
Marriana yang datang merawatku adalah wanita paruh baya yang hangat. Mengingatkanku pada Ibuku yang selalu bersikap hangat pada orang-orang disekelilingnya. Dia memastikan aku lebih nyaman, membantuku melakukan semuanya, karena lengan kananku nampaknya sedikut bermasalah, dokter bilang akan pulih setelah beberapa saat. Dan aku tidak sendirian disini, aku senang mendengarkan bicara begitu banyak, dia bahkan membuatkanku puding. Dia baik sekali...
“Terima kasih Marianna, kau sampai membuatkanku puding.”
“Aku meninggalkan untuk Tuan juga. Nona pasti istimewa, jangan-jangan Nona akan menjadi Nyonya rumah nanti,” perkataannya membuatku tertawa sekarang.
“Bagaimana kau bisa menyimpulkan begitu?” Aku baru beberapa saat dekat dengan Bova, bagaimana dia langsung menyimpulkan.
“Tuan tak pernah begitu perhatian pada seorang gadis seperti sekarang, bahkan bersedia menunggui Nona disini, aku memang baru sekitar enam tahun bekerja dengan Tuan tapi perlakukuannya ke Nona sangat istimewa tak bisa dibantah lagi. “
“Sebelumnya ada Sophia. Memangnya dia tidak memberi perlakuan istimewa pada Sophia...”
“Sophia, ahh Nona pernah bertemu dengannya?”
“Pernah, dia malah pernah mengaku sebagai tunangannya.” Aku mengingat lagi bagaimana gadis itu pernah memperlihatkan cincin berlian besar padaku.
“Hhmm... saya tidak berani terlalu mencampuri urusan Tuan. Dia tidak pernah datang lagi, mungkin sudah putus dengan Tuan. Tapi saya melihat Sophia manja itu hanya teman Tuan untuk bersenang-senang. Mereka tak sepadan, Tuan hanya senang mengerjainya. Dia tak menganggap gadis itu serius.” Ternyata Marianne juga menganggapnya begitu, nampaknya sebelumnya Bova memang tak ingin punya hubungan mengikat. Tapi begitu dia punya seseorang di hatinya dia jadi manis dan hangat.
“Aku bersyukur kalau begitu. Tadinya aku juga ragu padanya. Tapi nampaknya dia benar serius soal kami.”
“Tak diragukan lagi Nona, tak ada seorangpun yang akan mengantikan Nona sekarang. Cepatlah sembuh dan kembali kerumah bersama saya.” Aku hanya tersenyum mendengar harapannya.
Aku menelepon Papa setelahnya. Aku perlu menjelaskan apa yang terjadi, sebelum dia datang.
“Papa, kau sudah bersiap-siap.” Dia sudah sehat dan bersemangat, dan mau kembali bekerja, sudah bisa marah-marah. Itu membuatku senang tentu saja.
“Iya, Papa sudah bersiap. Tak sabar untuk kembali ke restoran lagi. Apa masih ada yang menggangumu di sana?”
“Sebenarnya semalam sesuatu terjadi. Tapi sekarang aku baik-baik saja.”
“Apa maksudmu semalam sesuatu terjadi.” Aku menceritakan yang terjadi padaku semalam dengan jelas. “Papa kau jangan memarahi Bova, ini sebenarnya kecelakaan, dia sudah mengirimkan tiga pengawal untuk melindungiku. Dia melakukan segalanya, dia mengancam banyak orang, membuka namanya mengumumkan aku kekasihnya, sehingga aku dalam perlindungan keluarganya sekarang.”
“Kau tertembak di dada, demi Tuhan Eliza, kenapa kau tidak menelepon Papa sebelumnya.”
“Papa ini hanya terserempet oke, aku baik-baik saja. Bova menjagaku, bahkan sekarang ada seseorang yang menjagaku disini. Kau tak usah khawatir, aku akan pulih tak lama. Kau jangan khawatir. Jika kau kuatir aku yang akan bertambah kuatir padamu.” Terdengar dia yang menghela napas panjang.
“Papa kadang merasa menjerumuskan kalian, entah apa yang telah Papa lakukan.”
“Papa...papa sudah melakukan semuanya untuk kami sampai sekarang. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan kita akan melewati ini dengan baik-baik saja. Tapi jangan marahi Bova oke. Dia akan menjelaskannya padamu.”
“Iya, Papa tahu. Dia memperhatikanmu, jika tidak ada dia entah bagaimana kau bisa sendiri menghadapi ini. Papa juga tahu.”
“Aku diberi pinjaman oleh Javier, aku punya uang sekitar 3 juta sekarang, aku yakin bisa menyelesaikan ini dengan baik Papa. Bahkan melunasi cashpun aku bisa setelah kita negosiasi nilai bunga nanti.”
“Javier? Benarkah dia sebaik itu padamu?”
“Iya setidaknya dia menghargai masa sepuluh tahun yang telah kami lewati.”
“Baiklah, Papa akan kembali ke sana dan membantumu oke. Papa berjanji akan memperhatikan kesehatan Papa sendiri. Jangan khawatirkan Papa, kau sudah mengkhawatirkan banyak hal.” Sekarang aku yang menghela napas lega. Ternyata Papa mengerti bahwa aku juga mengkhawatirkannya.
“Baiklah Papa, cepatlah sampai,aku merindukanmu.”Aku menutup telepon dengan perasaan lega. Hilda yang memberiku pesan bahwa restoran kami didatangi banyak wartawan untuk mencari berita, tapi semuanya dihadapi oleh pengacaraku. Setidaknya Gianni sudah tidak berani lagi mencari masalah dalam waktu dekat. Aku bisa memulihkan diri, biarkan media yang lanjut menghujat mereka.
Akhirnya jam makan malam Ayah sampai. Dia ternyata sudah mampir ke restoran dan mengambil makanan kesukaanku disana. Kemudian dia tiba di rumah sakit untuk memastikan aku makan dengan baik.
“Papa, banyak sekali yang kau bawa.” Dia hanya tertawa, tidak nampak kuatir. Bova pun nampaknya baik-baik saja. “Marriane, ayo makan.” Dia menunggu Bova datang baru akan pulang.
“Ohh, Nyonya ini yang merawatmu.”
“Ahh Iya Tuan saya tahu pasien lebih cepat sembuh jika ada orang yang bisa dipercaya merawatnya. Nona akan cepat sembuh, dia punya banyak orang yang memperhatikannya.”
“Iya kau benar, terima kasih kau sudah disini, dan Fabri, terima kasih.” Papa berterima kasih pada Bova. Aku lega dia tidak menyalahkannya.
“Saya sudah berjanji padamu Tuan, ini harus saya lakukan.”
“Kau melakukannya dengan baik, ini cuma kecelakaan. Aku percaya kau sudah melakukan yang terbaik. Eliza punya kau juga sebuah keajaiban yang harus disyukuri. Jangan menyalahkan dirimu sendiri.” Papa menepuk bahunya. “Ohh ya, di depan banyak sekali wartawan. Apa mereka mencari berita tentang Eliza.”
“Ohh iya, memang ada, pengacara sudah mengurusnya. Dokter yang akan memberi keterangan. Eliza tidak akan diganggu, sampai dia benar-benar sembuh.”
“Nampaknya kau memang ditangan yang benar.”
Kami semua makan malam bersama dikamarku, sementara Marianne pamit pulang duluan. Besok dia akan menemaniku siang, dan sore dia kembali.
“Tak akan ada yang berani menganggu Eliza lagi, coba saja siapa yang berani membantu Gianni menjalankan intimidasi akan kukirim mereka ke penjara.” Bova sudah bertekad nampaknya, dia bersungguh-sungguh mengancam dengan melibatkan semua orang yang dia punya.
“Apa kau tak takut Gianni akan mengancammu secara langsung.” Ayah yang terdengar khawatir sekarang.
“Aku mau melihat dia datang langsung padaku. Ancamannya tidak berguna jika dia tidak punya apapun untuk mengancamku. Tenang saja Zio, aku bukan sekali diancam oleh orang.”
“Baiklah lakukan seperti yang kau inginkan . Zio percaya saya padamu.”
“Aku akan menemani Eliza, Zio harus pulang dan beristirahat. Zio bisa membantu Eliza dengan mengawasi restoran. Juan sekarang akan menjadi sopir yang mengawal Zio.”
“Baiklah, tampaknya Zio sudah punya penjaganyanya sendiri. Zio pulang dan istirahat.” Papa pulang dengan tenang, akupun bisa beristirahat dengan tenang sekarang.
“Tidurlah,...kau harus tidur dan makan yang banyak.” Dia duduk disampingku setelah Papa pulang.
“Aku sudah tidur seharian, tampaknya dokter memberikanku obat yang menyebabkan aku mengantuk. Setiap selesai minum obat aku selalu mengantuk.”
“Harusnya memang begitu. Kau perlu istirahat.”
“Besok kau tak perlu menungguiku. Kau harus istirahat dengan benar.”
“Setelah kau diperbolehkan turun sendiri aku akan pulang. Aku bisa tidur disini. Kau tak lihat perlengkapan kempingku lengkap.” Aku memandangnya, aku diberikan seseorang yang perhatian seperti ini.
❤❤💜❤❤❤
POV Bova
“Sir, seseorang wanita bernama Lorina Gianni mau menemuimu.”
“Lorina Gianni?”
“Iya, yang saya tahu dia saudara bungsu dari Adriano Gianni.” Sekarang Gianni mulai mengirimkan keluarganya, apa yang mereka mau sekarang.
“Ohh, saudara bungsu? Baiklah, nampaknya Gianni mengirimkan juru rundingnya. Apa yang diinginkannya, suruh dia masuk.” Aku memerintahkan assistenku mengirimkan 'adik Gianni' ini.
Seorang wanita cantik dengan rambut kecoklatan, perawakannya semampai, memakai blouse peach sopan dengan celana panjang elegan. Dia memberikan seulas senyum saat masuk ke dalam ruangan. Hmm, nampaknya kali ini akan memakai jalan damai karena cara intimidasi tidak berhasil.
“Siang Tuan Bova,... Saya Lorina, kita pernah bertemu sebelumnya. Mungkin Anda tidak ingat karena hanya perkenalan biasa.”
“Ohh benarkah. Saya memang tidak ingat. Maafkan saya jika begitu, sihlakan duduk Nona Gianni...” Dia duduk di depanku dengan cara elegan. Gayanya seperti gadis yang sudah menempuh pendidikan untuk bersikap gemulai layaknya putri kecantikan. Kurasa entah dimana aku pernah melihatnya. “Tapi Anda seperti familiar bagi saya mungkin memang kita pernah bertemu.”
“Ohh saya adalah Miss Italy tiga tahun lalu, mungkin Anda pernah melihat saya di beberapa komersial, atau mungkin di televisi di beberapa film.” Ahh wanita ini sedang membangakan dirinya didepanku. Miss Italy, adik bungsu Adriano Gianni ini cukup mengagumkan.
“Ohh pantas saja.” Jadi mereka mengirimkan miss Italy -nya Gianni sekarang. Dia tersenyum kecil, nampaknya dia senang memamerkan senyumannya itu. Mungkin dia percaya senyumnya itu adalah jalan memuluskan semua urusan. Terserah saja, kuladeni saja apa maunya. “Jadi apa yang bisa kubantu untuk Gianni, Nona Miss Italy yang cantik...”
"Kami tidak pantas minta bantuan pada Tuan sebenarnya. Tuan belum memaafkan kami... Mungkin saya bisa melakukan sesuatu untuk mendapatkan maaf Tuan..."
"Ohh benarkah? Melakukan sesuatu?" Apa maksud pembicaraan gadis ini? Aku menebak-nebak dengan banyak spekulasi diantara banyak pikiran yang berputar di kepalaku.
“Saya mau minta maaf untuk menyebabkan masalah dengan kekasih Anda. Saya tidak tahu dia kekasih Anda, kami baru mendengarkan kemarin saat Anda mengancam beberapa orang.” Ternyata dia tak menyebutkan maksudnya dia berputar dulu dengan kata-kata manis meminta maaf.
“Ohh, Gianni bisa meminta maaf. Mengagumkan, saya baru mendengarnya.” Aku membalasnya dengan sarkasme dan senyum. Permintaan maaf yang sangat palsu hanya untuk tujuan lain.
"Beberapa orang di keluarga kami mungkin tak bisa berpikir dengan lurus..." Kupotong kata-katanya dengan mengangkat tanganku.
"Nona Lorina, kurasa yang benar adalah keluarga utama marah besar pada kalian dan akhirnya kau yang dikirim kesini. Apa aku benar?" Sekarang dia terdiam. Aku tersenyum lebih tepatnya tersenyum sinis padanya.
"Saya datang kesini untuk minta maaf, kami tak akan memulai intimidasi apapun. Keluarga kami pada awalnya sudah meminta maaf."
"Kau sudah meminta maaf? Yang mana..." Aku tertawa. "Maksudmu dengan uang bukan, ganti rugi. Itu juga dilakukan oleh pengacaramu, dan itu bukan minta maaf namanya Nona, itu mengancam dengan uang. Keluarga Gianni tak pernah minta maaf, dan kau sama saja. Tidak tahu cara minta maaf." Aku menunjukkan jariku padanya langsung didepan matanya.
Aku berkata keras padanya langsung, kepala keluarga Gianni pikir dengan dengan mengirimkan seorang miss Italia aku akan merubah pikiranku? Jika meminta maaf pergi ke Kakak dan Ayahnya bukan padaku! Omong kosong! Aku menahan diri ingin memarahinya. Tapi kurasa aku punya cara lain mengajar keluarga yang tak tahu cara minta maaf ini.
"Ada yang lain? Kau menghabiskan waktuku."
"Maafkan saya, Anda benar saya harusnya pergi langsung ke Nona Eliza. Saya disini ingin mengatakan Ayah saya ingin berbicara pada Anda Tuan. Jika Tuan bersedia kapanpun yang Tuan inginkan."
Tebakanku mudah apa yang Gianni inginkan. Jalan pikiran orang yang terbiasa bermain kekuasaan adalah melalui kekuasaan. Tapi baiklah akan kulayani mereka, lagipula tidak ada jalan keluar lagi untuk mereka. Kemungkinan besar penjara diatas 30 tahun bisa terjadi sekarang. Adrianno Gianni berumur 43 tahun, dengan disel 30 tahun sama saja dengan hukuman mati.
Keluarga ini sekarang juga didorong ke titik dimana mereka harus melakukan sesuatu untuk membereskan kekacauan ini atau kepala keluarga Gianni menendang mereka keluar dari keluarga.
Dia terdiam sekarang.
"Saya tahu keluarga saya salah, saya sudah mengatakan itu dari jauh hari Tuan Bova, tapi tak ada yang mendengar saya, tapi sekarang saya di minta pada Anda setelah kehabisan cara." Dia berkaca-kaca, dan dengan sukses meneteskan air mata buaya. Miss Italy dan punya bakat akting yang hebat. Aku menyentuh hidungku yang gatal, nampaknya aku ingin menangis juga tersentuh dengan totalitas aktingnya.
"Baik-baiklah, tak usah menangis. Anggap saja aku mendengarmu...Jadi kenapa kau kesini selain minta maaf." Dia berpura-pura mengusap air mata buayanya sekarang. Aku jadi bosan menunggunya. Dia terlalu banyak dikontrak pemeran protagonis teraniaya tampaknya.
"Terima kasih sudah mengerti kesulitan saya Tuan. Saya kesini benar-benar ingin mencari jalan tengah. Bukan sebaliknya." Ya-ya-ya jalan tengah untuk memuluskan hukuman teringan untuk kakakmu.
"Baiklah, aku menerima niat baikmu. Kau gadis yang baik, mendukung keluargamu, aku sepenuhnya mengerti posisimu. Apa yang bisa kubantu untukmu." Dia menjadi ceria kembali.
"Ehmm... Tuan tahu, sebenarnya Tuan Bova itu terkenal diantara gadis-gadis."
"Ohh benarkah?"
"Iya, aku kenal Tuan Bova, Anda terkenal di Milan." aku meringis, gadis ini hanya ingin menjanjungku untuk membuat usahanya mudah.
"Tidak seterkenal Andriano Gianni saya kira."
"Ahhh Anda terlalu melebih-lebihkan kakakku, dia cuma pembuat masalah."
"Hmm... Anda membuat aku dan teman-temanku penasaran. Anda sering mendampingi Paman Anda dan beberapa orang mengatakan Anda adalah tangan kanan Tuan Bova senior. Anda paling tampan diantara yang lainnya." Dia mendekatkan kursinya ke depan sambil tersenyum menatapku. Aku mulai mengerti apa yang akan dia lakukan.Aku menaikkan alisku. Aku ingin tertawa tapi baiklah aku memasang muka dingin saja, kita lihat saja sampai dimana dia bertahan.
"... mungkin kita bisa makan malam."
"Makan malam?" Aku ingin memperjelas acara makan malam ini. Dia menganggap pertanyaanku tanda aku tertarik nampaknya. Dia sekarang berjalan ke dekatku. Memutar dan duduk di depanku.
"Makan malam. Saya sudah katakan saya dan teman-teman saya penasaran pada Anda."
"Ohh berarti makan malam ini melibatkan teman-temanmu juga." Nampaknya makan malam.versi Miss Italy ini tidak mengecewakan.
"Iya, mereka cantik-cantik." Ohh begitu rupanya.
"Pengecut... Tak berani satu lawan satu rupanya." kata-kata ku membuat Lorina tersenyum, bukan Gianni namanya jika ditantang dia mundur. Gadis ini hanya akan mempermalukan dirinya sendiri tapi tampaknya dia tidak takut.
"Ohhh...ternyata Tuan lebih senang makan malam berdua. Conservative,..." Dia tersenyum sambil menggigit bibirnya. Sangat ahli, tapi dia menyamakan semua orang, dia pikir semua bisa di selesaikan dengan muslihat. "Saya sebenarnya juga lebih suka conservative party..."
"Nona, apa Anda tak berpikir saya sudah menjalani banyak kali conservative party." Aku akan jadi playb*oy bang*sat saja untuk melayani Gianni ini.
"Saya tak suka berbagi Tuan, saya suka selevel, pria yang bisa diandalkan, saya sudah bilang saya mengagumi Anda. Tapi nampaknya saya tak berarti,
saya sebenarnya memegang jabatan di perusahaan Ayah juga, saya juga tahu...sebenarnya punya beberapa proyek yang sangat menguntungkan tahun depan. Mungkin Tuan tertarik untuk bergabung, saya mengerti keluarga Tuan punya bidang usaha yang sesuai untuk menjadi rekanan. Kita bisa bicarakan sambil makan malam.... sampai larut malam pun tak apa." Dia tersenyum manis.
Tapi aku bukan orang yang mudah tertipu senyum manis.
bersambung besok