The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 52. Canary Island 4



Selain menjadikanku sebagai tempat menyontek, dia juga memanfaatkanku sebagai tempat mengadu tentang kelakuan gadis-gadisnya yang kadang luar biasa. Aku kebanyakan  mendengarkannya dengan melonggo, menanggapinya dari sisiku yang polos. Apa aku terpesona padanya, awalnya iya, aku menganggapnya menarik, tapi lama kelamaan aku kebal. Lagipula aku masih sayang nyawaku untuk bersaing dengan pasukan kucing pencakar itu. Awal-awalpun aku dibully karena dekat dengan Guilio, sampai akhirnya mereka menyadari apa kegunaanku untuk Guilio.


Mempertahankan nilainya di klasment tengah anak-anak dikelasku.


Lalu kuliah, kami berpisah, dia kuliah di California, tapi masih mengontakku kadang. Saat dia pulang liburan dia selalu menyempatkan diri mengobrol denganku. Tapi yah dia tak pernah menempatkanku di sisi romantis, begitu banyak gadis dalam hidupnya. Bagaimana mungkin dia melihatku.


“Jangan melamun, ... Apa yang kau pikirkan heh?” Aku duduk di pinggir pantai menikmati matahari tenggelam. Dan dia duduk disampingku, di bangku pinggir pantai, berdua tanpa ada yang bicara.



“Kau ingat bagaimana kita pertama bertemu.”


“Ingat, kau  memarahiku dan menyuruhku pergi saat istirahat.” Aku tertawa ternyata dia masih mengingatnya.“Dan kemudian aku mengajakmu makan pizza. Untuk deal menarikmu  menjadi tutor belajar pribadiku.”


“Rasanya baru kemarin bukan.”


“Hmm...padalah itu sudah hampir dua puluh tahun yang lalu.”


“Benar sudah hampir dua puluh tahun yang lalu.” Kami diam lagi.


“Kau satu-satunya gadis yang berani memarahiku, memperlakukanku seenakmu, tapi karena kau jujur, paling  lurus hidupnya dan menghargaiku sebagai teman, aku menganggapmu salah satu sahabatku, aku tidak akan berpaling darimu sampai kapanpun.” Apa ini berarti dia tak akan merusak persahabatan kami dengan mencoba merayuku?


“Senang mendengarnya jika begitu.” Dia diam. “Apa selama ini kau sama sekali tak pernah menganggapmu menarik?”


“Hmm tentu saja kau menarik, siapapun mengakui itu. Tapi kita hanya berteman, aku tak mau jadi list gadismu, menangisimu seperti orang bodoh, kau lebih berguna jika dimanfaatkan sebagai teman, lagipula aku tahu kau  brengsek, kau sendiri yang sering mengakui  bahwa kebrengsekanmu padaku.” Dia tersenyum lebar sekarang.


“Akhirnya kau sadar juga. Masih banyak waktu Guilio, kau akan menemukan seseorang.”


“Kau benar , aku akan menemukan seseorang.” Aku lega dia mengatakan itu, bahwa dia akan menemukan seseorang. Berarti prasangkaku salah. Tapi disisi lain kuakui juga aku sedikit kecewa. Aku akan terbiasa dengan cepat, sejak  dulu aku menempati posisi sahabatnya. Dan  itu bertahan 20 tahun lamanya sampai sekarang, bahkan gadis-gadis  cantik itu hanya bertahan dua minggu. Dengan kartu nama putih  seperti yang diberikannya ke Joana.


“Aku penasaran, kartu nama putih  itu, apakah nomor teleponnya sama dengan kartu nama hitammu.” Dia meringis.


“Tentu saja berbeda.”


“Dasar bastardo absolute.” Sindiranku membuatnya tertawa.


“Seseorang teman berkata padaku, aku sekarang di  mid-life crisis, sekelilingku ramai, aku bisa mendapatkan gadis-gadis, tapi merasakan kesepian, karena sebenarnya diantara wanita-wanita  itu tak ada yang membuatku nyaman.”


“Hmm, iya. Seseorang yang bisa kita  percaya mau berjuang bersama kita dan tidak memanfaatkan kerja keras kita sebagai jalan pintas untuk hidup enak.” Aku bicara tentang Raoul. Dia melihatku tampaknya  berpikir siapa yang kubicarakan gadisnya atau dari sisiku sendiri.


“Kau sedang membicarakan Raoul? Raoul tidak pantas kau ingat lagi, jika dia berani muncul didepanmu lagi, aku akan mengirimnya kerumah sakit. Dia bekerja di salah satu bar milik Camaro, sebagian besar aku yakin dia terlibat perdagangan obat-obatan.Mana aja manager bar bisa membeli mobil sport, membawa senjata, kau jangan coba terlibat dengannya, langsung panggil keamanan .”


“Begitukah?”