The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
ON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 27. A New Year Vocation?!



Akhir pekan lagi...


Sudah Desember,...Akhir tahun, Natal, tanggal 13nya adalah perayaan Santo Lucy, araccini(rice ball) dan cuccia (wheat berry pudding) akan segera dibuat. Pekerja sedang memangkas dahan anggur untuk perawatan di musim semi berikutnya.


 


 



Ponselku berbunyi,... Fabian yang menelepon.


“Fabian? Ada apa?”


“Aku sudah mendapatkan lahannya, sudah kubayar. Aku akan kesana untuk menyelesaikan perjanjian legalnya. Kapan kita bisa ke pengacara untuk menyelesaikan dokumen dengan Guilio. Jadi aku sekalian kembali kesana?”


“Aku akan tanya Guilio   kalau begitu. Dia sedang di Hongkong...”


“Oke,...” Dia diam  sebentar. “Bagaimana kabarmu?”


“Aku? Hmm baik. Kenapa kau merindukanku...”  Dia tertawa kecil di seberang sana. Setelah dia pergi aku tak meneleponnya, kami hanya teman.


“Aku memikirkanmu.”


“Bartardo absolute.” Aku membalasnya sambil tertawa, aku belajar tidak terpengaruh kata-kata manis, Raoul sudah memberikan pelajaran banyak padaku, tidak akan mungkin aku terjatuh kedua  kalinya di lubang yang sama. Mereka bisa mengatakan apa saja, tapi hanya tindakan yang kupercaya.


“Kau memang kejam Monica.”


“Bagus kau tahu. Aku akan mengirimimu pesan kapan Guilio bisa ke sini.” Malam berbintang itu, memang menyenangkan, terbayang-bayang, membuatmu ketagihan. Sesuatu  yang lama tidak terjadi itu membuatku begitu panas merona  ketika memikirkannya lagi . Tapi seperti yang dia bilang, jangan jatuh cinta padaku... Aku tak bisa menjalani itu jika diteruskan, adalah kebohongan jika aku tak ingin memilikinya, tak ingin dia menciumku.


“Baiklah, aku akan menunggu.” Dia diam sebentar.  “Liburan akhir tahun, kau mau liburan denganku?”


“Tidak, aku liburan dengan Mamma. Sorry Fabian...” Aku menolak ajakannya langsung tanpa berpikir. Jika dia pikir aku  batu yang tidak punya perasaan, atau wanita yang tergila-gila padanya mungkin aku akan meloncat kegirangan, tapi kami hanya teman seperti katanya.


“Hmm... baiklah.”  Aku senang mendengar dia kehabisan kata-kata. Malam itu tak bisa terjadi lagi, aku tak bisa menanggung patah hatinya. Tanpa bergerakpun dia bisa mematahkan hati wanita. Kenapa partner bisnisku adalah dua orang pejahat, dimana aku bisa bertemu pria normal yang penyayang  dan hangat. Aku benar-benar ingin menemukannya...


“Baiklah, aku menunggu kabarmu.” Aku menutup teleponku. Dan mengirim pesan ke Guilio. Dia langsung balas meneleponku.


“Guilio, kapan kau bisa kesini? Aku akan meminta bagian legal mengatur dokumennya.”


“Kurasa akhir pekan ini aku bisa kesana, aku bereskan pekerjaan di Milan dulu. Senin minggu depan kita tanda tangan.”


“Baiklah, aku akan memberitahu Bova. Itu saja... Aku tutup teleponnya.”


“Tunggu dulu!”


“Ada apa?” Kaget karena dia tiba-tiba berteriak.


“Raoul masih mencoba menganggumu?”


“Tidak kurasa, ancaman Bova yang kemarin sukses. Tak usah khawatirkan itu lagi.”


“Aku belum bertanya pada orangku,apa  dia sudah berhasil mengetahui sesuatu tentang Raoul di Milan sekarang.” Dia diam sebentar. “Monic, akhir tahun ini kau mau liburan kemana?”


“Bersama Ibu, entahlah...belum kuputuskan sama sekali, mungkin ke Paris, Monaco, ...aku belum tahu, kenapa kau bertanya.”


“Kupikir mungkin kau mau ikut denganku...”


“Tidak.” Langsung kujawab, sejak kapan aku berniat ikut dengannya. Tak ada dalam sejarah aku ikut liburan dengannya.


“Kenapa tidak?”


“Carilah gadis baru Guilio, kenapa kau menyusahkanku sekarang. Sejak kapan aku ikut  denganmu. Kenapa kau jadi menyusahkanku sejak kau selibat, sudahlah kututup teleponnya. Byee...”


“Monic!” Kudengar suaranya saat menjauhkan ponselku. Tapi aku tetap menekan   tombol merah untuk mematikan telepon.


Dan seketika aku menutup teleponku.


Aneh  sekali hari ini, kenapa dua orang ini harus mengajakku pergi berlibur di saat bersamaan. Seperti tidak ada gadis  lain saja di dunia ini...