The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 23. Loss Brake



"Apa? Kenapa kau menelepon lagi?"Ternyata Don Juan ini belum puas bertanya. Dia masih meneleponku di rumah kemudian. Kurasa dia hanya sedang mengorek disini.


"Tak boleh aku meneleponmu?" Kenapa aku mendengarnya seperti anak kecil yang habis dimarahi dan tak suka.


"Kau sensitif sekali, aku bertanya karena tadi kita baru saja bertemu."


"Aku hanya ingin menelepon, anggap saja aku sedang mendongengkanmu sebelum tidur." Aku terkikik geli. Kadang Don Juan ini memang berlaku manis.


"Baiklah, aku akan mendengarkan dongenganmu."


"Kekasihnya itu, apa dia gila punya hubungan dengan drama queen seperti itu?" Bukan mendongeng, dia hanya mau mengorek apa yang kurasakan setelah bertemu Javier.


"Aku tak tahu, bukan urusanku, wanita itu sekertarisnya dulu. Urusanku ke dia hanya dia mengantarkan surat perceraian kami Bova, tak ada yang lebih dari itu. Kami hanya berusaha berpisah baik-baik." Aku tahu dia mungkin cemburu, cemburu itu tidak enak. Dan aku disini berusaha menjelaskan sejelasnya.


"Ohh dia membawakan surat perceraian kalian?"


"Iya, ..." Diam sebentar. "Bagaimana perasaanmu, kau sedih?" Sekarang dia menjadi manis.


"Kurasa aku sudah melewati bagian paling sedihnya. Hanya kadang masih teringat, kau juga tahu tak mungkin menghapus tahunan dalam semalam."


"Jika dia memintamu kembali apa kau ingin kembali padanya." Pertanyaan selanjutnya yang mengandung unsur penasaran tingkat tinggi.


"Tidak Bova, penyebab utama perceraian kami adalah satu hal, anak, yang tak bisa kuberikan padanya. Tak mungkin kami bersama lagi."


"Begitu ternyata." Dia mungkin terdengar lega sekarang, begitulah yang kudengar dari nada suaranya sekarang. "Tak usah kuatir, anak bukan syarat untuk berbahagia."


"Ya, bagi beberapa orang tidak begitu. Walaupun aku sudah berdamai dengan diriku sendiri."


"Kau akan mendapatkannya..." Maksudnya dengannya, kenapa dia tidak mengatakannya saja sekarang. Menunggu saat yang tepat. "Sudah malam sebaiknya kau beristirahat, besok akan lebih baik."


"Tentu besok akan lebih baik. Terima kasih sudah menelepon."


"Baiklah istirahatlah Vanilla. Selamat tidur."


Akhirnya sesi cemburu plus penasaran itu berakhir. Pillow talk versi telepon itupun berakhir. Aku tidur dengan senyum dibibir. Dongeng pengantar tidur ini membuatku tersenyum setidaknya.


Keesokan paginya aku pergi bekerja dengan perasaan baik. Aku membuka pintu dan entah bagaimana ada satu bouquet besar bunga mawar dan aster pink serta bunga-bunga lain yang sudah ditaruh dalam vas dan sekarang susunan itu terpampang dengan cantik di meja kerja di ruanganku.


"Hilda? Bunga dari mana ini?"


"Nona, tadi baru saja ada yang mengantarnya katanya untukmu, ada kartunya nona ." Hilda menunjuk sebuah kartu di sisipan bunga itu.


"Ohh..." Aku mengambilnya dan membuka kartunya.


Sebuah kartu pink sesuai bunganya.


'Smile Vanilla, always be happy. From B.' Sebuah emotions yang digambar dengan gigi bersinar di belakangnya.


Manis sekali. Siapa lagi yang memanggilku Vanilla selain Don Juan itu.


Aku mengetikkan pesan padanya sekaligus memfoto bunganya.


'Terimakasih untuk ini. Aku akan selalu bersemangat.' Ditambah emoticon senyum lebar yang sama.


'Hanya hadiah kecil untukmu. Bersemangatlah oke.' Dia membalas pesanku dengan singkat. Dan mengirimkan emoji bersemangat di belakangnya.


'Pasti.' Kuakhiri dengan emoji ciuman, untuk membuat dia senang juga.


Akhirnya dia cuma mengirim emoji tersenyum lebar. Aku merasa kami seperti anak remaja sekarang. Ini mengelikan!


\=\=\=\=\=\=


Seminggu ini tak banyak yang terjadi. Aku fokus di restoran, sementara tuntutan masih dalam proses. Dan yang mengembirakan adalah pendapatan restoran di rate yang kuharapkan. Itu sudah membuat aku merasa bisa melakukan apapun, Ayah sehat di Catania, Valentina sudah menemukan kampus yang dia mau dan sedang proses pendaftaran. Sementara kemungkinan aku bisa membayar hutangku pada Gianni secara cash dengan pinjaman Javier.


Bova, well dia bersikap baik, menganggapku teman. Meneleponku setiap hari menceritakan donggeng sebelum tidur. Aku tak menyangka dia sabar sekali dengan keadaan kami.


Sebuah telepon muncul di ponselku saat aku ingin kembali. Siapa, nomor tak kukenal.


"Siapa ini?" Aku mengangkatnya dan langsung bertanya namanya.


"Wanita ular..." Yang mengatakan itu adalah seoramg pria. Aku langsung ingat siapa yang mengatakan aku wanita ular. Tapi harusnya ular itu sudah kembali ke Madrid.


"Kenapa kau kaki tangan Silvia meneleponku. Aku tak punya urusan dengannya."


"Kau wanita jahat. Sudah berpisah dari suamimu tapi kau tetap menganggu Silvia. Dasar ular...."


"Mengganggu Silvia. Sejak kapan aku menggangunya?"


"Kau memang pintar berpura-pura. Memang ular..." Dan telepon itu terputus, aku melihat ke layar ponselku. Dasar orang gila.


Kenapa dia menganggap aku menganggu hubungan mereka. Mungkinkah mereka bertengkar hebat setelah peristiwa di restoran itu. Javier nampaknya tersinggung dengan kelakuannya. Berarti mereka sudah putus sekarang?


Aku penasaran walaupun aku tak ingin sengaja bertanya ke Javier. Sudahlah biarkan saja, aku ingin pulang saja.


"Nona, kita kembali?"


"Iya, ayo." Kali ini Juan yang jadi sopirku. Walaupun tidak ada ancaman apapun, tapi Bova tak ingin mengambil resiko apapun. Pengawal tetap mengikutiku. Kerjaan mereka santai, karena aku hanya mengunjungi restoran yang lain untuk mengecek yang masih berada di sekitar Milan juga.


Kami masuk ke mobil seperti biasa. Dan menempuh jalur yang sama. Kadang mereka menempuh jalan berputar sedikit, tapi kali ini mereka mengambil jalur tercepat.


Mobil mulai melaju dan aku menghabiskan waktu bermain ponsel di perjalanan. Baru lima menit kami berjalan tidak terlalu cepat. Juan mengambil ponselnya, memasang headsetnya.


"Bro, rem blong." Aku langsung menoleh pada Juan. "Sial." Dia masuk ke low gear dan memakai rem parkir untuk untuk memperlambat laju kendaraan. Walau hanya bisa mempengaruhi sedikit. Ada yang memotong selang rem kami.


"Nona seat belt! Pindah ke kanan!" Aku yang di kursi belakang sudah dari tadi menjangkau seat belt begitu mendengar kata rem blong. Tapi mendengar dia menyuruhku pindah ke kanan aku dengan cepat pindah ke belakangnya.


"Didepan ada pembatas, aku akan mencoba ke kiri, pepet kanan." Dia bicara cepat. Sementara dia mencoba membunyikan klakson terus menerus dan memainkan lampu agar orang menyingkir dari jalanan kami. Dari belakang mobil pengawal kedua mendekat.


"Maaf Nona, mobilmu akan ringsek."


"Lakukan saja asal kita selamat." Jika aku tak selamat siapa yang akan menjaga Valentina dan Papa. Ya Tuhan kumohon selamatkan kami. Doaku satu-satunya sekarang.


"Lindungi kepalamu Nona. Aku mulai!" Bersamaan dengan itu mobil yang lain mulai memepet kami.


....


bersambung besok


Maaf hari ini dikit dulu ya