
POV Eliza
“Apa? Benarkah?” Aku mengangga ketika Bova menceritakan kedatangan gadis bungsu keluarga Adriano Gianni ke kantornya hari ini, ini hari kedua dari sejak penembakan dan Gianni menggunakan cara lain untuk berurusan denganku, kali ini mereka mengincar Bova. “Dia menciummu pada pertemuan pertama, duduk di pangkuanmu?!”
“Ohh dia bahkan berani mengajakku makan malam sampai larut malam dengan teman-temannya?”
“Makan malam sampai larut dengan teman-temannya?” Aku tak mengerti. “Apa maksudmu makan malam sampai larut dengan teman-temannya. Kenapa harus makan sampai larut malam dengan teman-temannya?” Bova mengetuk kepalaku.
“Sayang, gunakan imanjinasimu... Dia menciumku.” Pikiranku membuat bayangannya.
“Maksudmu dia melakukan sesuatu untukmu bersama wanita lain,...” Bova meringis lebar. “Bagaimana...” Aku kehabisan kata-kata sekarang.
“Mungkin dia terbiasa melakukannya.” Bova mengangkat bahu, membuatku membayangkan pergaulan kaum jetset yang punya perusahaan di berbagai negara di Eropa. Mungkin private party di yatch di Monaco. Mungkin mereka yang uangnya sudah bekerja untuk mereka ini sudah punya banyak hal untuk dihabiskan. Mereka 0,1% populasi dunia yang hidup dengan standart berbeda dari kami orang kebanyakan.
“Kau tak tertarik punya hubungan dengan mereka?”
“Vanilla, apa kau sedang meragukanku sekarang?” Dia mengambil tanganku dan menciumnya.
“Entahlah, apa yang dikatakannya benar. Denganku aku mungkin bebanmu. Dengan dia, dia bisa memberikan apa yang kau mau.”
“Aku cuma mau kau. Jelas.” Aku tersipu dengan pandangannya. Kurasa aku hanya bisa berterima kasih dengan yang sudah dia lakukan untukku. “Jika entah bagaimana dia datang ke restoranmu dan mencoba membuatmu merasa kalah. Anggap saja kau mendengar kucing yang mengeong. Tak usah terpengaruh membalas apa yang dia katakan, kau akan menghabiskan kesabaranmu saja, karena dia pasti akan mencobanya, jika kau terpengaruh dia akan menang oke.”
“Dia akan mencoba bertemu denganku?”
“Itu pasti, Gianni tak akan setengah-setengah dalam berusaha. Dia menggunakan koneksinya menunda persidangan sekarang. Jika dia maju sekarang dia tak akan menang karena satu Italia tahu kebusukannya. Dia tak bisa menyerang keluargaku karena keluargaku juga punya kelompok yang membencinya dan bekerja ikut menurunkannya. Jadi yang bisa dilakukannya adalah menyasarku secara pribadi. Mereka sudah putus asa, kutebak bahkan mereka berani sampai menawarkan pernikahan keluarga, setelah itu dalam waktu satu atau dua tahun mereka akan menendangku keluar, tak apa mengganti dua tahun dengan tiga puluh tahun. Itu pergantian yang sepadan. Mereka tak setulus itu. Miss Italy itu pemain drama yang baik.”
“Begitukah...” Sekarang mataku terbuka. “Aku tak menyangka sampai begitu kupikir dia benar-benar menyukaimu.” Bova tertawa.
“Hmm... aku tak berpikir sejauh itu. Aku hanya bisa berpikir soal kue dan menu masakan yang enak.”
“Aku punya cara sendiri memberi mereka pelajaran nanti. Jika kau sembuh memasaklah sedikit untukku...tapi jika kau benar-benar sudah sembuh. Aku akan marah jika kau sakit lagi, mengerti Vanilla.” Aku tersenyum, wajahku panas dengan kehangatan sikapnya. Aku yang penuh masalah ini sekarang bisa mendapatkan bantuan yang tulus seperti ini.
“Tapi kau memang tampan, gadis mana pun akan mengatakan itu.”
“Apa kau cemburu Vanilla?” Oven hangat ini tersenyum padaku.
“Dia menciummu... gadis kurang ajar itu bahkan duduk di pangkuanmu dan menciummu.”
“Kau mau duduk di pangkuanku?” Sekarang dia naik ke bedku.
“Bagaimana bisa? Ada selang operasi masih mengeringkan cairan di dadaku.”
“Kekasihku cemburu...” Dia tertawa kecil. “Nanti jika kau sembuh kau bisa naik kepangkuanku kapan saja. Kau punya priviledge khusus kapanpun kau mau.” Aku tersenyum dan mengigit bibirku membayangkan arti kata-katanya. “Boleh aku menciummu?” Aku meringis mendengarnya, apa dia perlu minta izin untuk menciumku, aku tak tahu Don Juan ini sesopan itu.
“Kenapa kau minta izin bodoh...” Perkataanku membuatnya tertawa kecil, sebelum memiringkan kepala menyentuh bibirku. Berhati-hati untuk tidak terlalu dekat dan menyentuh sesuatu yang masih terpasang di tubuhku. Aku juga ingin memeluknya tapi tak bisa. Perasaan ini membuatku gila.
“Kau harus cepat sembuh, ... karena aku ingin kau duduk di pangkuanku Vanilla, mencium parfummu lagi.”
“Sekarang aku bau obat.” Kami tertawa kecil.
Saat-saat ini rasanya sangat membahagiakan. Aku membalas menciumnya singkat, tapi dia yang memberiku ciuman panjang tanpa kuminta, matanya mengatakan akulah yang dicintainya, mungkin gadis itu punya segalanya, tapi aku yang memiliki hati kekasihku. Gianni bisa menawarkan dunia tapi tampaknya itu tak cukup mengalihkan dunia yang kuberikan padanya. Aku tak tahu alasannya. Aku hanya percaya keberuntunganku kadang.