The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 16. Sophia 3



"Bagaimana restoran." Dia mengalihkam pertanyaan sementara aku menyimpan hadiah parfumnya.


"Semuanya berjalan baik beberapa hari ini, reservasi kami penuh sampai tahun baru di 3 restoran, ini sangat mengembirakan. Ayah yang baru kembalipun dari rumah sakitpun ikut senang mendengarnya. Besok Bibi datang untuk membawanya ke Catania. Kecuali aku berharap Valentina bisa disini..."


Aku muram jika teringat Valentina. Diantara kesulitan kami sangat berharap dia segera kembali kesini.


"Aku sudah meminta temanku menyiapkan orangnya ke sini. Dia akan membawa Valentina segera begitu kita punya kesempatan."


"Aku tahu, terima kasih. Dia bisa menjawab pesanku. Selalu bilang dia tak apa. Dia adik yang selalu berusaha kuat didepanku." Aku menghela napas dan melihat pada Bova.


"Kau juga Kakak terbaik." Dia diam sebentar. "Cookiesku sudah habis... Kau masih punya lagi?" Dia mengalihkan pertanyaan dan aku langsung tertawa saat dia menanyakan cookies. Aku punya simpanan satu toples, karena aku sudah menbuat batch kedua sebenarnya kali ini lebih banyak dan dikerjakan dengan cepat oleh banyak orang.


"Ini ambillah untukmu. Kau kesini untuk mencari cookies ternyata. Ini hadiah natalmu...." Sekarang dia tersenyum lebar. Dia seperti anak kecil yang terlalu gembira mendapatkan cookies kesukaannya.


"Ini buatku... Ini gosong, apa kau sudah membuat lagi malam-malam. Ini enak sekali untuk kopi dan teh di pagi dan sore, aku tak bisa bertahan dengan cookies seenak ini, ditambah Sophia kemarin merebutnya setengah." Dia menceritakan tentang Sophia entah mengapa, sekarang aku tertarik mengetahui reaksinya tentang mereka sudah bertunangan.


"Ckckck...sudah habis?"


"Tentu saja itu habis di hari pertama. Kau cuma memberiku sekantong munggil." Dia saat aku sekalian memberinya kantong kertas untuk membawanya.


"Kita pergi sekarang?" Aku mengambil mantelku.


"Ayo..."


Sekarang aku langsung berjalan di depannya dan membuka pintu. Tidak berusaha mengandeng tangannya sekarang. Nanti saja saat kami tiba di lokasi acara.


Tapi kemudian dengan manis dia membukakan pintu mobilnya untukku saat kami sampai di parkiran.


"Terima kasih." Aku Kali ini dia membawa Lamborghini SUV Urus, pilihan yang agak aneh. Biasanya pria memilih Aventador atau Huracan untuk pamer. Tapi dia malah memilih SUV Lambo Urus.


Hmm...mungkin supaya mudah mengerjai Sophia di bangku belakang, pikiranku langsung ke kesimpulan terburuk jika menyangkut Don Juan ini. Sangat mengesankan... Aku sudah mengecapnya 100% harus dijauhi.


Bicara soal Sophia mungkin aku harus memberitahunya. Aku ingin melihat reaksinya dan sekaligus membuat dia tahu juga dia akan terlibat masalah. Sekarang aku menatapnya lekat, sementara dia berada di belakang kemudinya.


"Ehmm kau tahu, kemarin lusa aku bertemu Sophia." Aku memulai.


"Sophia? Benarkah? Dimana?" Dia langsung tertarik mengetahui Sophia datang padaku.


"Dia datang ke restoran bersama teman-temannya saat makan malam."


"Ternyata begitu." Sampai disitu dia tidak tertarik.


"Dia mengatakan sesuatu yang sangat menarik sebenarnya..." Aku sengaja berhenti bicara untuk memancingnya. Dia melihat padaku. Sekarang dengan penasaran.


"Dia mengatakan kalian akan segera menikah. Dia memamerkan cincin berlian besar padaku, sebenarnya aku berpikir dia sengaja datang untuk melakukan itu kemarin bersama teman-temannya."


"Ohh..." Dasar Don Juan tak berperasaan bahkan dia menanggapinya dengan hanya 'ohh'. Wajahnya tanpa riak tapi jelas dia memikirkan sesuatu. Mungkin mengakhiri hubungan mereka secepatnya karena Sophia melanggar kontrak.


Sudah kuduga, jadi sekarang aku tak tertarik lagi melihat reaksinya. Seperti kuduga Don Juan ini kejam atau gadis muda itu tak cukup membuatnya tergerak. Kontrak pembayaran tetaplah kontrak baginya.


"Kau tak berpikir dia benar bukan." Aku meringis mendengar pertanyaannya.


"Hmm... aku mengucapkan selamat untuknya terlepas itu benar atau tidak. Mungkin kau perlu ucapan selamatku juga?" Aku malah meringis lebar padanya. "Selamat, dia sangat memujamu." Sekarang aku menertawakannya. Dia cuma tersenyum. Aku hanya menertawakannya dan tak berniat memperpanjang bahasannya sekarang...


"Tak usah dengarkan dia."


"Aku hanya mengatakan padamu saja, kenapa dia datang padaku. Mungkin dia cemburu padaku, karena kue itu dan kemarin kau sengaja menyapaku. Gadis muda yang cemburu agak merepotkan, mungkin akan bermasalah nanti untukmu dan aku tak mau menyusahkan. Bukan masalahku tentu saja. Aku kemarin hanya mengiyakan dan memberinya selamat." Aku menegaskan aku tak akan ikut campur.


"Hmm... terima kasih sudah memberitahuku." Dia diam, nampaknya memutar otak bagaimana menyelesaikan masalahnya.


"Apa akan ada banyak orang di pesta nanti?" Aku mencoba mencari bahan pembicaraan sekarang.


"Kolega dan relasi keluarga. Orang-orang yang sebagian kukenal. Kau temanku, kau boleh memperkenalkan bisnismu sendiri sebagai pendamping."


"Ohh baiklah."


Teleponnya berbunyi. Dia melihatnya, alisnya berkerut. Sebentar kemudian headphones handsfreenya menyala.


"Sophia, ada apa?" Ternyata sugar babynya. Dia mendengarkan sebentar.


"Sudah kubilang aku tak bisa bersamamu, aku ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di tahun baru." Suaranya sekarang terdengar gusar.


Wanita itu berbicara lagi.


"Sudah kubilang tak bisa. Jadwalku sudah tetap. Ada lagi? Aku sedang menyetir. Kuputuskan teleponnya."


Hmm...dia kejam. Dia benar-benar menganggap Sophia harus mematuhi jadwalnya, benar-benar tak ada apapun selain kontrak kerja yang dipatuhi dan bayaran yang dikirimkan. Dia sedikit menakutkan.


"Maaf." Dia meminta maaf karena membicarakan urusan pribadinya didepanku.


"Tak apa."


Aku diam. Beruang es ini terasa menakutkan tapi di lain sisi dia kadang juga bisa berempati dan bersikap manis. Entah wanita mana yang bisa menaklukkannya nanti.


Siapapun yang bisa, pasti dia sangat istimewa.