The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 2E. My Vanilla is Sad 4



Silverstro, atau malam tahun baru dalam bahasa Itali, jam sembilan malam...


Restorannya masih buka, malah terlihat sangat ramai sekarang. Nampaknya dia mengadakan acara tahun baru. Meja-meja di bagian depan juga penuh. Dia hanya  mengucapkan  terima kasih keesokan paginya setelah pesanku aku melempar kuncinya dibawah pintu. Mobilnya masih ada di samping restorannya, tanda dia ada disana. Kenapa aku jadi ingin melihatnya lagi sekarang, ciuman semalam itu membuat semuanya terasa agak kacau. Kubelokkan mobilku dan mencari parkir segera.


“Bova, kau kesini.” Dia tersenyum padaku dibalik meja  bar.


“Mengatur pesta?”


“Ahh iya, reservasiku full jadi aku mengatur sedikit hiburan disini.” Ada penyanyi di panggung kecil di sudut, menyanyikan lagu-lagu cinta dengan iringan piano yang  sudah  ada disana. Sementara bar juga penuh dengan pengunjung. Dia membantu bar melayani. “Kau ingin minum apa?”


“Dry martini saja.”  Dia dengan cepat menyiapkan untukku. Aku masuk ke  dalam bar. Duduk di sudut agar tidak menganggu membiarkan tamu lain mendapatkan  spot duduk mereka.


“Kenapa kau disitu?” Dia menatapku dengan heran.


“Tak apa buat tamu saja, aku sudah makan, jangan perdulikan aku,  kerjakan saja pekerjaanmu.” Dia tersenyum,  memberiku martininya.


“Aku agak sibuk, tapi kerumunan sebanyak ini membuat senang.” Dia sedang bersemangat, tidak seperti kemarin bersedih karena telepon suaminya. Aku senang melihatnya bersemangat sekarang.


“Ini malam  tahun baru, apa yang kau lakukan disini Don Juan? Tidak punya kencan? Kau tinggal berdiri di meja bar, akan ada yang mengajakmu keluar.” Aku meringis. Dia memang selalu menganggapku mendapatkan wanita dengan hanya mengedipkan mata.


“Tak ada, temani aku oke. Aku tahu kau juga sedang sendiri...”


“Aku harus bekerja.”


“Boleh aku membantu? Pekerjaan remehpun boleh."


"Kau serius?" Dia melihatku dengan tak percaya.


"200% serius."


"Kau bisa bantu di counter bir dan minuman ringan? Soalnya kau tak bisa meracik cocktail. Yang bertugas disini di oper ke dapur. Waiter akan memberitahumu mereka perlu apa."


"Baiklah." Dan akupun membantu disampingnya, baru kali ini aku merayakan tahun baru dengan membantu di bar, dan ini menyenangkan sebenarnya. Beberapa gadis tidak keberatan menggodaku. Aku hanya tahu yang bertugas di bar harus ramah dan tak keberatan diajak bicara. Jadi aku melayani mereka dengan ramah. Walaupun aku jarang bersikap ramah dengan orang yang tak kukenal.


Eliza tersenyum melihatku menikmati pekerjaanku.


"Aku tak menyangka aku bisa mendapatkan bantuan bartender tertampan di Milan malam ini." Sekarang dia menyenggolku. Aku tak tahu kenapa aku menjadi gembira sekarang padahal biasanya aku selalu mempertanyakan ada apa di belakang pujian. "Berapa aku harus membayarmu?"


"Kau harus menghadapi Ibuku minggu depan. Itu sudah bayaran." Dia tertawa.


Hampir jam 12 restoran masih ada beberapa tamu, tapi kebanyakan sekarang order beralih ke minuman dan dessert. Dan hampir jam 12 tampaknya mereka keluar ke jalan untuk melihat kembang api.


"Hotel di depan sana kami menyalakan kembang api." Jadi restauran-restoran juga membuka berpartisipasi tahun ini meluncurkan bersamaan dengan hitungan mereka. Kita semua akan keluar ke depan sana. Sudah hampir jam 12 ayo keluar..." Dia menarik tanganku keluar mengikuti kerumunan yang sudah berkumpul di boulevars depan restoran dan mengandeng tanganku tanpa canggung.



Di depan sudah banyak orang berkumpul. Sementara Plazza de Duomo yang tak terlalu jauh dari kami sudah memulai keributan tahun baru. Tapi baru ledakan sporadis, oleh kerumunan yang setiap tahun berkumpul disana. Dan kemudian suara terompet mulai terdengar.


"Menyenangkan bukan..." Matanya memadangku . Aku tersenyum, merangkulnya dan dia tak keberatan. Layar besar di depan sana sudah melakukan penghitungan. Dan semua orang bersorak saat hitungan terakhir.


"Happy New Year, ..." Dia memelukku dengan hangat.


Tak kusangka tahun ini aku akan melewatkan tahun baru dengan hanya seorang teman di Milan, bekerja di sebuah bar. Aku tak merencanakannya, tadinya aku ingin ke Paris mengajak Sophia, tapi drama yang telah dilakukannya membuatku membatalkan semua rencanaku.


"Happy New Year." Aku pun memeluknya. Teringat bagaimana dia memelukku dengan erat semalam. Tapi sebenarnya bukan aku yang dia inginkan.


Kenapa rasanya aku ingin menghilangkan nama Javier yang disebutkannya semalam dari pikirannya. Pria itu tak pantas membuatnya bersedih begitu rupa.


"Ayo aku harus kembali." Kami masuk ke restoran kemudian, tamu sudah hampir keluar semua sekarang. Beberapa tinggal membereskan pembayaran.


"Besok kau buka."


"Tidak, semuanya telah bekerja keras. Besok kami tutup baru kembali buka tanggal 2. Besok aku hanya ingin melihat Valentina kembali."


"Dia akan baik-baik saja..."


"Aku juga berharap begitu." Dia melihatku. "Semalam apa aku mengatakan hal-hal aneh? Melakukan hal aneh? Ingatanku agak kacau? Sebenarnya tak ingat sama sekali." Aku meringis. Jika dia tahu aku mengambil kesempatan untuk menciumnya dia akan membunuhku.


"Tidak, apa yang bisa dikatakan oleh orang mabuk selain terlalu senang. Kecuali kau mengatakan aku tampan dan memelukku dengan paksa."


"Aku memelukmu dengan paksa?" Dia sekarang terbelalak.


"Ya, tak mengizinkan ku pulang dan memelukku seperti aku pacarmu sampai kau tertidur..." Mukanya sekarang memerah.


"Aku melakukan itu?" Dia tampaknya tak percaya.


"Tak apa, kau lakukan lagi juga boleh. Lain kali aku akan tinggal sampai pagi. Aku rela menjadi milikmu semalaman."


"Kau pasti mengarangnya..."


"Orang mabuk bebas melakukan apapun. Tapi cuma sekali. Lain kali jika kau memelukku seperti mau memakanku kau akan tahu akibatnya." Aku jadi senang menggodanya. Dia diam. Mungkin dia memang merasa semalam dia memeluk seseorang.


"Maaf. Aku menyusahkanmu..." Dia malah minta maaf. Aku meringis lebar.


"Tak apa. Itu gunanya teman."


"Aku memelukmu saja. Tak ada hal lain bukan." Aku tak menjawabnya, hanya tersenyum kecil, bersikap seakan-akan ada sesuatu tapi tak memberitahunya.


"Tidak. Tidak ada..." Dia menatapku mau bertanya lagi tapi nampaknya tak berani. Cukup bahwa bajunya masih melekat di tubuhnya nampaknya sudah membuatnya bersyukur.


"Hmm baiklah. Bagaimanapun terima kasih."


"Baiklah, aku pulang. Kau juga harus pulang, kau juga pasti lelah. Selamat tahun baru Vanilla. Tahun depan kau pasti akan lebih baik." Aku memeluknya singkat, dan dia menerimanya.


"Selamat tahun baru juga." Dia tersenyum padaku. Aku melambai padanya, kemudian perdi masuk ke mobil sementara kemeriahan tahun baru masih terasa disekelilingku.


Aku merasa senang dan damai. Entah kenapa, padahal aku melewatkan tahun baru hanya dengan menonton kembang api di jalanan.