
Rumah Bibi yang menghijau menantiku di Palermo. Musim dingin kemarin aku belum puas menjelajah karena banyak yang harus dikerjakan, tampaknya kali ini aku bahkan bisa bekerja dengannya di kebunnya.
"Zia, aku dan Fabri akan ke Palermo Jumat depan." Aku meneleponnya langsung begitu mendapat kepastian jadwal.
"Benarkah, disini sedang musim panen. Pas sekali kau datang. Ramai di rumah Zia."
"Iya, Fabri juga bilang Zia sedang musim sibuk. Senang bisa membantu Zia di rumah."
"Kau ingin bekerja di kebun?"
"Tentu saja, aku anak kota yang suka perkebunan Bibi. Memetik panenan itu dikatagorikan liburan untuk anak kota." Dia tertawa mendengarku ingin membantu di kebunnya.
"Baiklah terserah padamu, datanglah kapanpun kau mau. Sedikit tanning di musim panas baik juga."
Aku bisa membalas kebaikan Zia dengan meluangkan waktu lebih banyak dengannya di rumah. Mengunjunginya seperti dia dengan perhatiannya mengunjungiku waktu aku sakit. Dia sudah menganggapku putrinya kurasa. Kadang dia sengaja menelepon menanyakan keadaanku. Dimana lagi aku bisa bertemu mertua seperti itu.
"Eliza sayang..." Dia merentangkan tangannya menyambutku dengan hangat, mencium pipiku. Dalam pakaian berkebunnya. Aku senang dia menyambutku dengan casual, tanda dia menganggapku sudah orang biasa yang berada di lingkaran keluarganya. Tak ada yang berlebihan, semuanya diperlakukan sudah seperti aku anaknya yang datang.
"Bibi, buahnya banyak sekali, lihat jumlah panenmu. Kau sedang bersemangat nampaknya..." Dia tertawa, aku sudah berganti pakaian dengan pakaian yang cocok untuk bekerja di kebunnya juga.
"Kita punya banyak panenan akhir musim panas ini. Kita jadi supllier musiman toko lokal sekitar sini, jadi Bibi sedikit sibuk, tapi Bibi menyewa beberapa part timer lokal, jadi tenang saja, kita masih punya banyak waktu untuk mengobrol. Dia ramah seperti biasa. Membuatku merasa diterima.
"Aku akan membantumu Bibi. Kau akan punya tenaga kerja tambahan gratis. Ada truk pengangkut menunggu di luar, mereka sedang menunggu apa?"
"Seminggu ini akan ada semangka, melon, pumpkin, peach."Dia memetik peach yang cukup rendah pohonnya tapi buahnya bergantungan seperti lampu-lampu merah diudara. Beberapa orang bekerja dengan tangga untuk menjangkau area yang lebih tinggi.
"Kau sudah makan Eliza?"
"Sudah Bibi. Fabri juga sudah. Sebentar lagi dia datang, tadi nampaknya dia ada telepon, jadi aku kesini dulu." Aku bekerja dengan Bibi, mengobrol banyak hal dengannya.
"Wow, Mama nampaknya panen peachmu sangat banyak kali ini." Fabri datang kemudian memghampiri kami.
"Memang banyak, bagus kau pulang, kau bisa jadi part-timer gratis." Bibi melempar anaknya dengan salah satu peach yang ditangkapnya dengan mudah. "Selesaikan pohon yang ini." Bibi memperlakukannya seperti pegawainya. Aku meringis lebar melihat ibu dan anak itu.
"Yes Mam!" Dia memberi hormat dengan patuh dan Bibi tak bisa tak tertawa dengan kelakuannya. Nampaknya ini merupakan hiburan tersendiri untuknya.
Aneh tapi aku merasa sudah seperti dirumah. Membantu Bibi memanen seperti kami memang keluarga. Tak ada basa-basi yang tak perlu. Penerimaannya membuatku merasa benar-benar dianggap sudah keluarga.
Walau baru beberapa bulan, bahkan belum setahun.
"Eliza, kasusmu sudah selesai bukan? Kudengar dari Vittorio akhirnya keadaan tenang." Dia bertanya tentang hal yang membuat semua orang khawatir saat kami sudah berdua di dapur. Tempat favorite semua orang dirumah ini.
"Kurasa sudah Bibi. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Aku akhirnya bisa bekerja dengan tenang lagi."
"Baguslah. Persoalan yang memicu pertikaian kadang tak dapat dihindarkan, tapi Gianni ini memang memakai banyak cara untuk menang. Sampai berani menculik adikmu di luar negeri, mereka memang terlalu berani bermain kotor."
"Iya Bibi, rasanya memang tak tenang. Tapi nampaknya sekarang sudah usai. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan."
"Hmm...bagaimana dengan kalian berdua." Aku menebak apa yang ingin ditanyakannya.
"Bagaimana, maksudmu apa- yang bagaimana Bibi?"
"Kalian belum merencanakan menikah? Dia tak pernah bicara sesuatu?"
"Kami belum setahun kenal Bibi, aku biarkan mengalir saja. Lagipula seorang teman mengatakan padaku keadaan tenang lebih berharga dari sebuah surat dan cincin, kupikir dia ada benarnya juga, aku sudah pernah melewati ini, sekarang aku lebih menghargai apa yang ada saat ini, hubungan tenang ini, Bibi sudah menganggapku keluarga. Bisa kesini membantu Bibi. Jika dia mau mungkin di saat yang tepat dia akan memintaku Bibi."
Bibi melihatku, mempertimbangkan kata-kataku.
"Aku menunggu saja Bibi, Fabri sudah terlalu baik sekarang untukku. Aku baik-baik saja, Bibi tak usah mendesaknya. Dia tahu kapan dia ingin kami bersama, aku percaya saja padanya."
"Nanti Bibi bicara padanya."
"Bibi jangan mendesaknya. Aku takut dia merasa tertekan, kurasa senyamannya dia saja Bibi."
"Bibi tidak memaksanya, hanya membuka pembicaraan, mengingatkan. Bukan memaksa atau memintanya. Ya Bibi tahu maksudmu, kalian sudah dewasa tak ada yang akan ada yang bisa memaksa kalian. Memang lebih baik berjalan senyamannya kalian. Aku hanya ingin melihatnya punya seseorang yang dia sebut istri..."
Harapan semua orang tua itu sama sepertinya. Bukan Bibi saja, Ayah juga berkata begitu.
"Kau dan Mama sangat akrab, kurasa kau yang anaknya bukan aku." Aku melirik padanya yang baru masuk kamar kami untuk beristirahat. Kamar yang sama kami tempati musim dingin yang lalu.
"Apa itu hal yang buruk?"
"Tidak, tentu saja tidak." Aku tersenyum melihatnya, kulitnya terlihat memerah terkena matahari musim panas. Dia hanya memakai kaus lengan pendek sekarang.
"Hmm, kalau begitu tidak ada masalah bukan. Menyenangkan bisa kembali ke sini lagi."
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Banyak hal, wanita selalu punya hal remeh untuk dibicarakan..." Tak akan kuberitahu apa yang kami bicarakan tentu saja. Itu pembicaraan wanita, pria tak akan mengerti kesenangan wanita.
"Tapi ada masalah. Tapi kenapa ada bantal diantara kita..." Aku melihat bantal itu, hanya untuk tempat lenganku sebenarnya. Aku meringis padanya.
"Artinya kau tidak diperbolehkan melewati areanya." Gantian dia yang meringis. Matanya menatapku dengan penuh perhitungan.
"Baiklah, aku mau tidur saja." Dia ternyata membalasku, dia berbalik memungungiku sekarang. Ini akan jadi antara aku yang menyentuhnya dulu atau dia yang tidak bisa tidur. Kenapa dia tidak bersikap manis sedikit merayuku.
Aku membiarkannya, tapi jika dibiarkan kurasa kami berdua akan berakhir tak bisa tidur juga. Aku memeluknya dari belakang, merangkul pundaknya yang kokoh. Mengelitik telinganya sehingga dia kegelian.
"Oven, tak bisakah kau memanaskan dirimu sendiri, itu cuma bantal rupanya kau takut dengan bantal..." Dia tertawa, berbalik memelukku dengan gemas sekarang.
"Ohh Vanilla tersayangku sudah siap di panaskan rupanya. Kukira kau mau memeluk bantal saja semalaman." Aku memukul dadanya mendaratkan cubitanku ke sana membuatnya memohon ampun.
"Kekasih kejam, kau masih berusaha menganiayaku. Jangan harap aku melepaskanmu dengan mudah, mau kubuat hangus nanti, coba saja sekali lagi."
"Hmm... kau tak akan bisa tidur jika tak membuat Vanilla hangus bukan." Merasakan sesuatu disana menyentuhku dibawah sana membuatku merasa diinginkan rasanya selalu luar biasa.
"Memang tidak. Aku suka vanila yang hangus...." Aku tertawa dengan perumpamaan oven dan Vanilla ini. Entah kenapa dia juga tak keberatan dipanggil oven. Padahal jika dipikir-pikir itu panggilan yang sangat konyol.
"Oven jelek... kau selalu tahu bagaimana menghanguskan Vanilla." Cumb*uan panasnya membuatmu lupa kau sudah terbakar.
"Tentu saja, karena Vanilla juga suka memutar kenopnya terlalu tinggi." Aku menempatkan tanganku memutari daerah dadanya. Itu kenop temperaturnya dia suka jariku disana.
"Berhentilah bicara, lalukan saja tugasmu."
"Dimengerti, kau ingin masuk ke oven sekarang."
"Hmmm...iya." Aku mengigit bibirku sendiri sekarang, merasakan dia memasukkanku ke dalam panasnya yang melenakan.
"Oven aku mencintaimu, ..." Aku memeluknya erat merasakan panasnya yang bertambah.
"Vanilla-ku, jangan terlalu ribut kalau kau hangus, nanti Ibuku mendegarnya."
-----‐--###
Mak lg mau nutup cerita ngasih gula kebanyakan 🤣🤣🤣🤣