
Aku mengerjab, dan mengeliat, dimana ini. Milan... Aku menoleh, balena mio masih tertidur di sebelahku. Aku memang terbiasa bangun lebih pagi. Tapi ini bukan pertanian, ini akhir pekan di tempat Guilio di Milan.
"Balena..." Aku berbalik dan melihat dia disampingku.
"Hmm..." Dia membuka matanya sedikit, melihat jam dan menutup matanya kembali tapi lengannya merangkulku dan membawaku dalam pelukannya hangatnya. Aku dalam rangkulan lengan kekarnya. "Cara...ini hari libur tidurlah lagi...baru jam enam." Dia bicara sambil menutup matanya.
Aku dalam pelukan seseorang pagi ini. Setelah bertahun-tahun aku sendiri. Rasanya menyenangkan, terlebih ini adalah balena ini. Temanku selama puluhan tahun. Aku tertidur begitu saja semalam, mungkin kelelahan, atau karena merasa dia orang yang bisa kupercaya, tanpa merasa tak terbiasa disampingnya.
Wajahnya terlalu dekat. Aku bisa melihat sedikit kerutan di wajahnya, garis halus itu sedikit terlihat. Jika dipikir-pikir kami memang sudah bukan umur 20 tahunan lagi. Banyak waktu yang telah berlalu, sekarang dia bukan hanya teman tapi orang yang mencintaiku.
Aku bisa menanggung resiko tindakanku apapun... Itu yang dia katakan. Dia sangat berani mengatakan itu.
Tapi kami tinggal di kota yang berbeda, dia punya bisnis yang harus dia urus di Milan dan aku tak ingin meninggalkan Ibu sendiri, keluarga kami di Catania.
Bagaimana dia akan mengatur kompromi tentang itu, jika kami punya anak kuharap dia akan menetap di Catania. Kami belum siap untuk kompromi itu. Tapi dia manis semalam, dan sangat panas tentu saja ... Aku tersenyum dan meringkuk masuk lebih dekat padanya.
Dia tampak terganggu dengan sedikit gerakanku.
"Cara kau tak bisa tertidur lagi."
"Aku masih mau tidur, lepaskan tanganmu, menjauhkah sedikit..." Bagaimana aku bisa tertidur dengan lengan seseorang menempel, rasanya belum terbiasa lagi.
"Kenapa aku tak akan menggigitmu,... "
"Paus tak mengigit mereka menyeruduk." Dia tertawa kecil tapi memejamkan mata.
"Istilah apa itu.Tidurlah Cara..." Aku mencoba memejamkan mataku lagi dan tak lama aku bisa jatuh tertidur lagi, ini masih pagi dan ini hari liburku di Milan.
"Tunggu dulu bayiku menangis, ...urus pekerjaanmu sendiri, tapi ini tak bisa Nyonya harus melihat, ... Ini juga tak bisa nyonya ... Letakkan dulu bayinya." Tiba-tiba dalam mimpi itu perasaanku sangat kacau, aku benar-benar ingin keluar dari sana ... Membawa bayiku pergi ke tempat yang tenang dan menenangkannya.
"Pergi kalian, bayiku menangis...Pergi!" Aku mengusir mereka mencoba menyelamatkan bayiku yang menangis kencang.
"Nona, panennya gagal!" Satu orang lagi melapor "Nyonya mesinnya rusak! Letakkan dulu bayimu, bantu kami..." Mereka mengambil paksa bayiku.
"Pergi....pergii...kembalikan bayiku...." Bayiku menangis kencang, dia kurus seperti tak terurus.
"Cara! Cara!" Seseorang menguncangkanku. Aku membuka langsung mata. "Kau bermimpi? Bayi siapa yang kau sebut..."
Aku sangat gembira aku bangun. Bayiku tidak akan berebut waktu dengan para pekerjaku, tidak akan...
"Kau bermimpi memiliki bayi? Kenapa kau malah bilang kembalikan bayiku?"
Guilio menatapku dengan heran. Aku bersyukur melihatnya sekarang. Astaga semalam aku belum minum pilku. Aku tertidur.
"Tidak bisa..." Aku belum siap. "Balena, mana pilnya, aku lupa."
"Apa..."
\=\=\=\=\=\=\=
bersambung besok, mak ngabsen , hari ini bs nulis dikit doang yg ini baru nge up alena 10 part