
"Hmm... mungkin seperti kau bisa duduk disampingnya tanpa membuatmu merasa terganggu diantara wanita yang kau kenal. Kau tak terganggu dengan kehadirannya, walaupun dia duduk saja disampingmu sepanjang waktu, kau tidak merasa pembicaraannya menganggumu. Mungkin ada yang seperti itu, kau sudah mengenalnya lama, tapi kau tak menyadarinya karena kau sibuk dengan gadis-gadis cantik lain yang ada selalu ada di pangkuanmu." Aku sekarang tertegun.
Aku sudah mengenalnya lama, tapi aku tak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan gadis-gadis yang lain.
Hanya satu orang yang memenuhi kriteria itu. Benar-benar satu-satunya di hidupku.
"Tapi mungkin juga gadis seperti itu tak tertarik padamu juga, seharusnya kau melihat orang yang ada disekitarmu bukan pacar-pacar cantik sementaramu yang menginginkan sesuatu darimu. Jika kau menemukannya, cobalah tak menyentuhnya jika ingin mendekatinya, karena jika kau sebrengsek yang di katakan temanmu. Langkah pertama pun dia sudah akan menendangmu dari hadapannya."
Apa yang dikatakan Setsuko benar. Dia akan menendangku jika aku berani merayunya. Dia tahu semua rahasiaku, gadis-gadisku aku sering cerita padanya. Aku sudah dicap murahan olehnya! Terlalu murah! Dia akan segera meneriakkan Vanfanculo padaku begitu aku bicara macam-macam dengannya.
Untuk pertama kalinya kalinya aku sadar ini. Ada seorang yang aku nyaman bersamanya, aku tak masalah duduk berdua bersamanya sepanjang malam, tanpa bicarapun tak apa. Aku pernah melakukan itu disaat menemaninya putus cinta karena Raoul. Aneh karena dia satu-satunya yang bahkan tanpa dia mintapun aku akan membantunya. Aku baru sadar ada gadis yang seperti itu karena kata-kata Setsuko.
Setelah aku tak bisa menemukan siapapun. Da*mn!
"Mungkin aku harus mengucapkan terima kasih untukmu Nona Setsuko, kau benar selama ini mungkin aku terlalu sibuk dengan banyak hal." Aku harus berterima kasih padanya karena telah menyadarkanku.
"Nampaknya setelah ini akan ada seseorang yang benar-benar menetapkan hati setelah pengembaraannya sebagai Casanova berakhir." Nathan menyindirku sekarang.
"Aku jadi memikirkan seseorang karena perkataan Nona Setsuko, memang ada seseorang seperti itu tapi kau benar aku tak pernah menganggapnya ada. Tapi sialnya kurasa dia juga tak pernah menganggapku sebagai orang baik." Sekarang aku mengacak rambutku sendiri.
"Jadi perjalananmu masih panjang, setelah pulang mungkin kau perlu jadi pertapa sebentar. Jangan mencari gadis-gadis terus. Perbaiki reputasimu didepannya..." Mereka menertawakanku sekarang.
"Ceritakan soal dia..."
"Kenapa kau jadi memikirkan dia..."
"Hmm... dia biasa saja, maksudku dia tidak berwajah yang sangat cantik seperti kau bisa langsung merasa terpikat. Tapi aku bisa cerita banyak hal ketika bertemu dengannya. Dan kisah hidupnya agak rumit,... tapi aku selalu mengagumi kerja kerasnya dan dia wanita yang bersemangat. Aku baru sadar aku punya teman seperti yang Nona Setsuko katakan... "
"Kenapa kau merasa kalau dia orang yang tepat."
"Aku dan dia teman, aku tak pernah tertarik padanya. Tapi entah kenapa jika aku sedang tak enak hati aku bisa bicara padanya dan merasa lebih baik. Dan masakannya enak seperti masakan Ibu..."
"Akhirnya dia menyebutkan masakan Ibunya lagi." Nathan tertawa.
"Makanan enak, anggur yang memabukkan dan teman bicara. Bukankah itu sempurna...." Aku menjumputkan tangannya ke bibirku dan berkhayal sendiri.
"Dia nampaknya tercerahkan sekarang." Giliran Hisao mengomentariku. "Tampaknya sake membuatnya bisa berpikir lurus."Mereka menertawakanku.
Monica. Dia yang tak pernah kuhindari selama ini. Kami teman dekat, ternyata aku mencari terlalu jauh selama ini.
Yang kucari ada disampingku... Seseorang yang mengerti aku lebih dari yang lain.
Pertanyaannya, apa dia mau menerimaku.