The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 23. I Don't Like You Too 3



Dua minggu setelah pertemuan itu, tugas pertamaku adalah menemani jamuan makan private yang dilakukan setelah penandatangan sebuah kerjasama.


Hisao tidak pernah mencoba bicara denganku, aku juga tak mau meneleponnya. Aku berusaha menjalin hubungan baik dengan assitennya yang meneleponku dan tahu bahwa sekarang tugas utama yang dipercayakan kepada pria 34 tahun itu adalah memegang sebuah perusahaan logistic forwarding dengan reputasi kawakan di Jepang.


Dan dalam 2 tahun belakangan setelah dia menjabat pimpinan dia berhasil menaikkan laba hampir 25% per annual sehingga dianggap oleh keluarganya berhasil.


Dan sore ini aku tiba di kantornya di kawasan Marounochi, Tokyo. Seorang assisten mengantarku masuk ke ruangannya.


"Selamat sore, Hisao San." Aku membungkuk sopan saat tiba di kantornya di sebuah sore, dengan modern formal attire bernuasa putih dan hitam seperti dia minta, jas kerja putih dan rok hitam yang melambai selutut, dengan dandanan flawless, hak rendah dan hanya sedikit anting mutiara kecil untuk pemanis. Dua minggu dari penandatanganan itu adalah tugas pertamaku.



*formal attire yang dipakai Setsuko annggap aja begini, bagi orang Jepang normal attire selalu warna gelap/putih/pastel muda polos. No high heels, no bling-bling or gold to much, no make bold make up.


Dia menatapku. Mungkin sekalinya dia melihatku dengan normal seperti ini adalah saat kami bertemu pertama kali untuk di restoran italia itu, tapi pada saat itu aku hampir tidak berdandan. Lainnya aku dengan kostum geisha formalku.


"Setsuko-san, selamat sore. Duduklah sebentar..." Dia tersenyum kecil padaku, kusimpulkan penampilanku sesuai dengan harapannya. Sementara assistennya masih meminta beberapa tanda tangan.


Assistennya selesai dan meninggalkan ruangan memberi hormat padaku. Aku tersenyum dan membungkuk kembali pada assitennya.


"Mayumi-san, selamat sore. Senang bertemu. Terima kasih atas bantuan Anda."


"Setsuko-san, senang bisa membantu." Assistennya berlalu dengan segera dari sampingku. Kami sudah berteman sebenarnya.


"Ohh kau mengenal Mayumi?"


"Dia yang menelepon saya dan memberikan schedule, sekaligus menjelaskan siapa klien kita. Selamat atas keberhasilan kontrak barunya."


"Saya beberapa kali berjumpa dengan Tuan Yoshibara di Gion dan Tokyo, dan sekali punya kesempatan bekerja sama untuk model produknya tahun lalu."


"Ohh begitu rupanya, kau juga ternyata sering menerima tawaran model produk."


"Iya saya beruntung beberapa pelanggan mempercayai saya."


"Beberapa itu masih dihitung dengan jari atau kau tidak bisa menghitungnya lagi." Pertanyaan terus terang itu tidak mungkin kujawab, aku nanti akan disangka sombong.


"Saya hanya beruntung, saya..." Dia menaikkan tangannya menghentikan pembicaraanku.


"Kau lupa aturanku, menjawabku jangan berputar-putar tidak jelas. Aku tidak bertanya nominal, aku juga tahu itu tak bisa kau katakan, hanya bertanya sebuah bayangan umum."


"Mungkin akan saya katakan saya tak bisa menghitungnya." Aku menatapnya. Baiklah jika yang dia mau kebenaran.


"Hmm... well, bagus untukmu, tampaknya kau memang orang yang bekerja keras." Wajahnya melembut kemudian.


"Saya hanya berusaha melalukan yang terbaik."


"Kau mau minum sesuatu."


"Tidak, saya baik. Terima kasih Hisao-san." Aku membayangkan jika Aiko berani kesini, dia akan mulai bermanja-manja di ruangan ini segera begitu Hisao menawarinya minum.


"Ada yang harus kuperjelas disini, karena kau pendampingku, kuanggap kita mengaku punya hubungan...." Aku tersenyum kecil dan langsung memotongnya dengan membungkuk sopan.