
"Dan siapa kau?!" Aku bersembunyi di belakang punggungnya Bova.
"Mengancam wanita dengan kekuatan, laki-laki pengecut." Dia langsung menunjuk Raoul tanpa basa-basi.
"Apa urusanmu cuzzo!" Dia menunjuk dada untuk menantang. Tapi Bova tak memberi peringatan untuk membuat satu bogemnya langsung menghantam Raoul hingga tersungkur.
Aku terpekik dengan kejadian tiba-tiba itu. Tanpa peringatan tiba-tiba Raoul tersungkur dia tanah.
"Itu balasan atas kekurangajaranmu pada wanita."
"Kurang ajar!" Baru dia mau mendekat, sebuah pukulan cepat ke langsung masuk dan bersarang di perutnya, membuat tubuhnya terlipat ke depan. Fabian ini memang benar-benar tak menunggu untuk menghajar seseorang. Dan pukulannya tidak main-main. Aku hanya mendengar bunyi berdebam di cahaya temaram,seakan pukulannya itu terlalu cepatuntuk dilihat.
"Kau mau mencoba lagi, silakan maju? Kulihat apa aku bisa mematahkan rusukmu pada pukulan selanjutnya." Pertanyaan itu ditanyakan dengan suara pelan dan tangan siap melakukan apapun yang diperlukan. Aku hanya bisa terbelalak melihat Raoul tersungkur di tanah dan berusaha keras berdiri.
"Bangsat!" Raoul mencoba bangkit dengan terhuyung sekarang. Fabian tak menjawab apapun Tapi aku kenal Raoul, dia tak akan mau mengalah padamu.
Jika ini diteruskan aku takut seorang harus masuk rumah sakit.
"Fabian..." Aku akan mengatakan padanya tak usah memperpanjang ini lagi, aku bisa memanggil keamanan di depan.
"Tak apa, aku akan menyelesaikan apa yang kumulai. Mundurlah." Aku mundur, Fabian Bova sepertinya bukan seseorang yang bisa kau bantah.
Tiba-tiba dia seperti mengambil seseatu dari pinggangnya. Astaga!? Senjata? Tapi Fabian langsung dengan gerakan cepat merebutnya. Pengamannya belum dibuka untungnya. Gagang senjata itu mendarat di dagunya dengan telak.
"Figlio di puttana(son of bitch )*, kau benar-benar punya nyali, senjata heh, dari mana kau bastardo!?" Dia melepas magazinenya dan merangsek ke Raoul.
"Aku menyerah...Aku menyerah." Tapi sebuah bogem mentah bersarang mematahkan hidungnya sekarang. Astaga! Raoul babak belur dalam sekejab.
"Kau dengar aku Stronzo (As*sho*le), kau berani datang kesini lagi. Senjatamu ini akan menjadi caramu mati. Kau boleh mencoba, sampai dimana aku serius dengan kata-kataku." Sekarang Raoul yang diancam aku yang merinding. Bova ini benar-benar membuatku seperti menghadapi pembunuh darah dingin, tak ada kata-kata mengawalinya, langsung pukul dan patahkan sesuatu. Sangat efektif. Plus ancamannya seperti orang bicara biasa tak perlu dia meneriakkan kata-katanya.
"Baik-baik aku pergi." Dengan tersuruk-suruk pergi dari depan kami.
"Maaf, aku paling tak suka melihat pria menggunakan kekuatannya untuk melecehkan wanita." Dadaku sekarang berdebar melihatnya datang padaku. Itu terjadi begitu saja
"Terima kasih." Sekarang aku hanya bisa mengucapkan itu ke pembelaku yang tampan itu.
"Aku membuatmu takut?" Aku menggeleng.
"Tidak, hanya dia memang kurang ajar."
"Siapa dia?"
"Mantan suamiku yang ingin kembali."
"Ahh..." Dia tidak membuat komentar lain setelah itu. Entah apa yang ada dipikirannya, tapi dia tidak berusaha bertanya lagi.
"Kau ingin ke restoran? Kau belum makan?"
"Ahh iya, aku baru dari Palermo sebenarnya."
"Ayo kutemani..."
"Kau tak apa?"
"Tidak, bukan sekali dia datang. Itu hanya..." Aku berjalan kembali menuju restoran. Kali ini dia berjalan disampingku. "Kurasa dia tak akan berani lagi." Dia menghela napas sesaat.
"Berikan nama dan teleponnya padaku. Akan kupastikan dia tidak datang lagi. Kau tak perlu ragu jika kau perlu bantuan."
"Kau sudah mengancamnya, kurasa dia tidak akan berani."
"Aku tak bekerja setengah‐setengah. Akan kupastikan. Kirim kontaknya padaku sekarang."
"Fabian..."