannya akan membuatnya melihatku sebagai ancaman.
Ada Louis Allen di sampingnya di ruangannya duduk di sofa ujung ruangan, aku merasa Louis ini lebih ramah dari Nathan, walau dari wajahnya umur mereka terlihat setara.
Dia lebih sering muncul di kantor ini, dia juga punya tim sendiri sebagai pimpinan divisi Corporate Secretary, otomatis tim yang bertanggung jawan langsung dibawah Nathan, seperti halnya tim Internal Audit kami yang dibawahi oleh boss-ku Tuan Alan. Terpisah dari unit fungsional lainnya, corporate secretary adalah unit penghubung dan koordinator ke pemegang saham. Pribadinya terlihat cocok untuk tugasnya yang menghubungkan banyak orang, pribadinya ramah dan banyak senyum, dia seperti punya aura kebalikan dari Nathan, faktanya dia lebih sering muncul di kantor ini daripada Nathan, dan Alan yang merupakan boss langsungku justru juga lebih jarang muncul disini.
“Siang Tuan Nathan,...” Dia melihatku, tampaknya kejadian semalam masih menyisakan jejak di wajahnya. Wajahnya yang tanpa emosi itu tampak semangkin tak peduli.
“Duduklah...” Dia menunjuk kursi didepanku. Aku duduk dan tak berani bicara apapun. Tapi mungkin aku lebih baik bicara dulu, salah-salah dia mengeluarkan energi mengancamku dia akan melampiaskan kekesalannya. Menjadi sasaran pelampiasan itu tak enak.
“Tuan Nathan, saya tahu kenapa Tuan Nathan memanggil saya kemari, saya bersumpah saya tidak akan mengatakan apapun kepada siapapun soal semalam. Jika saya melanggar kata-kata saya sendiri jika ada gosip dikantor ini karena saya, saya siap dikeluarkan, saya butuh pekerjaan ini Tuan Nathan. Saya tidak perduli urusan pribadi Tuan, saya hanya ingin mempertahankan perkerjaan saya. Anda tak perlu mengeluarkan energi memperingatkan saya, saya tahu diri...”
Aku langsung bicara dengan cepat sambil mengangkat tanganku tanda aku bersumpah padanya. Dia melihat padaku sambil meringis melihat cepatnya aku bicara, aku tahu tindakanku semalam bisa jadi pedang bermata dua, tapi daripada berkarat di internal audit lebih baik aku melakukan sesuatu.
“Hmm, fine.” Dia ternyata memang ingin mengancamku.
“Ehm, itu... saya tak bisa mengatakannya.” Aku mengkerut saat Louis mendekatiku, senyum manis itu akan membawaku ke neraka bernama kegagalan misi.
“Jangan pelit informasi, aku akan melindungimu, kami teman, teman menjaga rahasia satu sama lain.” Louis masih mencoba mengorek informasi.
“Saya tidak bisa mengatakannya.” Louis merayuku untuk mengatakan sesuatu. Mulutku terkunci, mana mungkin aku akan mengatakannya.
“John semalam bersamamu pasti, pantas saja aku merasa ada yang aneh denganmu pagi ini. Urusan pribadi? Apa yang kau maksud urusan pribadi Nathan.”
“Sudahlah nanti kau juga tahu.” Nathan mengelak membicarakannya sambil melihat panggilan masuk ke ponselnya dan mengabaikan, bahkan memutuskannya kemudian.
Gantian ponselnya Loius berbunyi. Pesan dari seseorang, dia langsung mengerutkan kening. ‘Amanda mencarimu? Kenapa tidak meneleponmu saja, itu tadi telepon darinya...” Dia melihatku dan Nathan bolak balik, membuat kesimpulan di otaknya. “Katakan padaku, dia bertengkar dengan Amanda, kenapa,hubungannya dengan dia apa yang kau lihat Natalie?” Tangannya menunjuk ke Nathan.