
"Ahhh itu malam yang indah." Mari mengenang lagi, dan kepalaku ikut dipenuhi bayangan mesum mengikuti mereka. Setsuko-san kau jangan ikut gila! Aku harus mandi air dingin sekarang untuk mencuci semua bayangan di kepalaku.
Mereka bergosip aku hanya mendengarkan. Bergosip tentang pria-pria di dalam sana yang semuanya murah hati. Gadis-gadis ini rata-rata mendapatkan apa yang mereka mau. Aku hanya tergangga melihat pembicaraan mereka yang sangat seru.
Dunia gadis-gadis ini kelihatannya sangat seru. Benar di duniaku hanya ada kakek-kakek dan bapak-bapak dan wisatawan yang terlalu penasaran. Sekarang aku merasa hidupku kurang berwarna di antara lantai-lantai tatami ochaya, samisen dan kipas yang menemaniku menari.
Pertemuan itu berakhir kemudian. Aku dengan cepat berdiri saat Hisao kembali lagi ke ruangan depan dan berada di sampingnya lagi. Memberi salam ke Pamannya yang harusnya mengenalku, aku pernah beberapa kali berkesempatan melayani makan malam.
"Ahhh gadismu yang ini kelihatan berbeda."
"Dia Setsuko dari Kyoto-Gion, apa Paman tidak mengenalnya." Dia menatapku dan aku membungkuk hormat.
"Astaga Setsuko-san, aku biasa melihatmu dengan make-upmu. Maafkan aku tak mengenalmu. Tapi kenapa kau bisa berkenalan dengannya?" Dia juga tahu Hisao tak suka menginjakkan kakinya di ochaya.
"Kakek yang mengenalkannya." Hisao berbicara dengan nada rendah.
"Kakek?" Paman sedikit meringis sebelum tertawa terbahak-bahak. "Kau memang mengkhawatirkan Hisao sampai harus kakekmu yang turun tangan." Dia kembali padaku. "Setsuko-san tak disangka kau harus menangani Hisao ini, bersabarlah..." Aku meringis kecil. Aku tak tahu apa maksudnya bersabarlah, sepertinya dia sopan-sopan saja sekarang. Kecuali sebelumnya dia memang menyebalkan...
"Saya selalu mengusahakan yang terbaik Yamada-san."
Tak lama Pamannya pergi. Gadis-gadis mulai mengerubungi kami yang pertama adalah Mari tentu saja.
"Hisao-san, lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu." Gadis itu menyapanya dengan sopan. Ini gayanya berbeda dengan Aoki yang menempelnya seperti perangko.
"Mari-chan. Kau nampak semangkin cantik." Memang dasar pria playboy. Aku membuat penilaianku sendiri.
"Hisao-san, kapan kita bisa makan malam bersama lagi. Aku selalu menunggu teleponmu..." Yang ini adalah tanda terus terang.
"Aku sibuk belakangan. Maaf belum bisa ke tempatmu lagi. Mungkin nanti jika ada klien perlu dihibur aku akan menyempatkan ke tempatmu." Janji palsunya ke semua gadis ternyata sama.
"Hisao san, lain kali kemari juga, jangan ke Lalah Club terus. Kami akan menunggumu disini." Gadis lain juga berusaha dengan caranya sendiri.
"Tentu, aku tak akan melupakan kalian. Nanti aku akan mencari waktu."
"Ahh Hisao-san, bagaimana jika berkunjung ke tempatku." Mari-chan memutuskan menambah usahanya, sekarang dia memegang tangan Hisao-san.
"Nanti kutelepon Mari." Janji palsu lagi.
"Aku boleh punya nomor teleponmu?"
Hmm... aneh, kenapa dia tidak menangapi mereka. Setidaknya dia bisa mendapatkan sedikit keuntungan. Gadis-gadis itu sepertinya rela melakukan apapun untuknya. Tapi aku tak berani berkomentar.
"Ada yang kaudengar dari gadis-gadis itu?" Tiba-tiba dia bertanya.
"Mereka rela melakukan apapun untukmu. Mengharapkanmu datang setelah kau tidak sering bersama Aoki lagi."
"Itu saja..."
"Kurang lebih, tidak ada yang penting di pembicaraan mereka. Hanya gosip gadis-gadis."
"Kau menganggapku jelek sekarang pastinya?"
"Hmm, menganggapmu jelek? Kau memang sudah jelek dari sananya." Aku terkikik kecil menanggapinya dan dia meringis memandangku kemudian. "Hisao-san tenanglah, aku tahu pria populer sepertimu itu punya banyak pilihan, aku tak menghakimimu, itu kelebihanmu karena kau bekerja keras mendapatkan posisimu ini, tapi akhirnya kau akan berakhir dengan salah seorang yang keluargamu anggap pantas kukira."
"Hmm..." Dia tidak mengatakan apapun.
"Semangat Hisao-san."
"Sekarang kukira Kakekku benar tentangmu. Aku akan berterima kasih padanya. Kau pendamping profesional terbaik."
"Terima kasih. Kau tak akan mendapatkan apapun dengan memujiku. Lebih baik kau puji salah satu gadis itu."
"Lain kali aku tak akan mau memujimu lagi." Dia membalasku dengan segera.
"Pelit."
"Katakan lagi aku pelit. Kubatalkan liburanmu."
"Baiklah Hisao tampan. Kau adalah pria paling baik hati se Jepang."
"Pujian paling palsu yang pernah kudengar." Aku tertawa ngakak sekarang. Dan dia cuma melihatku tèrtawa puas tapi dia tak tersinggung.
Dan sekarang aku merasa kami benar-benar bisa bicara satu sama lain sebagai teman tanpa tersinggung satu sama lainnya.
Pendamping pribadi ini menyenangkan juga.