
"Sebenarnya ada apa dengan paus?" Aku mengorek Mama ketika dia kembali ke kamar hotel?
"Besok kita melihat paus dan lumba-lumba, tak ada apa-apa. Sudahlah Mama sudah mengantung perjalanan hari ini melelahkan sekali." Mamma menjawabku pendek setelah kembali dari makam malam. Dia tak mau memperpanjang masalah.
Tak ada yang memberitahuku ada apa dengan paus dan ubur-ubur akhirnya, semuanya tutup mulut. Terserah pada mereka saja. Aku tak mau memusingkan paus dan ubur-ubur.
Aku terbangun kesiangan esok paginya. Mama sudah keluar dari kamar dan turun sarapan. Mereka akan melihat paus katanya jadi jam 9 mereka sudah pergi ke dermaga dan mengikuti kapal pertama yang berangkat. Kenapa mereka bersemangat lagi melihat paus itu.
Aku disuruh mengikuti Guilio saja. Baiklah, terserah.
Aku melihat pesan di ponselku dan memejamkan mataku lagi. Jarang aku bisa bangun siang di pertanian. Jam 9 pagi... aku masih mau tidur di ranjang yang empuk ini.
"Guilio, kau sudah turun?" Aku meneleponnya dengan suara baru bangun tidur. "Orang tua kita meninggalkan kita dengan kapal pertama."
"Aku tahu, aku sudah turun. Tapi belum sarapan, nanti bersamamu saja, aku sedang berjalan di pinggir pantai, hanya jogging, tidurlah jika kau masih ingin tidur."
"Hmm sebentar lagi aku bangun... Kita bertemu di tempat sarapan saja." Aku bangun dengan malas kemudian mencuci muka dan turun ke bawah untuk mengambil sarapan.
"Kenapa mereka tidak menunggu sebentar." Aku menghempaskan diri di kursi.
"Entahlah...Kapalnya sampai jam empat sore terakhir, kita bisa ikut kapan saja, kapalnya banyak, kau ingin private tour juga bisa. Ada area snorkeling disini. Tinggal daftar." Guilio menjelaskan padaku.
"Aku mau melihat paus, kelihatannya cuaca akan cerah, aku mau ikut mereka segera..." Kami sarapan berdua saja dengan tenang. Dengan gadis-gadis mencuri pandang ke Guilio yang hanya memakai tshirt pas badannya tentu saja, tapi aku sudah terbiasa.
"Tak ada gadis yang kau goda saat jogging tadi?" Aku bertanya dengan penasaran sekarang.
"Sumpahku belum kulanggar. Masih tetap dengan selibatku." Aku tertawa saja mendengarnya. Tampaknya kemajuan besar untuk seorang Guilio.
Jadi kami sarapan dan kemudian Guilio menunjukkan yatch yang kami sewa. Itu adalah private tour, dia berbagi dengan satu pasangan yang kami temui.
Yacht private tour itu bahkan menyediakan makan siang untuk paket tour itu. Kami berlayar dengan durasi waktu maksimal empat jam untuk melihat lumba-luma dan paus.
### ### sewa kapal kaya gini € 935 buat 3 -4 jam disana, sekitar 16 jutaan.
🍁🍁🍁🍁
"Kau senang..." Aku duduk di dek kapal dan berjemur, sementara Guilio ada di sampingku.
"Hmm..." Menyenangkan tentu saja kapan lagi kita bisa liburan panjang seperti ini.
Tak lama kemudian kami sampai di spot dimana kami bisa melihat paus dan lumba-lumba lewat. Sebenarnya ini tergantung keberuntungan juga. Tapi kali ini kami cukup beruntung. Kami bisa bertemu paus dan lumba-luma Atlantic.
"Kau ingin tahu..."
"Tentu saja." Dia menatapku dan tersenyum.
"Aku memang lamban seperti kata Ayah." Dia tertawa sendiri. Aku jadi tak mengerti. "Pausnya itu kau ... "
"Pausnya itu aku..." Aku mengerjab melihatnya.
"Aku selalu tertarik dengan ubur-ubur penyengat, dan melewatkan melihat pausnya."
"Aku pausnya..."Aku sejenak tak mengerti sebelum aku menangkap apa yang dia maksud.
"Monica, jadilah kekasihku... Astaga ini mungkin tak romantis. Aku binggung bagaimana mengatakannya." Aku terpaku begitu saja menatap matanya. Jadi semua orang kemarin sudah tahu alasan dia mengajakku kesini, Mamma, Zia, Zio. Mereka semua mengatakan Guilio lambat, itu pula alasannya mereka meninggalkan kami berdua sekarang.
"Kenapa kau mengatakan ini. Kau tahu..." Dia langsung memotongku.
"Dengarkan aku Monica, ... Aku selalu tak mengerti kenapa aku takut dengan komitmen dengan pacar-pacarku, tak ada satupun dari mereka yang membuatku bisa mengambil keputusan besar, sampai kemarin aku bertemu dengan seorang teman di Hongkong. Dia bilang mungkin sebenarnya aku punya seseorang, seseorang yang bisa membuatku duduk betah disampingnya berjam-jam tanpa bicara, seseorang yang membuatku tak ragu melalukan apapun bahkan tanpa diminta. Mungkin aku yang tak sadar karena terlalu banyak wanita lalu lalang di hidupku selama ini... Baru saat itu aku tahu siapa yang aku cari. Kau pausnya..."
Aku tak suka diumpankan sebagai paus. Tapi pengakuan ini rasanya memang terlalu aneh. Selama ini aku tak pernah berharap pada Guilio... bahkan aku pernah menikah dengan orang lain.
"Ini ..."
"Kemarin aku mau bicara, tapi mereka memanggil kita untuk makan malam, sial rasanya mendebarkan. Aku memang binggung bagaimana mengatakan ini padamu. Tapi karena kau bertanya soal paus ... jadi inilah kebenarannya. Jangan lempar aku ke ubur-ubur penyengat..." Dia tertawa lega nampaknya.
Apa yang harus kukatakan sekarang. Otakku beku, aku hanya bisa menatapnya. Seseorang yang bisa duduk bersamamu tanpa kau merasa terganggu.
"Aku ingin tetap menjadi sahabatmu, seumur hidupku ..."
"Guilio, ini terlalu cepat." Aku menghentikannya, bagaimana jika dia mengatakan sesuatu hal yang nampaknya seperti lamaran. "Bagaimana jika kau bertemu gadis cantik dan jatuh cinta padanya."
"Ohhh aku sudah ratusan kali bertemu gadis cantik, tapi tak ada yang bisa membuatku merasa ingin cepat pulang kerumah."
"Kau sedang mencoba merayuku, kulempar kau ke paus didepan sana." Aku yang merasa selama ini dia tak pernah bersikap romantis padaku, merasa ... agak tak bisa menerima sikapnya.
"Aku bukan merayu Monica, itu yang sebenarnya. Apa kau pernah mendengar aku bicara begitu, aku menceritakan gadis-gadisku padamu. Apa pernah kau dengar aku bicara begitu, yang kuceritakan cuma bagaimana mereka merayuku dan hal-hal remeh lainnya. Apa kau pernah memdengarku ingin serius dengan seseorang. Aku ingin serius, tapi malah aku tak bisa... Kau tahu sendiri ceritaku."
Aku melihat matanya, dia memandangku tanpa takut seolah yang dikatakannya adalah kebenaran.