
"Hisao-san, lepas..." Aku mendorongnya tapi tenaganya bukan sesuatu yang bisa kulawan. Ciuman kasarnya adalah hal yang tak kuduga kemudian. Mengunci tengkukku dan menempelkan bibirnya padaku begitu saja dengan memaksa.
"Apa ..." Dia menaruh jarinya di bibirku menyuruhku diam.
"Setsuko-san, kau benar-benar tahu cara menyinggung orang rupanya? Jadi dengarkan aku sekarang Setsuko!" Dia memegang daguku.
"Aku selalu memperlakukanmu dengan baik selama ini. Kau bisa ke rumahku kapanpun kau mau, tidak ada gadis lain yang pernah menginjak rumahku, aku berusaha jadi temanmu selama ini, dan tak pernah memaksamu. Apa kau tak tahu artinya itu... Kau sering berhadapan dengan laki-laki, walau mereka tak mengatakan sesuatu padamu, apa kau tak bisa menerka sedikit saja pikiranku, atau kau memang kebanyakan bergaul dengan kakek-kakek , mereka memang tak mampu melakukan sesuatu padamu... Sedikit saja kau bersikap lebih baik padaku akan kuberikan apapun yang kau mau, apa aku harus merayumu? Itu yang kau inginkan? Tapi baiklah, kuanggap kau mungkin benar-benar naif, jadi sekarang apa ciuman ini menjelaskan sesuatu padamu gadis perawan..."
Pikiranku beku mendengar kata-katanya.
"Dan kau tak akan menemui Ryohei-san lagi Setsuko. Aku akan membuat masalah untuknya jika dia berani menemuimu di luar ochaya. Dan untukmu juga jika kau berani mencoba kesabaranku, kau berharap aku menerima 10 juta yen?! Aku tak akan menerimanya. Kita sudah terikat perjanjian Setsuko-san. Jelas kau tidak boleh punya hubungan pribadi dengan yang lain. Kau mengerti... Ada yang ingin kau katakan?"
"Hisao-san, kau..."
"Kemarin, kau benar-benar tak memberiku muka didepan rivalku, kau membuatku terlihat bodoh. Jika tadi kau minta maaf padaku dan menjelaskan yang sebenarnya, aku tak perlu memaksakan diriku padamu, tapi kenapa mengharapkan kejujuranmu saja sulit. Aku juga akan menjelaskan semuanya dengan baik-baik. Kau mau cara sulit? Jangan berharap aku akan melepasmu sekarang."
Dia menghela napas panjang. Dan kemudian tersenyum dingin padaku.
"Kau terkena keringatku, apa aku membuatmu lengket." Dan tiba-tiba dia melepasku tanpa rasa bersalah. Aku mundur dengan cepat, mengatur detakan jantungku yang terlalu cepat, aku perlu waktu untuk memproses semua ini.
Dia menyukaiku atau ini hanya karena dia tak mau dikalahkan oleh Ryohei-san. Tapi jika aku bertanya begitu aku hanya akan menambah masalah untuk diriku lagi.
"Aku akan ke kamarku saja." Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Atau apa yang harusnya tak kukatakan. Semuanya sekarang sudah kacau.
Aku perlu waktu untuk memutuskan apa yang harus kulakukan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seseorang mengetuk pintuku. Aku sudah bersiap-siap ke acara yang harus kami hadiri. Walaupun pikiranku sepertinya masih berkabut sekarang.
"Hisao-san..." Itu memang dia.
"Aku boleh bicara." Mana mungkin aku menutup pintu didepannya. Aku membuka pintu dan membiarkan masuk.
"Aku minta maaf soal tadi. Aku emosi, aku salah memaksamu begitu..." Sekarang dia bicara pelan padaku.
"Aku juga minta maaf." Aku masih tak tahu bagaimana aku harus bersikap, sekarang aku hanya memasang wajah ramahku.
"Minggu depan kita perlu ke dua pernikahan, tinggallah disini." Aku menatapnya, sebelumnya dia tidak punya masalah dimana aku tinggal, sekarang dia ingin aku tinggal dirumahnya.
"Setelah sore kita tak punya acara bagaimana kalau kita pergi menonton film saja dan makan malam."
"Iya boleh." Aku tersenyum dan diam menatap kedepan lagi.
Aku menutupi perasaanku yang masih kacau, baru saja aku merasa seorang begitu baik padaku. Mungkin aku juga sedikit banyak menyukainya. Tapi kemudian ternyata aku tak bisa bersama dengannya lagi karena aku terikat perjanjian. Bukankah semua cerita cintaku itu kejam. Apa aku tak boleh merasa bahagia dengan cinta.
Bukankah Hisao akan melepasku setelah satu tahun? Musim semi tahun depan? Apa benar dia menyukaiku atau dia hanya menyukaiku karena menganggapku melukai egonya, kami tidak punya masa depan. Dan sekarang orang yang mungkin menyukaiku dan kusukai juga akan menghilang. Aku sangat terpukul sebenarnya.
"Setsuko-san..."
"Iya?" Aku kaget ditengah lamunanku.
"Kau melamun."
"Maaf."
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak, hanya sedikit masalah jadwal pekerjaan." Dia sekarang memutarku menghadap kearahnya.
"Kau bisa mengatakan apa saja padaku."
"Tidak, tidak ada. Ayo kita pergi saja..." Aku tidak bisa mengatakan apapun padanya.
Lebih baik aku endapkan dulu dan minta pertimbangan Bibi. Aku hanya harus menjaga sikapku. Jika dia marah lagi bukan uangku saja yang hilang tapi sekaligus reputasi. Aku menyesal aku tadi begitu berani bicara terus terang padanya. Aku lancang...
Tak lama kami sudah tiba dimobil. Sebuah pesan masuk padaku. Dari Ryohei-san.
'Apa dia tahu sesuatu? Kau baik-baik saja?'
Tak disangka Hisao-san merebut ponselku. Dia menelepon Ryohei-san.
"Ryohei, dia gadisku. Apa kau sengaja mencari masalah denganku. Kuperingatkan kau, jangan menemuinya lagi." Entah apa yang Ryohei-san katakan di seberang sana.
Kemudian dia mengembalikan ponselku dan tak bicara lagi setelah itu. Dia sedang kesal!