The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 100. Ending 2



Tamu kami banyak sekali yang dari overseas, terutama keluarga Ayah dan Ibu, sementara keluarga Ayah Nathan juga banyak tinggal di Mexico, beberapa masih di Spanyol, tapi mereka semua menyempatkan diri datang dan menghadiri acara kami. Pernikahan kami diadakan di NY dengan alasan itu lebih mudah dicapai daripada Chicago di bagian tengah Amerika dari Eropa.


Dan bagiku yang bahkan tak mengenal dengan baik keluarga Ayah dan Ibu, dan tak tahu bahasa Rusia aku hanya bisa melonggo dengan tak mengerti ketika mereka bicara dengan heboh satu sama lain berapa hari sebelum pernikahan kami.


"Kau cantik sekali..." Ibuku melihatku hasil akhir makeup-ku dengan gaun yang sudah terpakai pagi itu.


"Gaun ini memang cantik sekali Mom, pilihanmu memang selalu bagus."


"Putri Mom yang cantik, kenapa Ibu selalu ingin menangis melihatmu secantik ini padahal waktu melihatmu mencobanya aku sudah menangis seperti orang bodoh ..." Aku tersenyum padanya, senang bisa melihatnya bahagia di hari pernikahanku. Bertahun-tahun yang lalu aku tak pernah sedikitpun memikirkan hal seperti ini. Aku memandang kehidupan pernikahan itu dengan pesimis dan menganggapnya terlalu rumit untuk dijalankan.


Tapi sekarang melihat orang tuaku bahkan bisa berjuang bersama sampai sejauh itu, aku melihatnya dengan berbeda. Ternyata masih ada yang berbeda, yang sampai akhir walaupun banyak juga yang tidak berhasil sampai akhir.


"Mom kau akan merusak make-upku sekarang." Aku tertawa melihatnya menangis lagi. Mau tak mau juga aku menangis sekarang.


Sementara Ayah hanya berdiri disana melihat kami berpelukan. Matanya berkaca-kaca, berusaha untuk tak se-eomosional istrinya. Gaun ini mereka yang membelikan. Nathan tak diizinkan membiayai gaunku, ini hadiah dari Mom dan Dad khusus untukku.


"Dad, kau tak mau memelukku..." Karena aku ingin pelukan Ayahku juga sekarang.


"Tentu saja sayang." Akhirnya dia meneteskan air matanya dengan bahagia juga.


"Kalian ini sudahlah jangan terlalu banyak menangis." Bibi yang ada bersama kami ikut menangis sebenarnya, tapi mengingatkan kami agar tak terlalu banyak menangis.


"Bibi, aku perlu pelukanmu sekarang." Dia segera memelukku... Pelukan terima kasih telah mengantarkanku sampai kesini, memperlakukanku seperti putrinya sendiri.



"Ayo cukup menangisnya, kalian ini.. kita perbaiki dandananmu dan pasang veilmu." Kami akhirnya tertawa karena Bibi jadi tak sabar sendiri dengan acara tangis menangis ini dan memarahi semua orang.


Sekarang makeupku diperbaiki dan veilku di tutup sebelum kami ke pemberkatan pernikahan. Semuanya berjalan seperti dalam mimpi setelahnya. Dad berjalan bersamaku di altar, menyerahkanku kepada Nathan yang memandangku penuh cinta dan pemujaan.


"Hai Cantik, akhirnya kau sampai ..." Dia menyapaku dengan lucu saat menerima tanganku dari Ayah.


"Hai tampan, kau terlihat seperti pangeran berkuda putih hari ini." Karena dia memakai jas putih hari ini. Dia tinggi, tampan, dia pangeran berjas putihku sekarang dan tidak membawa kuda.


Janji pernikahan diucapkan, dua jadi satu, mengasihi, memghormati saling bersama dalam keadaan sulit atau bahagia. Semua orang berbahagia melihat kami, terlebih kedua orang tua kami.



Pesta yang meriah, aku kadang lupa siapa yang memberiku selamat, karena banyak yang baru kukenal kemarin dalam makan malam bersama keluarga Mom and Dad. Melelahkan tapi membahagiakan.


Satu yang kujumpai adalah Louis dan Sir Alan di sana.


"Louis pacar pura-puraku, maaf harus meninggalkanmu." Dia dan Nathan tertawa karena itu.


"Dasar mata-mata licik aku tak akan mempercayaimu lagi. Selamat buatmu sudah menaklukkan penjahat kejam ini. Dia orang yang setia walaupun selalu pura-pura tak punya perasaan." Aku sekarang yang tertawa.


"Mr. Alan senang bertemu denganmu lagi."


"Selamat untukmu Nyonya Garcia, hanya mata-mata sebenarnya yang bisa menaklukkan penjahat seperti ini. Selamat untuk kalian..." Mr. Alan. Syukurlah mereka nampaknya sudah tahu siapa aku dan tak mengambil hati karena aku juga sebenarnya berbohong kepada mereka sejak awal.


"Terima kasih, maafkan sudah berbohong pada kalian."


"Itu perkerjaanmu apa lagi yang bisa kita protes, tapi kau membantu kami dengan sepenuh hati. Aku tak menyalahkanmu. Selamat untuk kalian."


Akhirnya pesta yang melelahkah itu berakhir. Aku melempar diriku ke mobil yang membawa kami ke hotel.


"Aku lelah sekali ..." Nathan tersenyum melihatku yang bersandar di lengannya.


"Istirahatlah saat kita sampai nanti."


"Aku banyak melupakan orang, aku melupakan nama semua keluarga yang kukenal kemarin dan tak mengingat satupun. Kecuali Paman dengan kumis melintang itu, namanya Igor..." Nathan tertawa ngakak mendengar pengakuanku. semua orang kupanggil dengan panggilan sama, Paman - дя́дя (djadja) Bibi - тётя (tjotja). Aku lupa nama mereka semua.


"Tak apa ini pertama kalinya kau bertemu begitu banyak, kurasa kau dimaafkan dan tidak akan dikirim ke Gulag (kamp konsentrasi Rusia) karena tidak sopan." Aku meringis, dia mengingatkan Ibuku yang dikirim ke penjara oleh Kakekku sendiri karena berkali-kali melarikan diri.


Kami sampai ke hotel kami kemudian. Aku mengandeng tangannya dan memasuki kamar kami. Rasanya masih seperti mimpi status kami sudah berubah sekarang.


"Kau ingin bantuan?" Aku tak bisa mencapai kuncian gaunku. Aku ingin segera mandi dan membersihkan make up berat ini dan berbaring di tempat yang datar.


"Iya, tolong bukakan dari belakang." Dia melakukannya tanpa pertanyaan, membiarkanku masuk kamar mandi dan tidak mengganguku sama sekali. Dan berganti mandi dengan sabar setelah aku selesai sudah dengan baju tidurku.


"Sayang kau tidak tidur, katanya kau lelah. Istirahatlah..." Aku bermain ponsel saat dia masuk ke sampingku dan mencium keningku. Biasanya dia melakukannya sebagai tanda kami akan tidur. Dan benar saja dia menyamping dan mulai mencari posisi tidur biasanya.


Aku kesal dan mengelitikinya...membuat dia berbalik lagi padaku.


"Apa?" Dia melihatku dengan wajah lucu.


"Kau akan tidur?" Aku menaikkan alisku padanya.


"Kau tadi mengeluh kelelahan? Kau tak ingin tidur?" Dia tersenyum kecil padaku dan mengapai pinggangku mendekatkan tubuhku padanya.


"Baiklah aku tidur..." Gantian aku yang memunggunginya karena kesal. Pertengkaran pertama kami setelah menikah. Dia tertawa kecil dan memaksaku berbalik.


"Jangan marah, kupikir kau benar-benar lelah, aku hanya tak ingin istriku kelelahan..." Bisikannya diucapkan sambil menggigi*t telingaku dan mencium anak rambutku, membuatku mencengkram bajunya.


Istriku, kosakata baru yang membuatku merasa berbeda. Aku menatapnya dan menciumnya kecil.


"Suamiku, apa kau benar bisa tidur. Kau pengertian sekali heh..." Dia tersenyum kali pertama aku memanggilnya 'suamiku' itu cukup terdengar menggelikan.


"Aku cukup pengertian... Walau akan sulit melakukannya, tapi tak apa, kita masih punya banyak waktu, aku tak mau memaksamu jika kau kelelahan." Dia menciumku kecil, tapi kemudian itu menjadi ciuman panjang yang lembut.


"Sayang, malam ini jangan menahan dirimu..." Aku berkata suatu hal yang telah kupikirkan berbulan-bulan ini.


"Maksudmu?"


"Aku ingin semuanya darimu, aku ingin ... seorang bayi." Dia menatapku sekarang.


"Kau serius?" Aku mengangguk.


"Aku pikir kita berdua siap, aku sudah bekerja menetap, kita sudah punya rumah yang indah. Nenek dan Kakek ..." Aku tertawa. "Dan kurasa kau akan jadi Ayah yang hebat..."


"Kau akan jadi Ibu yang hebat." Dia menciumku sebagai penutup kalimatnya. "Aku ingin melakukan ini membuatmu menjadi Ibu, kadang kupikir, kubuat saja jadi kecelakaan yang tak dapat kau tolak. Tapi aku sadar kau berada di posisimu sekarang dengan mengusahakan segalanya. Jadi tak mungkin aku melakukan sabotase seperti itu... Seperti temanku Guilio di Catania." Dia tertawa bercerita tentang temannya itu sementara miliknya menekanku begitu saja. Aku merasakannya dengan jelas dan saat dia mencoba menekan dia jadi tahu sesuatu.


"Gadis nakal kau tak memakai apapun dibawah kim*onomu ..." Napasku tersengal dan er*anganku muncul saat dia menyentuh dengan jarinya untuk memastikan. "Kalau begitu kita pelan-pelan saja\, ..." Menyingkirkan tangannya\, aku ingin dirinya yang lain. Sekarang\, dia yang mengerang saat aku menangkap yang kuinginkan darinya.


"Aku mau sekarang..."


"Kau tak sabar sekali..." Aku meminta dia berada diatasku dengan menyusupkan tanganku dibawahnya.


"Suamiku, buat aku jadi milikmu... Ayo buat bayi." Dia menggodaku sekarang, tak melakukannya dengan benar, hanya menciumku habis-habisan. "Please..." Rengekanku membuatnya serius sekarang. Membuatku menjadi miliknya, sementara aku menge*rang tiap kali dia bergerak kuat diatas tubuhku.


"Honey, I love you..." Aku mence*ngkram lengannya tanda aku akan mencapai batasku. Dia mempercepat dirinya.


"Kau sudah?" Saat mengej*ang dibawahnya dan memeluknya erat dia memelan\, kali ini dia tak menahan dirinya\, membiarkannya dirinya mengej*ang tanpa melepasku dan merasakan kehangatannya tertinggal di dalam tubuhku.


"It's done." Seperti sebuah pekerjaan sudah diselesaikan. Aku tertawa kecil saat dia berguling ke sampingku.


"Itu cepat..." Dia membuat komentar lain. Aku hanya tersenyum lebar dengan komentar anehnya itu.


"Apa itu kurang?" Dia melihatku dan membuatku tertawa dengan godaannya


"Cukup, besok saja. Aku lelah."


"Mungkin perlu satu kali lagi. Biar sampai lebih cepat..." Dia bertopang tangan menggodaku dan bergerak ke dekatku lagi.


"Menyingkirlah kau pikir kau sedang memilih jenis kiriman." Aku melempar bantal padanya aģar dia tak menggodaku lagi. Dia tertawa saat aku pergi ke kamar mandi.


"Tidurlah Mom." Aku masuk ke dalam selimut dan mendapat ciuman selamat malamnya.


"Aku belum jadi Mom."


"Mungkin akan berhasil di kesempatan pertama." Aku tertawa.


"Kau sangat menginginkannya ternyata."


"Hmm... kita akan jadi keluarga yang hebat dengan anak-anak kita." Sebuah harapan yang dikatakan akan terkabul.


"Kita akan berusaha mi naranja (jerukku/soulmate ku."


Perjalanan kami masih panjang. Tapi kami punya harapan dan akan mengusahakannya satu sama lain. Mungkin kami akan punya masalah, seperti yang lain juga, tapi setiap kebahagian yang diinginkan harus diusahakan dan didapatkan.


Jangan menyerah dengan harapanmu. Teruslah berjuang sampai akhir.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


SEASON 3 : END


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Hai semua makasih sudah melewati hampir dua bulan season 3 ini bersama Mak.


Season 4 akan disambung langsung besok dan ikutin mak terus yaaa karena kalo kalian stop bacanya dan ditumpuk level mak jadi terjun bebas.


Soo kalo kaliam mau numpuk, absen like aja boleh jangan ditunggu ampe banyak sekali. Oke oke jadi besok mak tetap update SEASON BARU


Oke, Besok Natal. Selamat Natal ya buat yang merayakan, Damai Sejatera bersamamu dan keluarga.


Buat yang lain Happy Weekend yak.


See you again tomorrow ama abang Bova