The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 26. New Piece of Puzzle 2



"Ohh Tyson, baiklah Sir." Mungkin aku bisa bertemu dengannya nanti.


Belum apa-apa sejak pemberitahuan itu dia sudah meneleponku kemudian.


"Natalie, kau sudah lama tak mendengar kabarmu. Kita satu kota lagi sekarang, mungkin kita bisa bertemu nanti, aku akan bekerja di central LA."



"Baiklah, tentu saja. Kenapa kau tak terlihat di NY belakangan."


"Aku ke London beberapa saat, kasus yang kuburu ternyata punya pusat operasi di London."


"Kau diterjunkan sendiri sekarang?"


"Iya. Sulit dibongkar, operasiku sekarang penyusupan, aku harus berusaha masuk lingkaran dalam, boss mau aku tetap disana dia berkeras ada sesuatu yang bisa dia temukan. Tapi tak apa gajinya lumayan, pensiun diniku lebih cepat tercapai jika begini."


Aku mau pensiun di pertanian, menjadi petani mungkin menjauh dari kehidupan kota besar seperti LA dan New York.


"Iya...iya... kau ingin pensiun dan jadi petani." Dia tertawa ketika aku menceritakan keinginan terpendamku.


"Nanti aku telepon oke kapan kita bisa bertemu."


"Baiklah." Senang bisa bertemu Tyson, dia sahabat yang baik. Setidaknya dengan orang yang mengetahui dirimu sebenarnya kau bisa bicara jujur tanpa takut.


Sekarang aku menuju mengemudi ke sebuah pemukiman elite, gated community dengan pantai pribadi di Los Angeles. Cameo Shore, Corona de Mar. Hanya milyuner yang hidup disini tentu saja. Rumah mansion yang punya pemandangan pantai di halaman belakangnya ini berharga diatas USD 35 juta.



"Dilihat dari mukamu, kau datang dan sampai kesini dengan meneriaki orang di sepanjang jalanan kota LA." Louis langsung meringis melihatku masuk dan paham wajahku yang nampaknya masih bertanduk merah.


"Kau pikir itu lucu..." Aku ingin melemparnya dengan sesuatu atau menaruhnya di traffic jam LA selama dua jam.


"Natalie yang cantik, jangan marah padaku." Aku memakai baju pesta elegan berlengan panjang hitam.


"Siapa suruh kau tidak paham akan penderitaanku." Selama beberapa bulan ini aku sudah mengembangkan beberapa pertemanan dan hubungan cukup dekat dengan Louis, tapi Nathan bukan orang yang mudah didekati, jika pekerjaan beres dia tak akan komplain, tampaknya dia menghindari terlalu dekat dengan wanita.


Aku bebas meneleponnya kapan saja untuk pekerjaan tapi dia sulit diajak bercanda, sulit diajak bicara lebih dekat. Dia tak pernah mengajak mengobrol lebih jauh dari pekerjaan.


"Aku paham akan penderitaanmu, tapi kau di LA, tiap hari kau bertemu Brad Pitt tiap hari, tidakkah itu membuatmu merasa lebih baik." Ohh aku pernah bertemu Brad Pitt di sebuah coffee shop itu cukup mengejutkan tentu saja. Tapi hanya sampai disitu, apa yang bisa kau harapkan.


"Tidak kecuali dia mentraktirku makan malam."


"Aku bisa mengenalkanmu dengan beberapa aktor tampan."


"Tidak tertarik..."


"Kenapa?"


"Hmm... aku suka yang nerd dengan kacamata tebal tapi kaya. Tampan dan banyak penggemar bukan pilihanku." Loius meringis lebar, Loius yang manis ini, dia juga nampaknya sangat pemilih. Dibalik sikapnya yang ramah itu dia sebenarnya cukup sulit didekati secara personal. Dia perlu lama untuk menilai seseorang, sampai dia membuka dirinya sepenuhnya. "Ohhh ayolah, Mark Zuckerberg sudah tak tersedia." Aku tertawa ketika dia menyebutkan salah satu orang terkaya di dunia itu.