The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 68. Switching 5



"Kau tahu aku suatu hari punya impian hidup tenang, punya perkebunan luas, tapi untuk melangkah pergi diremehkan seperti sekarang. Tidak. Callaway memerintahku seperti kami tidak punya hubungan apa-apa, menganggapku cuma bawahan yang bisa ditekannya, karena dia punya seorang wanita yang bersamanya dan mendapatkan posisi karena keluarganya. Aku yang bekerja di lapangan hanya dianggap pelengkap karena aku tak punya back-up, ... Kalah seperti itu rasanya tidak enak." Aku mengatakan alasanku dengan jelas. Aku tak akan mundur dan membiarkan dia menang dariku.


"Kau dendam padanya." Nathan menaikkan alisnya padaku.


"Aku dendam? Iya, mungkin, tapi aku lebih merasa diperlakukan tidak adil, kalah secara tidak adil. Merasa hanya dipakai sebagai sebuah alat. Jika aku punya kesempatan membuatnya bisa membuatnya menunduk padaku, maka aku akan mengambilnya tanpa ragu. Aku tidak akan lari dari pertarunganku. Itu jawabanku...."


Nathan menimbang jawabanku.


"Kau benar-benar bertekad?"


"Iya,..." Dia diam sesaat saja mendengar jawabanku. Tidak yakin apa yang akan dia lakukan, membantuku atau menolakku.


"Apa aku perlu ikut ke Jepang denganmu untuk membuatmu membantuku?" Nathan memandangku dengan aneh karena perkataanku. "Jika iya katakan saja. Aku akan membayar harga yang kau minta tanpa pertanyaan..." Aku mengatakannya dengan terus terang. Jika dia ingin bayaran, aku bersedia. Bukankah semua laki-laki sama saja. Mereka suka wanita memuja mereka. Dia berjalan ke arahku dan sekarang berdiri didekatku, aku bangkit dari dudukku.


"Jika kau masuk kau akan digunakan orang lain. Itu sama saja Kate." Dia menyelipkan tangannya ke saku celananya. Mengatakan kebenaran yang sudah kutahu.


"Bekerja untuk mendapatkan satu imbalan itu normal Nathan. Yang menyakitkan adalah, kau berkerja tapi hanya untuk dipandang sebelah mata seperti sekarang, kau menganggapnya teman tapi dia membuangmu seperti sekarang. Kau bekerja untuk mendapatkan sesuatu imbalan, aku bersedia membayar harganya."


"Kau bersedia membayar harganya..."


"Aku tak pergi ke Jepang hanya untuk menjadi kepala Auditor. Bukan itu pilihanku..." Dia menatapku dengan serius. Aku merangkulkan tanganku ke pinggangnya, menatap mata gelapnya. "Bagaimana jawabanmu Ñathan, bukan sekali aku memintamu membantuku?"


"Apa yang kutawarkan adalah tawaran yang mudah Kate. Mudah dijalani. Hidupmu tak akan terlalu complicated lagi. Jalan yang kau pilih mungkin menghasilkan malam-malam penuh kekhawatiran." Dia merapikan rambutku, membuatku merasa dia memperhatikanku.


"Aku tak ingin dianggap mudah. Jika aku memilih hidup dalam kemudahan, aku tak akan ada di FBI." Aku membalas perkataannya dengan yakin.


"Kau akan menyesalinya." Dia mengetuk keningku.


"Aku tak menyesali jalan yang kupilih sampai sekarang. Aku akan menyesal jika aku tak mencoba membalas, aku tak suka kalah dan keluar ring..." Aku bergelayut di tengkuknya sekarang. "Nathan bantu aku...?" Dia menghela napas mendengar permintaanku. Dia diam sebentar dan menatapku.


"Baiklah, dengarkan aku, karena kau tak punya modal uang, kau harus punya sesuatu untuk ditawarkan menghancurkan Callaway. Sebuah rahasia, sebuah skandal untuk menghancurkan citra dan peluangnya. Entah kau buat atau yang kau tahu...." Ternyata Nathan mensyaratkan aku harus punya kontribusi pada tim. Syarat aku diakui dan menjadi koalisi kelompok mereka.


"Kau harus menemukan wanita itu secepatnyanya. Kau punya keterangan lainnya?"


"Aku ingat dia mengatakan wanita itu bertemu dengan Ayahnya saat dia bekerja di sebuah bar terkenal di Manhattan. Aku bisa menemukannya, aku bahkan masih ingat nama bar nya..." Aku tersenyum lebar, kali ini keberuntungan ada di pihakku.


"Hmm... Temukan dia, tawarkan dia uang yang besar untuk bicara di tabloid. Sean akan membantumu untuk itu. Jasamu akan membuatmu bisa masuk ke lingkaran kami dan posisimu akan otomatis diangkat di biro."


"Baik. Aku akan menemukannya... Terima kasih." Aku masih melingkarkan tanganku di pinggangnya. "Tawaran makan malammu masih berlaku." Aku tersenyum padanya.


"Jika kau terlibat makan malam denganku dan terlihat orang lain itu akan sedikit berbahaya. Jika posisimu sudah cukup kuat, kau bisa makan malam dengan siapapun tanpa khawatir..."


Dia memikirkan sampai kesana. Nathan benar-benar membantuku.


"Nampaknya aku berhutang besar padamu. Kau benar-benar teman yang baik." Sekarang dia tertawa kecil mendengar perkataañku.


"Teman. Kau memang gadis yang tidak biasa."


"Sudah kubilang aku tak pernah memilih jalan mudah." Sekarang aku menciumnya untuk berterima kasih atas bantuannya. Dia membalas ciumanku. "Terima kasih Nathan, aku mungkin tak menerima tawaran kekasihmu, tapi aku akan selalu loyal pada temanku."


"Setelah malam ini kau tak boleh terlihat bersamaku dulu. Kau mengerti. Jika mau bertemu pun harus tersembunyi tidak bisa di LA..."


"Aku mengerti, mungkin kita bisa bertemu di Jepang..."


"Kate sayang, kau memang sangat pandai mengambil keuntungan dari pertemanan." Sekarang dia yang ganti menciumku, aroma tubuhnya yang kukenal terasa menggoda. Sapuan bibirnya di telingaku membuatku merindukan malam yang pernah kami lewati di Chicago.


"Aku hanya sudah belajar dari pengalaman Nathan, tidak akan terjatuh untuk kedua kalinya."


Mungkin ini teman, tapi aku hanya bisa mencapai level ini sekarang. Aku tak akan bermimpi terlalu tinggi, seperti katanya aku tak punya cukup uang.