
Aku melihat muka orang-orang yang membuat keributan ditempat itu nampaknya memerah. Pasti dihajar oleh anak buah Luca. Orang Luca yang membawa mereka keluar dari pintu dari pintu belakang.
Tuan Armando menghampiriku kemudian.
"Tuan Armando, mereka dibawa kemana?"
"Luca akan berhadapan dengan boss mereka Nona. Dan mengancam mereka agar tak berani lagi menggangumu."
"Boss mereka?"
"Iya, Luca akan bicara pada bossnya agar tak menganggumu lagi." Baiklah nampaknya ini juga akan jadi pembicaraan yang berdarah-darah karena anak buahnya dihajar oleh Luca.
"Siapa Luca itu?" Sekarang aku penasaran.
"Ohh dia pemilik sasana tinju dan Gym, sebenarnya dia menjalankan bisnis jasa keamanan untuk Tuan Bova juga. Tapi tak ada catatan Tuan Bova terlibat secara langsung.
"Kenapa orang-orang takut padanya?"
"Dulu di masa-masa dia masih tak takut mati, dia pernah menang 15-1 melawan pengeroyoknya. Itulah asal tanda jahitan di wajahnya itu, beberapa orang lawannya tewas dan yang lainnya cedera berat sepertinya. Tapi dia tetap hidup walau dua peluru bersarang di tubuhnya. Sejak itu tak ada orang di dunia underground tak tahu namanya."
"Wow..." Aku membayangkan seorang monster yang tumbang saat terakhir sementara disampingnya lawannya sudah roboh semua.
"Bagaimana perang media sosial Anda? Mereka memakai kelompok buzzer, saya sudah menghubungi satu orang yang bisa membantu Anda menghadapi ini. Fokus anda memperbaiki site-site resmi dengan menghubungi mereka langsung, sementara orang ini akan melakukan campaign tandingan untuk Anda."
"Bagaimana biayanya?" Tentu saja aku mengkhawatirkan biaya yang harus aku keluarkan.
"Tenang saja Nona, soal biaya saya di tanggung oleh Tuan Bova dan teman-temannya. Kami harus memastikan Anda tidak kehilangan citra Anda. Jika tidak kami akan kalah, saya tidak pernah setengah-setengah membantu klien saya. Kemenangan saya harus saya upayakan bersih."
"Begitu, baiklah. Saya orang biasa Sir, saya tidak berani ikut proxy war." Tuan Armando tertawa.
"Anda sudah bagian dari proxy war-nya Nona, soal biaya biarkan boss yang menyediakan." Itu membuat lega, dan membuatku bersyukur.
"Ohh ya bagaimana tentang orang yang terlibat dalam sabotase mobil?"
"Polisi sedang mendalami kecocokan wajahnya, mereka sedang memeriksa database. Mereka sudah mendapatkan wajah jelasnya. Seorang laki-laki yang berumur tidak lebih dari 30 tahun...Kita tunggu saja hasilnya."
"Hmm baiklah. Aku takut dia melakukan sesuatu yang lain lagi. Orang-orang tadi apa tak dibawa ke kantor polisi."
"Luca yang mengancam mereka, dia punya rencana sendiri. Group itu akan menurutinya Nona."
"Apa Bova itu punya banyak orang seperti Luca Tuan Armando?"
"Keluarga Bova termasuk kuat di Central Italia Nona, dan belakangan Tuan Bova menjalin hubungan baik dengan keluarga Guilio Berutti, keluarga yang berpengaruh wilayah selatan, wilayah Sicily, dia meminta orang Guilio untuk menjaga Ayah dan rumah Bibi Anda juga."
"Aku tak tahu siapa yang dia minta yang penting Ayahku aman."
"Kurasa cepat atau lambat Anda akan bertemu Tuan Guillio juga. Perusahaan keluarga Bova punya investasi di sana. Ohh ya Tuan Bova mempercepat kepulangannya hari ini. Sepertinya malam ini dia sudah sampai. Tadinya dia bilang besok, saya akan bertemu dia di sini sambil makan siang besok. Kalau begitu saya kembali dulu masih ada di kantor yang harus saya kerjakan."
"Baiklah. Terima kasih Tuan Armando."
Malam ini Oven kembali, aku merindukannya, dia pergi sudah dari awal minggu. Entah apa dia akan kesini lagi nanti. Tapi apakah aku boleh bertanya padanya, mungkin ini menganggu untuknya.
Aku maju mundur untuk berkirim pesan. Dia bilang tak suka ditanya... Mungkin sebaiknya aku tak bertanya saja agar dia tidak terganggu? Jika dia mau kesini pasti dia akan datang. Mungkin sebaiknya begitu? Walau aku ingin mengiriminya pesan.... Sedikit menyebalkan, hubungan baru, harus melakukan banyak penyesuaian.
Kubatalkan saja karena aku takut menganggunya akhirnya. Aku memang hanya berkirim pesan padanya diatas jam 9 jika tidak ada yang penting. Kurasa saat itu biasanya makan malam sudah hampir selesai. Walaupun kadang beberapa orang masih dalam acara makan malam.
"Nona, kau ke jadi ke restoran yang lain?"
"Iya, ayo kita pergi." Ayo kita mengurus pekerjaan dulu, ada pertemuan untuk sebuah kerjasama dengan sebuah penginapan hari ini.
Restoran ke-dua ku ini jaraknya sekitar 45 menit perjalanan. Mungkin aku bisa kembali kesini sebelum jam makan malam.
Belum sempat aku masuk ke mobil seseorang meneleponku. Dari Bibi,...
"Bibi, ada apa?"
"Benarkah Bibi, apa Bibi sudah menelepon orang yang bisa Bibi mintai tolong disana."
"Sudah, dia bilang dia akan mencari siapa yang bertanggung jawab segera. Entahlah, Bibi takut juga jika mereka mencelakai."
"Tidak Bibi, mereka tidak akan berani. Sekali mereka berani melukai dan terbukti maka mungkin hukuman Fabricio Gianni akan tambah berat lagi, tujuan mereka adalah menekanku supaya takut dengan mereka." Aku menjelaskan pada Bibi.
"Sini aku mau bicara pada Eliza...." Ada suara Ayah disana.
"Eliza, besok Ayah mau ke Milan. Kasihan Bibimu disini terdampak, Ayah sudah sehat, akan kupukul kepala bandit-bandit itu! Ayah tak bisa membiarkanmu disana sendiri! Besok Ayah pulang!" Ayah marah-marah dan memberikan teleponnya ke Bibi lagi.
"Eliza, Bibi tak bisa menahan Ayahmu. Bagimana menurutmu?" Mereka sudah tahu Ayah disana ternyata. Memang kasihan keluarga Bibi. Takut mereka diganggu lagi.
"Ya sudah Bibi, terima kasih Bibi sudah menjaga Ayah."
"Apa yang kau katakan. Ayahmu sudah banyak membantu Bibi. Jika kau tak mengizinkan Bibi akan berusaha menahannya..." Aku tertawa kecil.
"Bibi mana mungkin kau bisa menahan Ayah jika dia sudah marah-marah begitu. Tak apa kurasa aku akan bisa menjaganya disini, ada orang yang membantuku menjaganya."
"Baiklah jika begitu." Baiklah Ayah akan kembali ke rumah. Dia bisa membantu mengawasi restoran utama. Mungkin lebih baik jika dia kembali daripada membahayakan keluarga Bibi. Gianni itu memang benar-benar punya kemampuan melacak orang.
Aku menghela napas dengan kejadian demi kejadian yang harus kuhadapi sekarang. Tapi ini jauh lebih baik daripada menanggung rasa bersalah membiarkan Valentina di tangan Adriano Gianni.
Aku sampai ke restoran ke dua-ku, menemui kolega sambil makan malam.
"Ini makanan basi!" Seseorang membanting piring di mejanya. Semua orang menoleh ke sumber suara itu sekarang. Sekarang ada tiga orang di meja itu. Mafioso kurang ajar! Akan kuhadapi kau sekarang! Sekarang aku akan mencekik bangsat pengacau ini sendiri.
"Tuan Raul, sebentar saya mau menendang orang Gianni ini keluar dari restoran saya." Aku bergegas ke depan meja mereka.
"Ada apa sir? Kenapa Anda membuat keributan? Saya pemilik restoran ini? Apa ada masalah?" Aku masih menggunakan nada biasa sekarang.
"Ini pasta basi, restoran sebesar ini menyajikan pasta basi?!" Dia melempar piringnya di meja. Aku mengambiĺ piring pasta yang dia lempar di mejanya dan memakannya di depannya.
"Pasta ini masih panas pengacau. Kau suruhan Gianni untuk membuat kekacauan disini, belum cukup Gianni membuat hidup kami kacau! figlio di puttana! ( son of *****)!
Mangia merde e morte! (Eat **** and die)! Mortacci tua! (leluhurmu gob*lok!) A fanabla! (Go to hell!)."
Aku langsung mengucapkan kata-kata kasar sambil menunjuknya, karena akumulasi kekesalanku beberapa hari ini dan melampiaskannya pada mereka.
"Wanita gila! Berani kau bawa-bawa leluhurku." Seorang pria menamparku dengan keras sehingga aku terdorong ke belakang. Kepalaku langsung pusing. Bibirku perih karena tamparan keras itu.
"Kau gila! Pria main tangan dengan wanita! Tidak ada yang salah dengan pastanya!" Seorang pria langsung berdiri, disusul dengan pria lainnya. Aku tak akan mundur dengan sekali tamparan.
"Orang-orang ini sudah mengacau di restoran kami yang lain! Sekarang kaki tangan yang lain menargetkan restoran lain lagi. Mereka tak akan berhenti."
"Keluar kau! Dasar penjahat rendahan!" Di sekitar meja itu ternyata beberapa orang laki-laki turut membelaku. Ternyata mereka tahu semua perselisihan restoran ini dengan Gianni. Liputan media memang luar biasa.
"Keluar kau!" Sekarang kepala chef-ku disini tiba-tiba membawa penggorengan.
"Kurang ajar! Kau apakan Nona! Berani kau menampar wanita! Keluar kau stronzzo!" Juan dan yang lain berlari masuk saat ada keributan dan mencengkram kerah baju mereka dan menyeret mereka diiringi sorakan riuh pengunjung restoran.
"Cornuto! Kau yang akan kuhajar."
Para Mafioso itu melawan tentu saja. Tapi dibantu keamanan dan para laki-laki yang ada disamping mejaku. Mereka tak berkutik. Sekarang aku merasa sudah ikut dalam perang antar geng mafioso.
Mereka menyeretnya ke tempat parkir. 8 orang lawan 3, kepala chef ku bahkan dengan pengorengan masih ditangannya. Aku keluar ikut melihat mereka dihajar rasanya ingin aku ikut menghajar mereka.
"Berani kau menampar Nona heh! Kau mau mati!" Satu bogem melayang. Disusul perkelahian lainnya. Tiba-tiba seseorang mengambil sesuatu di pingangnya.
Juan tanggap langsung merebutnya. Orang itu membawa senjata! Entah bagaimana pistol itu meletus! Astaga
"Nonaaaa!" Sebuah sengatan rasa sakit membuatku limbung dan terjatuh!
-------- bersambung besok!