
Seminggu lagi, kami akan menikah. Kondisinya membaik, dia sudah tidak mual lagi. Dia lebih menikmati hari-harinya sekarang. Aku senang dia mulai bangun lebih pagi, makan banyak dan bersemangat lagi bekerja.
“Fabri, Eliza belum kembali, biasanya jam 7 dia sudah sampai kerumah?” Ibu membuat pemberitahuan begitu aku sampai. Sekarang sudah jam setengah sembilan saat aku sudah pulang kerumah dia belum ada di rumah, dia berjanji untuk berada di restoran hanya sampai pukul 7 dan kembali untuk beristirahat.
Aku meneleponnya dengan segera.
“Iya, ada apa.” Dia menjawabku sambil mengunyah.
“Vanilla, ini sudah jam setengah sembilan. Kau sudah janji.”
“Oh, setengah sembilan.” Tampaknya dia sedang mengobrol sampai melupakan waktu.
“Oh? Kau sudah berjanji jam 7 batas jam kerjamu.” Dia diam.
“Baiklah-baiklah. Aku hanya tadi bicara terlalu banyak dengan seorang pelanggan.” Benar tebakanku.
“Dengan wine?” Aku mengingatkannya lagi.
“Tentu saja tidak.”
“Baguslah, jika begitu pulanglah.”
“Aku pulang sekarang. Jangan marah-marah, Ovenku sayang...” Dia menutup teleponnya dan aku naik keatas mandi dan kemudian menunggunya bersama Mama.
Tak lama dia sampai dibawah, nampaknya dia mengobrol dulu dengan Mama. Seperti biasa Mama selalu memastikan menantunya itu tahu ada makanan di kulkas untuk bisa dia makan kalau dia lapar lagi. Dia masuk ke kamar dan tersenyum padaku.
“Sayang jangan melanggar jam malammu lagi, kau sudah berjanji.” Aku mengetuk kepalanya dengan gemas.
“Iya-iya baiklah, maafkan aku, aku benar-benar lupa waktu. Tadi ada teman yang sudah lama tak bertemu.” Dia jika sudah mengobrol melupakan segalanya.
“Sudahlah, pergilah mandi sana.” Aku mengusirnya, dia berlalu ke kamar mandi sambil tersenyum lebar. Perutnya sudah terlihat sedikit, kata dokter 22 minggu tapi masih kecil kadang aku suka mengelusnya. Tapi dia masih bisa memakai baju lama yang agak longgar, atau celana yang elastis. Selama dia nyaman, itu terserah dia saja.
Vanilla duduk menyender padaku saat dia selesai mandi.
“Kau lelah?” Aku otomatis merangkulnya.
“Hmm tidak, aku terlalu banyak vitamin kurasa. Tapi aku tidak menolak pijatan.” Vanilla meringis lebar, membuatku tersenyum sendiri. Dasar manja, tapi tidak, aku tidak terganggu, aku dengan senang hati mengusahakan dia senang.
“Lain kali kau lupa waktu lagi, tak ada pijatan untukmu kau mengerti, istri bandel.” Sekarang aku perlu mengancamnya supaya dia tidak terlalu sering melewatkan jam kerjanya.
“Mengerti-mengerti,...” Dengan cepat dia mengangguk karena ingin dipijat. Dan kemudian menggumam keenakan karena pijatan di punggungnya.
“Dasar manja.” Aku mengelitikinya dan membuatnya dia tertawa. Tapi kemudian meneruskan memijatnya.
“Aku memang manja padamu Oven, kemana lagi Vanilla boleh bersikap manja...” Dia berbalik menciumku sekarang. Dan kemudian duduk di pangkuanku dengan tiba-tiba agar lebih leluasa menciumku.
“Hati-hati, ...”Perutnya menempel padaku membuatku takut dia bergerak terlalu tiba-tiba. Tapi nampaknya dia tak perduli dan terus sibuk menciumku.
“Oven, aku rindu padamu.”
“Kau jangan pura-pura.” Dia memelukku erat, membuatku khawatir dengan dia menekankan perutnya padaku.
“Hati-hati Vanilla.” Jika dituruti sebenarnya aku sudah lama punya keinginan memasukkannya kedalam kehangatanku lagi. Tapi demi keselamatan bayi kami aku rela menunggu lebih lama, melakukannya dengan cara lain dan sekarang membayangkan menghangatkannya kembali dengan cara normal, aku sudah tak bisa mengendalikan sesuatu dibawah sana terbangun karena ciuman nakalnya.
“Kau selalu memikirkan bayimu daripada keinginanku... ” Tiba-tiba gerutuannya membuatku mengeryitkan alis.
“Tidak begitu, aku hanya takut kau bergerak tiba-tiba. Jika tidak bagaimana dibawah sana,...” Aku menciumnya dengan gemas, mengeser pinggulnya lebih dekat padaku supaya dia merasakannya. Dia tersenyum sekarang, dan aku tak menunggu lama untuk menciumnya kembali, kali ini dengan des*ahan yang membuatku tidak sabar untuk memulai. Tapi kemudian aku takut.
“Apa ini tak apa Vanilla,...” Aku lebih baik menghentikan diriku sendiri daripada aku menyesal.
“Tak apa ini sudah lewat 20 minggu. Dokter bilang boleh asal tak kasar, kau tahu, kita lakukan versi lembutnya. Aku merindukanmu ovenku...” Dia yang cekikikan sendiri.
“Gadis nakal, kau ini, memang sangat bersemangat, tapi pelan-pelan...” Aku menariknya ke bed kami memberinya posisi yang lebih nyaman, tapi sekarang dengan perutnya itu dia kelihatan sangat menggoda. Aku memberinya semua sentuhan yang dia inginkan, membuatnya memohon untuk segera ke menu utama.
“Ehmm... cepatlah.” Sekarang Vanilla ini tak sabar lagi. Erangannya membuatku tersiksa dan merasa darahku mengalir deras ke bawah sana diiringi cumbuan panas kemudian.
“Gosh!” Tiba-tiba dia menghentikanku untuk melakukan apa yang dia inginkan.
“Apa? Kau kesakitan?” Aku heran, padahal aku belum melakukan apapun.
“Dia menendang?” Aku diam berpikir siapa yang menendang, sebelum kusadari dia bicara bahwa bayinya yang menendang. Aku berhenti melihat Vanilla yang memegang perutnya. “Maksudmu bayinya. Benarkah? Apakah sakit?”
“Tidak rasanya seperti ditoel kecil.” Dia memegangi perutnya.
“Dimana? Apakah bisa aku merasakannya juga.” Aku ikut memegang perut kecilnya sekarang.
“Entahlah kurasa tidak, dia hanya rindu mendengar suara Ayahnya, mungkin ingin berkenalan denganmu.”
“Hallo bayi kecil. Ini Papamu, kau kecil-kecil tahu menganggu.” Vanilla tertawa. Nampaknya ini pengalaman yang baru, untuk pertama kalinya dia merasakan ini “Apa dia masih menendang?”
“Sebenarnya mungkin bukan menendang, tapi aku yang mulai bisa merasakan pergerakannya.” Dia menjelaskan, yang jelas dia lebih banyak membaca tentang kehamilan daripada aku.
"Ohh dia bergerak dengan kakinya."
"Iya panjangnya sudah lebih dari 15cm, dan beratnya sudah 300 gram sekarang, dia memang sudah bisa meregangkan tubuhnya sekarang, mungkin itu yang kurasakan sebagai sensasi menendang."
“Kira-kira dia perempuan atau laki-laki.” Kami jadi membicarakan anak kami sekarang.
“Kata dokter mungkin kita bisa melihatnya di USG dua minggu lagi, tapi kurasa dia adalah perempuan. Doa Lola yang dikabulkan.”
“Aku juga berpikir begitu sebenarnya.” Kami sama-sama tertawa. Aku mungkin lebih suka seorang putri untuk disayangi. Benar, mungkin ini adik bermain untuk menemani Lola. “Apa dia masih menendang sekarang?”
“Entahlah, mungkin tidak, besok mungkin kau bisa merabanya. Tapi, ada sesuatu yang harus diteruskan sayang, ...” Dia mendekatkan dirinya padaku dibawah sana dan membuat stop kontaknya menyala kembali dengan segera karena memang sudah terlalu panas dan basah.
Erangan cinta terdengar dari Vanilla kemudian. Memang ini harus diteruskan, karena jika tidak Ayahnya yang tidak akan bisa tidur malam ini.