The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 25. I Don't Like You Too 5



"Okasan okiya saya adalah Bibi saya, dia ingin saya bisa meneruskan okiyanya. Ayah saya tidak meninggalkan saya uang untuk kuliah, karena dia mati terbunuh saat mengawal Tuan Derrick Tan berbicara di sebuah klub 11 tahun yang lalu." Dia ingin aku jujur aku akan bicara jujur.


Sekarang dia diam melihatku.


"Terbunuh saat mengawal Derrick? Aku baru tahu cerita itu. Kau pasti punya hidup yang berat." Dia lagi-lagi mencoba mengasihaniku. Aku tidak suka orang mencoba mengasihaniku seperti itu.


"Tidak, berat atau tidaknya tergantung sikap kita menjalaninya. Saya tidak merasa ada yang berat." Mungkin dia berharap jika aku minta dikasihani dia akan punya kesempatan membuatku bersandar dengannya. Kenapa rasanya berbicara dengannya sangat menyebalkan ...


"Kau tidak punya pertanyaan untukku. Cobalah sesuatu..."


"Apa Anda punya alergi makanan?" Dia meringis.


"Tidak." Tapi menjawabku juga.


"Kalau begitu saya tidak punya pertanyaan lain." Dia tertawa.


"Apa kau bersedia mengandeng lenganku?"


"Apa Anda ingin saya mengandeng lengan Anda."


"Iya."


"Baik kalau begitu." Aku tak keberatan,hanya mengandeng lengan. Pendamping biasa melakukannya jika diminta.


"Apa aku bisa menciummu?" Dia meringis lebar saat mengatakannya padaku. Aku memicingkan mataku dan tersenyum padanya. Dia menganggapku gadis Roppongi yang bisa dia cium dan duduk dipangkuannya begitu dia datang?! Kasar sekali.


"Anda boleh mencoba dan melihat akibatnya..."


"Kau benar-benar menganggapku buruk bukan?"


"Anda yang mengatakannya bukan saya."


"Apa kau pernah ciuman?" Pertanyaan selanjutnya membuatku mengertakkan gigi!


"Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya."


"Aku bisa membantumu jika kau jarang melakukannya." Sekarang aku maradang.


"Kau lebih cantik kalau marah-marah. Aku benci senyum palsumu itu." Dia masih melanjutkan tertawanya. Dia memang sengaja memancing kemarahanku. Aku akan mendiamkannya mulai sekarang, tak akan menanggapi kata-katanya lagi.


"Baiklah-baiklah, tak usah marah-marah. Kau mau minum sekarang? Redakan emosimu, tidak aku tak akan mencoba menciummu. Tapi jika kau mau kau bisa memintanya. Aku minta maaf. Aku tak akan menggangumu lagi Setsuko-san..." Dia masih tertawa dan aku menatapnya dengan kesal.


Aku membenci orang ini.


Tenangkan dirimu Setsuko, pria menyebalkan ini rekan kerjamu. Jika dia musuhmu pun kau tak bisa biarkan dia menang. Dia hanya sedang bermain-main disini.


"Terima kasih, saya akan mengingatnya..." Aku memakai lagi topengku, setelah bisa mengendalikan kemarahanku.


"Dimana kau tinggal di Tokyo." Dia bertanya hal yang lain kemudian.


"Okiya punya apartment di Tokyo, jadi saya tinggal di sana."


"Begitu. Dua minggu lagi, akhir pekan aku memerlukanmu di sebuah pesta rumah siang hari dan malamnya ada sebuah jamuan resmi. Datanglah ke rumahku. Berikan alamat apartmentmu ke Mayumi dan dia akan mengatur orang untuk menjemputmu, kamar akan disediakan pengurus rumah untukmu.


"Baik,..." Aku tak akan mendebatnya. Asal aku punya kamar sendiri. Akomodasi ditanggung oleh pemberi pekerjaan.


"Baiklah ayo kita pergi." Dia berjalan ke arah pintu dan aku mengikutinya. Sekarang dia bersikap sopan membukakan aku pintu, membiarkanku keluar duluan.


Dan aku menunggunya menutup pintu kembali.


"Shall we..." Sekarang dia memberikan lengannya untuk digandeng. Aku menyisipkan tanganku padanya dan kami berjalan tanpa ada masalah.


"Kudengar bahasa Inggrismu bagus?"


"Iya, Anda bisa mengandalkan saya. ."


"Hmm. Kau tak pernah kuliah diluar bukan? Bagaimana kau bisa lancar bicara."


"Saya menyukai bahasa Inggris dan banyak metode belajar yang bisa saya pakai. Belajar tak harus bertemu native speaker, memakai media online pun sama bagusnya. Asal kau selalu berlatih dan belajar pasti hasilnya pasti terlihat, dan beberapa tahun belakangan saya punya banyak kesempatan mempraktekkannya langsung." Aku menjawabnya dalam English jadi dia bisa menilai sendiri kemampuanku. Kudengar dia menamatkan kuliah di USA. Tentu dia bisa bicara seperti native.


"Kau benar-benar fasih, sekarang aku kagum.Kau telah bekerja keras." Aku lebih suka dia memuji karena kemampuanku.


"Terima kasih. Saya harap saya bisa membantu."