
Dalam dua minggu kemudian, Gianni menyelesaikan pensyaratan yang disyaratkan oleh Antonio Segni dan Bova, sidang pun akan dimulai, sidang yang isinya hanya formalitas belaka, karena sebenarnya semuanya sudah diselesaikan diluar pengadilan. Kesehatanku jauh lebih baik, bisa dikatakan pulih sepenuhnya
Akhirnya Valentina berjanji akan kembali ke Milan, aku merindukannya. Melihatnya sudah bisa bercerita dengan ceria sekarang membuatku merasa semua masalah selesai.
Dan ditambah oven panas di sampingku, aku tak tahu dia adalah orang yang romantis di balik sikap lugasnya yang cenderung acuh dan bicara seperlunya itu ternyata di orang-orang dekatnya dia adalah pribadi hangat.
“Vanilla sayang...” Dia menyempatkan makan malam di restoran jika dia tidak ada makan malam dengan rekanannya. Aku sudah terbiasa dengan ciuman panasnya. Dia punya cara aneh menciumku, dia mencium pipiku, lebih tepatnya daguku, katanya wangi vanillanya enak. Aku selalu merinding kegelian dan dia nampaknya suka reaksiku.
“Oven, geli, kau tak lihat aku sedang sibuk.” Dia meringis saat aku mendorong wajahnya menjauh saat dia menghampiriku di kantor kecilku. Dia tertawa senang melihatku terganggu.
“Vanilla, aku lapar. Ayo makan dulu.” Dia duduk meja disampingku menunggu. Aku melihatnya, dia tak suka makan sendiri.
“Aku harus menyelesaikan ini dulu sebentar, Papa ada didepan, kau bisa mengajaknya bukan, pesanlah yang kau mau dulu, dalam dua puluh menit aku bergabung.”
“Papamu tadi makan dengan temannya, mereka sedang bercerita tampaknya seru sekali. Aku jadi tak ingin menggangunya.”
“Ini pesanlah.” Aku mengangkat telepon, memberikan gagangnya, biarkan dia memesan sendiri ke staff dapur.
“Antar ke kantor oke, didepan tampaknya ramai.” Aku mengangguk, menyelesaikan lagi pekerjaanku. Biasanya mereka akan mengantar dulu makanan pembuka tak akan lama.
“Sayang, aku harus ke NY untuk bisnis awal minggu depan sampai akhir pekan, kau mau liburan ke NY, mungkin bertemu Valentina, aku juga ingin mengucapkan terima kasih untuk orang yang sudah membantu kita disana menyelesaikan kasus kemarin, sekaligus ada pembicaraan bisnis dengannya.”
“Ohh ke NY, minggu depan. “
“Sidang baru akan dimulai dua minggu lagi, awal minggu depan kau masih bebas.” Aku ingin menemui Valentina.
“Orang yang membantu kita? Maksudmu Ketua tim FBI yang kemarin?”
“Ohh bukan, ini Nathan yang menolong adikmu keluar sekaligus mengenalkan kita ke penghubung di FBI. Aku juga ingin bicara beberapa kerjasama dengannya. Aku belum pernah bertemu dengannya secara pribadi. Kau ada hal yang harus kau kerjakan minggu depan?”
“Sebenarnya tidak, aku sudah membayar pekerjaan yang harus kukerjakan minggu ini, baiklah kurasa aku bisa ikut denganmu.” Setelah berminggu-minggu ini mengejar pekerjaan dan mengkhawatirkan banyak hal, sekarang saatnya mengistirahatkan pikiran. “Baiklah, awal minggu depan? Aku akan ikut.” Dia tersenyum.
“Senang bisa membawamu beristirahat, dan ini adalah liburan pertama kita.” Aku meliriknya.
“Kemana biasanya kau membawa sugar babymu liburan.” Dia tertawa.
“Vanilla, kau mau membahas itu.”
“Aku hanya penasaran. Apa sugar babymu masih sering menelepon?” Aku meringis menjawabnya.
“Tidak. Sayang kemarilah.” Dia menarikku berdiri, membawaku kedekatnya, merangkul pinggangku, membuatku menatap matanya. “Vanilla, kita berdua punya masa lalu, tapi sekarang kita berdua, mungkin cara kita bertemu agak unik, tapi lupakan itu oke. Kau kekasihku bukan sugar babyku, aku memberikan semuanya untukmu. Aku mencintaimu, bukan membayarmu untuk sesuatu...” Nampaknya dia tak suka panggilan sugar daddynya.
“Aku hanya menyukai panggilanmu, jangan tersinggung. Bukan mengingatkanmu soal masa lalu... Lagipula aku tak pernah cemburu dengan masa lalumu.” Aku menangkup wajahnya. “Aku juga mencintaimu Oven...” Dan menciumnya, dia membalasku, berada dalam pelukannya selalu terasa menyenangkan dan menggoda.
“Malam ini tinggallah bersamaku. Aku merindukanmu...” Ciuman saja tak cukup sekarang.
“Papa mau ikut ke NY Papa?” Aku memberitahu Papa rencanaku untuk ke NY.
“Tidak, pergilah kalian. Nanti juga Valentina akan kembali. Papa membantumu melihat restoran saja. Kau sudah bekerja keras belakangan, mengkhawatirkan banyak hal, pergilah liburan. Bilang ke Valentina, jika dia bisa kembalilah ke Milan beberapa saat. Sebelum dia sibuk kuliah.”
“Iya Papa, dia juga bilang dia ingin kembali. Musim panas dia pasti akan kembali.”
Jadilah aku sekarang di awal minggu terbang ke NY, dalam 9 jam penerbangan. Penerbangan yang membosankan itu tidak terasa karena ada Oven disampingku. Lagipula kami mengambil kelas bisnis yang lebih lega. Gianni yang murah hati membayarkan penerbangan ini jika dihitung-hitung.
“Apa Gianni tidak menjadikanmu boneka voodo sekarang.” Bova meringis.
“Entahlah, dia cukup kooperatif, Armando tidak kesulitan bekerja dengan orangnya yang mengatur pengalihan dan pembayaran deal. Mungkin dia takut ke Antonio Segni, Tuan Antonio anti kompromi bertele-tele, dia dibentak oleh Tuan Antonio kemarin, jika Tuan Antonio tak mau menolongnya maka dia dan anaknya akan benar-benar berakhir di penjara, kakaknya sudah tak mau menolongnya, bisa dikatakan sebenarnya dia sudah kehabisan jalan. Kurasa menyerah lebih baik.”
“Hmm mungkin juga.”
“Sudahlah, ini liburanmu, jangan pikirkan Gianni, masalah itu sudah selesai.”
“Baiklah ini liburan kita.”
Kami tiba di JFK, temperature sudah menghangat, bagaimanapun ini sudah April permulaan musim semi. Tiba di NY jam 1 siang, dari keberangkatan kami jam 10 pagi, penerbangan 10 jam yang melelahkan. Perbedaan waktu ini akan membuatku binggung menyesuaikan sesaat.
“Finally NY.” Aku meregangkan tanganku keluar dari Bandara. Duduk di pesawat 10 jam itu memang sesuatu, harusnya kami mengambil penerbangan malam saja.
“Kakak!” Valentina melambai padaku. Dia berlari memelukku saat aku keluar.
“Kau terlihat lebih kurus, kenapa kau sekurus ini...”
“Kakak, makanan disini tak seperti di Milan, aku merindukan makanan restoran kadang.” Dia tertawa dalam pelukanku, adik tersayangku yang sekarang jauh di NY. “Tapi aku baik-baik saja, aku merindukanmu.” Mataku langsung memanas mendengar kata-katanya.
“Kalau begitu pulanglah ke Milan, tak ada yang akan menggangumu lagi, aku tak ingin kau bertambah kurus disini.”
“Tidak akan! Aku mau kuliah dan membuka restoran juga disini seperti kakak, cabang restoran kita di Milan.” Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Cita-cita yang harus kucari cara mewujudkannya. “Aku sudah punya banyak teman disini, jangan khawatirkan aku Kakak tersayang, tapi aku sangat senang kau disini.”
“Kakak ipar, terima kasih menjaga Kakakku, lihatlah betapa bahagianya dia sekarang.” Dia memeluk Fabri sesaat yang mengacak rambutnya.
“Asal kau bahagia, kakakmu bahagia, adik kecil.” Dia tak keberatan Valentina memanggilnya kakak ipar, entah kenapa kenyataan itu selalu membuatku tersenyum bahagia.
“Kakak ipar, kupinjam dulu dia dua hari ini oke, lusa jemputlah dia lagi, kuserahkan dia padamu.”
Ada orang Nathan ternyata yang ditugaskan menjemput kami dan membawa kami ke hotel. Kami akan bertemu mereka besok siang, sementara malam ini Fabri punya pertemuan dengan rekan bisnisnya. Aku punya banyak hal di bicarakan dengan Valentina sekarang, tak sabar untuk bercerita dengannya dan melihat apartment dimana dia tinggal.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=