
POV Bova
"Tuan! Nona... Nona..." Aku baru keluar dari bandara dan sedang dalam perjalanan ke rumah ke tika Juan meneleponku dengan terbata-bata.
"Eliza kenapa?! Bicara yang jelas!" Aku langsung tegak dari dudukku saat dia terbata-bata. Apa yang terjadi?! Juan tidak akan berlaku seperti ini kecuali ada hal darurat.
"Nona tertembak di dada! Sekarang sedang menjalani operasi darurat." Tertembak di dada?! Bagaimana bisa? Apa yang bisa menyebabkan dia tertembak didada!? Siapa yang menembaknya?!
"Bagaimana kalian menjaganya!? Dirumah sakit mana?!" Aku sudah berteriak dengan panik.
"Lombard Hospital Isola Tuan." Juan menyebutkan rumah sakitnya.
"Aku segera kesana! Tunggu disana!"
"Russo ke rumah sakit Lombard Isola secepatnya..." dan aku memberitahu sopirku memacu mobil ke sana. Cuma berjarak 10 menit kesana.
Aku kembali menelepon Juan.
"Bagaimana keadaan terakhirnya?!"
"Kamu berhasil mencapai rumah sakit secepatnya Tuan, saat dia masuk ruang operasi Nona masih sadar. Tertembak di kanan atas dadanya, kami tak bisa mengakses informasi sekarang. Nona sedang di ruang operasi."
"Siapa yang melakukannya?! Bagaimana itu bisa terjadi?!"
"Orang suruhan, dalam dua hari ini ada beberapa orang mendatangi restoran Nona, saat makan siang di restoran utama dan saat makan malam di restoran yang kedua di Isola, saat itu Nona menghadapinya dan memarahinya sendiri, kami membawa orang itu ke luar restoran untuk menghajarnya karena dia menampar Nona setelah dicaci maki Nona, dan saat kami berkelahi tiba-tiba dia mengeluarkan pistol, saya mencoba merebutnya dan kemudian itu meletus mengenai Nona yang sedang berada di pintu keluar restoran. Jose menelepon katanya itu orang Fernandez Sica, orangnya sudah ditahan polisi! Luca sudah disana dan mengurus semuanya. Nona sudah sejam masuk ruang operasi..."
"Bangsat Gianni itu memang harus dihukum seumur hidup di penjara. Bilang pada Luca bawa Fernandez padaku! Malam ini juga!" Berani sekali dia menyuruh orangnya membawa senjata.
"Mengerti Tuan."
Bangsat! Dia berani mengirim orang bersenjata ke restoran. Jika dia tidak bersaksi memberatkan Gianni. Akan kuhabisi bisnis dan group Fernadez Sica ini sampai ke akar-akarnya.
Aku menyuruh sopirku mempercepat mobil. Tak ada ampun lagi, aku akan menyeretnya ke pasal pembunuhan berencana. Aku menelepon Armando.
"Tuan Armando,..."
"Ya Tuan Bova."
"Eliza tertembak oleh orang suruhan Gianni..."
"Tertembak?!" Tuan Armando ternyata belum tahu. "Lalu bagaimana kondisi Nona?!"
"Sedang menjalani operasi darurat di Lombard Hospital di Isola, kita bertemu di Lombard, dia dibawa kesana oleh Juan. Aku sebentar lagi sampai kesana."
"Segera Tuan."
Mobil terasa berjalan lama sekali padahal kami tidak begitu jauh. Aku langsung berlari masuk lobby. Melihat Juan yang sedang menungguku.
"Tuan..."
"Bagaimana kalian bisa seteledor ini!" Aku emosi, tak menyangka Eliza bisa tertembak, Juan nampak merasa bersalah padaku. Aku tak menyangka kecelakaan seperti ini bisa terjadi. Ini memang bukan murni kesalahannya.
"Belum ada berita?"
"Belum Tuan. Kita ke ruang tunggu operasi."
"Di mana tepatnya dia tertembak?" Jika dia masih sadar saat masuk ke UGD harusnya itu pertanda baik.
"Di kanan atas, tapi peluru masih bersarang di tubuhnya." Kanan atas, semoga tidak menyebabkan kerusakan organ vital. Untunglah tidak di kiri yang mengancam jantung, tapi proyektil pelurunya bisa kemana saja.
Aku berdoa sepenuh hati agar dia baik-baik saja. Aku tak bisa kehilangan Eliza, bertahun-tahun akhirnya aku bisa menemukan seseorang. Ayahnya akan sangat khawatir dengan putrinya padahal aku sudah berjanji menjaganya.
Fernandez dan Gianni, aku berjanji kau akan membayar mahal untuk ini.
\=\=\=\=\=□●●□\=\=\=\=\=
Di tempat lain...
"Dimana Fernandez! Suruh dia keluar!" Luca Zigaretti berkacak pinggang di pintu sebuah bar di Milan dengan lima orang anak buahnya. Orang yang mengenalnya dengan cepat menghampirinya.
"Tuan Luca? Kenapa Anda marah-marah? Apa kami punya salah dengan Anda."
"Kau tak punya masalah denganku?! Orangmu membuat kekasih bossku tertembak! Jika tidak sabar sudah kuhabisi kalian sekarang!" Luca memang begitu dia mengancam duluan baru berdamai.
"Siapa maksud Anda?!" Luca sekarang tidak sabar. Dia mencengkram kerah orang itu.
"Bawa aku ke bossmu stronzzo, jangan banyak tanya atau kau akan kujadikan samsak sekarang, memangnya kau bersedia dijadikan sasaran tembak, jika kau kau akan kubawa kau sekarang!"
"Tuan saya melapor dulu, boleh duduk disini dulu. Saya akan siapkan minuman untuk Tuan." Perkataan basa-basi cecunguk ini langsung membuat Luca naik pitam lagi.
"Aku tak perlu minuman stronzzo! Dalam lima menit Fernandez tidak datang ke depanku akan ku obrak-abrik tempat ini!"
"Baik Tuan, baik. Dalam lima menit!" Orang itu langsung berlari memberi tahu bossnya yang berada di ruangan lain.
"Boss! Luca Zigaretti datang bersama anak buahnya. Dia bilang kita sudah menembak kekasih bossnya. Boss harus bertemu dengannya sekarang atau dia akan meratakan tempat ini!" Anak buah Fernandez yang ketakutan setelah diancam oleh Luca itu langsung bicara cepat memberitahu bossnya apa yang terjadi.
"Siapa yang menembak kekasih bossnya, dia gila?! Mana kutahu siapa bossnya. Hari ini cuma group nya Nando yang membuat kekacauan di sebuah restoran!"
Sial! Sebuah restoran, yang dia tahu restoran itu dimiliki seorang wanita yang bermasalah dengan Gianni. Astaga! Ditembak?! Bagaimana mungkin? Apa Nando membawa senjata? Pikirannya langsung berpikir jauh. Tapi Nando tidak diperintahkan menembak hanya membuat kekacauan! Sial!
Bagaimana dia bisa jadi berurusan dengan Luca Zigaretti!? Luca gila itu tak akan segan-segan jika dia ingin membuat kekacauan!
"Madonna!( Oh Mother!) Kenapa bisa Luca yang muncul disini." Dia cepat-cepat ke ruangan dimana Luca berada.
Baru masuk pintu ruangan Luca sudah berdiri mendatanginya! Kali ini dia percaya gangster paling ditakuti di Milan ini akan memberinya bogem mentah. Dan benar saja, satu bogem mentah melayang dengan cepat. Lebih baik menerimanya daripada melawannya, mungkin setelah menerima kemarahannya dia masih bisa bertahan hidup.
"Bastardo, kau berani sekali menembak wanita heh! Kau benar-benar ingin mati malam ini! Sudah tak sayang lagi dengan nyawamu cuzzo!" Bogem kedua melayang. Fernandez mengangkat tangannya meminta ampun.
"Tuan aku benar-benar tak tahu! Aku hanya disuruh menganggu sebuah restoran. Aku benar-benar tak tahu mereka membawa senjata... Aku tak memerintahkan dia menembak siapapun. Ampuni nyawaku Tuan Luca, aku masih punya anak dan istri."
Sekarang dia berlutut kaki Luca. Sementara sebenarnya Luca tahu itu murni kecelakaan, tapi tetap saja kekasih bossnya itu sekarang tertembak. Seseorang harus membayar ini.
"Ohh kau tak tahu?! Omong kosong apa ini? Yang menerima uang kau tapi kau tak tahu pekerjaan anak buahmu. Kalau begitu mati saja kau! Buat apa kau jadi boss!"
"Tuan tolong ampuni nyawaku. Akan kulakukan apapun permintaanmu, aku benar-benar hanya disuruh untuk membuat keributan tak disuruh menembak siapapun. Benar-benar tak tahu kalau ada seseorang bisa tertembak."
"Kau ikut aku menghadap Boss! Terserah dia apa dia akan mengampuni nyawamu atau tidak!"
Fernandez tak tahu wanita itu dilindungi Luca, jika dia tahu dia tidak akan menerima pekerjaan ini. Anak buah bodohnya itu, kenapa senjatanya bisa meletus tanpa di perintahkan.
"Tuan Luca. Siapa Bossmu?"
"Tak usah banyak tanya!" Luca membentak Fernandez. "Yang pasti kau dalam kesulitan besar sekarang, kusarankan kau menuruti permintaannya. Atau aku akan membuatmu menyesal! Masuk mobil!"
Mereka sampai di rumah sakit kemudian.
"Tuan Luca? Kita kerumah sakit?"
"Tentu saja bodoh! Kekasih bossku tertèmbak di dadanya karena orangmu. Berdoa saja dia tak membunuhmu jika sampai kekasihnya meninggal atau cacat!" Fernandez tak pernah berpikir akhir hari ini nyawanya bisa diujung tanduk. "Tunggu disini! Jika kau coba kabur kubunuh kau sekalian."
"Tuan, Fernandez sudah sampai."
"Cari tempat aman untuk bicara. Tunggu disana, aku menunggu kabar dari dokter." Operasi sudah berjalan hampir tiga jam, tapi belum ada kabar dari ruang operasi. Semua orang menunggu dalam ketidakpastian.
Pintu terbuka dokter keluar.
"Keluarga Nona Eliza Canalis?" Semua orang Bova, Tuan Armando, Juan, plus Chef kepala restoran kedua yang merasa ikut bertanggung jawab ikut berdiri.
"Iya Dok, saya kekasihnya. Ayahnya sedang di Catania."
"Untungnya peluru berbelok kearah menguntungkan. Tidak ada organ vital terdampak. Paru-parunya sedikit cedera, mungkin perlu bed rest dalam 2-3 minggu kedepan, tapi dia akan baik-baik saja nanti." Bova menghela napas lega. "Dia masih dalam observasi dalam beberapa jam kedepan. Anda belum bisa menemuinya."
"Terima kasih dok. Terima kasih." Dokter itu tersenyum dan berlalu.
"Akhirnya kita menerima berita baik." Bova terduduk dan menghela napas lega.
"Nona Eliza akan baik-baik saja Tuan Bova." Tuan Armando ikut lega mendengar berita itu.
"Iya dia akan baik-baik saja." Bova masih bersyukur kekasihnya itu bisa melewati ini. Entah apa yang terjadi, dia saja belum pernah tertembak di daerah dada. Nampaknya pertaruhan ini menjadi terlalu berbahaya. Tapi tetap karena telah terjadi seseorang akan membayar mahal.
"Luca, kau sudah menemukan tempatnya? Fernandez masih bersamamu?" Sekarang dia akan mulai mengurus cecunguk yang membuat masalah ini.
"Sudah Tuan. Saya akan kesana memandu Tuan. Dalam lima menit."
"Tuan Armando, ayo kita urus Fernandez dulu."
"Baik Tuan."
Sekarang waktunya merencanakan pembalasan.
😎😎😎😎😎
bersambung besok pembalasannya 😁😁😁