
ku hanya auditor yang terlalu pintar, ampuni aku, kenapa kau mengurungku begini..." Dia bersiap menyelesaikan dirimya. Napasku tertahan saat satu kali lagi dia membuat gerakan pelan tapi dalam, tapi kemudian ternyata itu hanya permulaan.
"Aku mengampunimu, tapi kau harus mengera*ng seperti tadi..." Tanpa diminta pun aku tak bisa menahan suaraku. Dia menyelesaikan dirinya karena melihat tubuhku membuat gerakan tak terkendali sekali lagi. Mendekapku erat dan melepaskan dirinya diatasku. Itu begitu penuh perasaan, sekaligus mendominasi. Bagaimana Amanda tak meraung-raung kehilangan yang seperti ini. Kurasa dia menyesal sampai sekarang.
"Sayang, istirahatlah besok kita punya banyak waktu, kita disini 5 hari, kau punya banyak waktu melihat pertaniannya."
"Aku akan tidur cepat nanti malam, boleh aku berkeliling sampai waktu makan malam. Apa kau lelah. Aku bisa sendiri tak apa..."
Nathan tersenyum melihat aku yang antusias.
"Baiklah, kita berkeliling, aku akan menemanimu."
"Kau kekasih yang sangat baik hati." Pujianku membuatnya merangkul dan mencium pipiku. Aku baru tahu ternyata dia sangat hangat terhadap orang yang disayanginya, teman-teman yang mengetahuinya. Walaupun dia paling tenang diantara teman temannya, tapi dia adalah orang yang loyal kepada teman-temannya itu. Sangat berbeda dengan sikapnya dengan orang yang terlibat hanya dalam pekerjaan, dia tidak banyak menampakkan senyumnya.
Kami berjalan di perkebunan indah itu. Dia meminjam mobil elektrik yang bisa membawa kami lebih jauh, padahal aku tak keberatan jika berjalan kaki berjam-jam mengelilingi bukit-bukit hijau ini.
"Apa yang sekarang terjadi di New York, aku penasaran." Aku mencari pembicaraan ketika kami berjalan-jalan melihat pohon-pohon olive tua yang seperti datang dari masa lalu.
"Ohh tak usah dikatakan lagi, sedang ada kepanikan besar di kubu Callaway, wanita itu sudah penuh jadwalnya dengan wawancara dari berbagai majalah. Uang besar mengalir padanya, dia tak mungkin menolak perannya. Dan setelah ini dia dijanjikan pindah ke kota baru ...semua sudah diatur."
"Kalian sudah yakin menang tampaknya."
"Tentu saja, itu skandal besar untuk pria dengan citra sempurna dan konservative seperti Callaway. Pemilihnya tak akan mempercayainya lagi, dia akan di cap hypocrite oleh semua orang ..." Kejadian yang aneh, aku menggunakan kesalahan Tyson untuk membalas perlakuannya padaku.
"Aku akan segera kembali ke kantor utama di NY kemudian?"
"Setelah pertarungan walikota New York selesai akan ada orang yang membantumu keluar dari bawah Tyson, membantumu keluar dari kasusmu, karena sebenarnya tugasmu adalah memeriksa apa Garcia melakukan transaksi ilegal daan sudah terbukti tidak, tidak lama kau akan kembali ke kantor.... Jika kau ingin menjadi auditor di Garcia pun tak apa sudah kubilang, tapi aku tahu kau tak pernah memilih itu. Kau terlalu punya kebanggaan untuk membiarkan dirimu kalah."
"Bagaimana kita akan melakukannya, kepala divisi kami yang sekarang nampaknya satu kubu dengannya." Aku sebenarnya khawatir bagaimana mereka akan melakukannya.
"Tenang saja, setelah Ayah Tyson kalah, dia tak menarik lagi dibela. Akan lebih mudah mengalahkannya. Ada yang akan menarikmu ke kantor nanti. Atasan lamamu bisa di andalkan untuk menarikmu kembali nanti. Bukan Callaway saja yang punya orang di FBI... Dalam beberapa saat kau akan mendapatkan jalannya. Mereka tak akan melupakan jasamu. Kau sudah membuka jalan untuk dirimu sendiri." Nathan menenangkan kekhawatiranku. Aku tak sabar untuk bisa kembali ke kantor lama dan lolos dari bawah Tyson.
"Hmm....baiklah. Aku akan bersabar menunggu sampai pertarungan selesai."
"Saat kita kembali nanti ke NY nanti beri salam pada atasan lamamu dan minta dia menarikmu. Sisanya akan ada yang mengurus, aku akan mengaturnya, walaupun tidak serta merta bisa membuatmu sejajar dengan Tyson, orang yang berhutang padamu akan segera membuat pengaturannya."
"Ohh begitukah. Baiklah."
"Sekarang nikmati saja waktu liburanmu. Jangan bicarakan perkerjaan oke...."
Menikmati waktu liburanku di pertanian dan pulau indah ini. Bersama dengan boss Mafia Spanish ini.
●●●●
"Kau terlihat cantik,..." Aku tersenyum saat dia melihatku dalam gaun casual formal simple elegant berwarna peach itu.
Dia memelukku di depan cermin rias, memberikan ciuman kecil di pipiku. Dia bersikap sangat manis dalam liburan ini. Sementara dia terlihat tampan dengan casual jasnya, menggandeng lengannya selalu bisa membuat gadis lain iri pada keberuntunganmu.
"Aku ingat awal kita bertemu kau menberikanku pandangan meremehkan, tak peduli, dan kurasa kau menganggapku menyebalkan. Aku menangkap pandangan singkatmu itu. Sebelum kau cepat cepat memasang muka formalmu lagi." Dia menggodaku.
"Kau sudah lupa? Benarkah.Kukira belum. Itu baru setahun yang lalu."
"Kenapa kau tahu pandangan singkat itu, aku hanya terbiasa memvisualisasikan targetku sebagai musuh menyebalkan yang harus kukalahkan. Dan meremehkannya seberapapun tampannya dia sampai tak tersisa kebanggaannya dalam kepalaku. Karena itu aku tak takut dengan siapapun yang kuhadapi. Kecuali dia membawa pistol dan menodongkannya padaku." Aku tertawa.
"Begitu, tadinya kupikir kau tidak menyukai pria. Tapi melihat teman dekatmu Tyson itu pantas saja kau tidak terpesona padaku." Dia memainkan rambutku dan sekarang aku berbalik padanya.
"Kenapa kau membawa- bawa Tyson dalam pembicaraan ini, apa kau cemburu. Dasar terlalu sombong, semua gadis rupanya terpesona jika melihatmu bukan... baru aku yang menjadikanmu musuh disaat pertama bertemu." Aku mencoba mencubit perutnya tapi tak bisa karena tak ada lemak yang melekat disana, solid rata, hanya bisa dipakai sebagai 'landasan'. Pikiranku memang memuja apa yang kulihat, dan laki-laki ini membuatmu tak bisa berpikir lurus karena teringat apa yang dia lakukan untukmu dengan tubuhnya itu.
Dia tersenyum saja dan merangkul pingangku.
"Baiklah, yang penting sekarang kita adalah kekasih. Musuh adalah bagian dari masa lalu, tak usah diceritakan lagi jika begitu."
"Aku akan melihat Ayah di New York nanti." Aku merencanakan beberapa hal di New York.
"Ohh ya kau pernah cerita Ayahmu tinggal di New York. Dia masih bekerja?"
"Dia masih bekerja, di punya sebuah mini market 24 jam."
"Ohh ternyata dia pemilik sebuah usaha juga."
"Kau akrab dengannya."
"Hmm.. aku kebanyakan sudah bersekolah di asrama sejak high school, entahlah biasa saja kurasa, aku menyempatkan diri untuk bertemu keluargaku di Natal dan Thanksgiving. Jika kau bilang akrab kurasa biasa saja.Ya kami baik-baik saja.”
"Jika kau nanti kau kembali ke NY lebih seringlah melihatnya. Bagaimanapun dia Ayahmu."
"Iya aku tahu, aku akan mencoba. Tapi nampaknya masih perlu proses dulu bukan sebelum aku kembali ke LA. Aku sudah lama tak bertemu Louis, bagaimana kabar CEO kita di LA."
"Dia baik-baik saja. Sibuk karena sekarang tanggung jawab ada di pundaknya. Tapi nampaknya dia menikmatinya, Alan akan kehilangan assisten kepercayaaannya jika kau kembali ke LA."
"Aku akan menyiapkan orang yang kompeten untuk membantunya nanti. Tenang saja aku tak akan langsung meninggalkannya. Aku tahu diri bagiamanapun Tuan Alan baik padaku dan membuatku bisa mendekatimu." Aku meringis lebar dengan cerita spying yang belum selesai ini.
Kami berjalan bersama yang lain kemudian, pergi ke siang yang cerah itu ke sebuah gereja lokal untuk menghadiri pernikahan Monica dan Guilio.Pernikahan ini adalah pernikahan intimate yang mengundang keluarga dan teman-teman dekat mereka. Semua orang mengenal mereka dan berharap mereka bahagia selalu.
Semua orang berbahagia melihat Monica dan Guilio yang berada di altar pernikahan. Termasuk aku yang sekarang setelah melihat kebahagian mereka entah kenapa berharap aku dan Nathan satu saat juga akan berbahagia. Melihat mereka saling mengucapkan janji, mendengar pidato dan cerita Guilio yang mendapatkan pencerahan setelah bertemu Setsuko,yang mendapat kehormatan sebagai tamu paling istimewa bagi mereka membuatku merasa entah bagaimana kebahagiaanku kali ini begitu berarti.
Makan malam indah di Restoran Monica yang dihias begitu indah hari ini, semua orang tertawa, semua orang berbahagia.
“Ikutlah acara lempar bunga sana, kau satu-satunya single disini.” Franda mendorongku pergi dari meja.
“Ehmm...tidak itu acara mengerikan aku takut kakiku terinjak oleh gadis-gadis bar-bar yang berebut bunga pengantin.” Aku langsung menggelengkan kepala saat disuruh ikut acara lempar bunga.
“Kau harus ikut.” Nathan yang entah kenapa menyuruhku.
“Ikutlah, supaya lancar semua urusan malam ini.” Setsuko membuat mukaku panas dan semua orang di meja itu tertawa. Dia tak tanggung-tanggung menarikku dari tempatku duduk kemudian. Aku terpaksa harus bangkit dari sana.
“Semuanya siap, ...” Aku mengambil barisan paling belakang, tak mau aku terinjak heels lancip gadis-gadis di bagian depan barisan yang sudah menyiapkan cakar mereka. “1..2..3!” Aku tak tahu kemana bunganya melayang. Aku hanya melihat gadis-gadis itu berteriak ke arahku dan tiba-tiba bunganya ada dipelukanku. Semua gadis di bagian depan berteriak kecewa karena itu jatuh padaku. Apa ini! Aku hanya terbelalak melihat mawar merah terang itu di lenganku. Dan dari ujung sana gadis-gadis dan teman-teman Guilio langsung berteriak saat aku mendapatkannya.
“Bro, selamat! Tak akan lama lagi,...” Aku tak percaya melihat muka Nathan yang tersenyum bahagia yang diberi ucapan selamat begitu oleh teman-temannya.
Buket bunga yang kudapatkan ini. Benarkah dia begitu bahagia aku mendapatkan ini. Entah kenapa aku terharu sekarang.