The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 68. Kimiko Yamasaki 2



"Karena kau gadis yang bangga pada dirimu sendiri, kau tak perlu orang lain untuk membuatmu berharga, kau adalah sesuatu yang bisa dibanggakan, aku mungkin awalnya mengagumi betapa kau bekerja keras, lalu aku mulai merasa aku ingin melihatmu terlindungi, mulai ingin kau punya lebih banyak waktu luang. Orang tuamu pasti bangga dengan siapa kau sekarang ini. Dan aku tak akan membiarkan siapapun menyentuhmu, aku pecemburu Setsuko, Kakek-kakek itu tak masuk hitungan, tapi Ryohei ... aku akan memberinya bogem mentah jika dia berani mencoba menemuimu lagi..."


Aku tersenyum mendengar kata-katanya.


"Kau tahu aku beberapa hari ini, merasa aku tak berpijak ke tanah lagi." Hisao tertawa kecil.


"Dan aku senang kau berbahagia bersamaku. Cium aku ..." Sebuah ciuman kecil mengapainya sebelum dia yang membalasnya kembali kemudian.


"Jangan pikirkan hal aneh lagi oke. Kita akan baik-baik saja."


"Aku takut aku mengecewakan kakekmu, aku takut dia menganggapku tidak tahu diri, bisakah kita minta izin padanya. Selama ini Yamada-san telah banyak membantu mengenalkanku ke banyak klien. Aku benar-benar tak ingin dianggap mengkhianati kepercayaan yang diberikan kakekmu. Dan jika dia mengatakan aku kelewatan dan tak bersedia memberikan aku izin, aku bersedia menjadi kekasihmu saja."


"Baiklah, jika aku ke Kyoto, kita akan berkunjung ke rumah Kakek." Aku tersenyum atas pengertiannya. Bagaimanapun dia cucu Yato Yamada, jika Kakeknya mengizinkan aku berani berharap. Jika tidak, mulai saat itu aku akan berusaha tidak mengharapkan cinta yang terlalu indah ini.


\=\=\=🍁🍁🍁🍁🍁\=\=\=\=


Pagi hari, aku melihatnya ke gym. Seperti biasa yang kulakukan adalah cuci mata. Aku mengagumi punya kekasih dengan tubuh seperti pahatan patung dewa itu.


Tato naganya itu sangat menawan. Dan tato yang dia sembunyikan itu, rasanya aku ingin bertanya dimana itu. Pikiranku memang sudah kacau sekarang. Dia balik mengawasiku karena dari tadi aku melihatnya.


"Setsuko, matamu itu kelewatan kadang. Gadis perawan harus menjaga sikapnya, kau memelototiku seperti itu..."


"Cuma sedikit cuci mata, kenapa kau pelit sekali." Aku meringis lebar padanya.


"Bukannya seleramu kakek-kakek tua renta." Dia tertawa. Membuatku mencebik melihatnya. "Mau kupeluk sayang? Ini b*as*ah."


Dia memperlihatkan kulit lembabnya. Aku ingat rasanya dicium saat dia sedang berkeringat sekarang. Dan itu tidak nyaman.


"Jangan coba-coba, aku tidak suka keringatmu."


"Nanti ada saatnya kau akan menyukainya." Dia berbisik padaku dan membuat mukaku panas membayangkan tepatnya apa yang dia katakan.


"Dasar mes*um." Aku mendorongnya menjauh.


"Kau yang mesu*m, aku hanya mengatakan ada saatnya kau menyukainya. Misalnya saat aku bisa menghajar orang saat orang jahat mendekat. Apa yang kau pikirkan?"


Aku tak bisa bicara sekarang. Memang dia sengaja menjebakku.


"Kau membayangkannya bukan? Kau mau menyentuhku sayang ..." Dia mendekat sementara aku seketika menjauh.


"Hisao san, aku akan pergi dari sini..." Dia tertawa mendengarku tidak punya keberanian apapun. Jika dia bertemu gadis-gadis itu, mereka akan langsung membuka dirinya dan membiarkan keringat lebih deras lagi mengucur. Astaga apa yang ada dalam pikiranku. Aku memang mesu*m.