The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 60. Just Hold My Hand 4



"Setsuko-san, ayo makan. Kau sudah makan?" Nanao-san menyapaku ketika aku sampai.


"Aku baru makan bento-ku Nanao, kau memasak?"


"Tuan bilang Setsuko-san mungkin akan kesini, jadi saya menyiapkan makanan. Saya harus melapor ke Tuan jika Nona sudah tiba."


"Ohh, kau disuruh melapor."


"Iya." Nanao sibuk dengan ponselnya kemudian.


Tak lama untuk mendapatkan pesan darinya.


'Aku akan menjemputmu makan malam jam 7.' Dia tidak marah lagi? Sekarang dia menyempatkan mengajakku makan malam?


Mungkin yang dikatakan Mio adalah kebenaran?


Entahlah. Aku bersiap dengan busana rapi setelahnya. Menunggunya menjemput untuk makan malam. Apakah begini rasanya menunggu pacarmu menjemput.


Hampir jam 7 ketika aku mendengar suara mobil berhenti, dan aku menuju keluar. Rupanya kali ini dia membawa mobil sendiri, semua pengawal di mobil yang lain.


"Hisao-san, ..." Aku menyapanya pendek. Aku tegang sebenarnya. Tak tahu bagaimana menghadapinya, bicara berdua saja dengannya. Ini berbeda rasanya jika menghadapi tamu.


"Senang melihatmu lagi." Kali ini nampaknya dia memutuskan tidak bersikap ketus nampaknya.


"Perjalananmu baik?"


"Iya, biasa saja aku tiba jam 2 siang." Diam lagi. Aku tiba-tiba binggung mencari pembicaraan. Semua bahan di otakku hilang.


"Aku minta maaf jika aku menyinggungmu." Mungkin aku lebih baik minta maaf saja.


"Kau tak perlu takut menyinggungku. Katakan saja apa pikiranmu. Itu lebih baik..." Diam lagi. "Kau tak apa tinggal dirumah, aku hanya emosi kemarin menyuruhmu tinggal dirumahku. Jika kau tak ingin kau boleh kembali ke apartmentmu. Nanti aku akan mengantarmu..."


Aku binggung sekarang. Apa aku harus ke apartmentku saja atau tetap dirumahnya. Tapi jika aku pergi sekarang, kelihatannya tak sopan juga. Dia sudah berusaha memperbaiki keadaan, setidaknya aku menghargai usahanya sedikit.


"Tak apa..."


"Benarkah? Sudah kubilang kau tak usah takut aku tersinggung."


"Hmm... Baiklah."


"Hisao-san. Kenapa kau datang Senin malam itu." Sekarang dia tertawa kecil karena pertanyaanku.


"Entahlah, aku juga tak tahu kenapa aku bisa sampai disana." Jawabannya membuat wajahku memanas. Aku entah kenapa senang, mungkin yang dikatakan Mio benar. Padahal kemarin aku mau melemparnya dengan cangkir teh. "Aku membuatmu kesal dengan kedatanganku?"


"Iya aku mau melemparmu dengan cangkir teh." Dia melihatku dan kemudian tertawa sepuasnya. Dia tidak marah? Aku meringis melihatnya tertawa begitu lepas.


"Lalu kenapa tak kau lakukan. Dasar muka topeng. Mau marah ya sihlakan marah. Berapa kali kukatakan padamu..."


Aku memainkan jariku sendiri. Entah kenapa sekarang aku mungkin lebih bisa menerima perkataan Mio. Apa dia benar merindukanku dan merasa patah hati.


"Kenapa kau tak marah aku berkata begitu."


"Apa kau tak bisa menjawab sebabnya sendiri." Dia tak akan marah karena dia menyukaiku. Jika ini Aoki dia akan menempel padanya dan merayunya balik. Tapi aku bukan Aoki, aku hanya tahu berterima kasih dan tersenyum manis.


Mio memang benar. Aku menyedihkan, tak punya pengalaman apapun.


"Terima kasih."


"Kau berterima kasih untuk apa." Dia meringis kecil melihatku sekarang.


"Untukmu tidak tersinggung..." Sekarang dia menghela napas panjang mendengar jawabanku.


"Kau memang sangat mengerti etika. Kau tak tahu cara mengatakan terima kasih yang lain." Dia tertawa lagi sekarang. Aku diam saja. Aku tahu, hanya aku bukan orang yang bisa melakukannya. Itu tidak sopan, terlalu berani dan tak berani kulakukan. Karena itu aku hanya membalasnya dengan terima kasih, hanya jantungku sekarang berdetak tak keruan.


"Aku minta maaf, aku memang terlalu ..."


"Astaga, apa lagi yang harus kumaafkan." Dia memotong ucapanku dan mengaruk kepalanya sekarang.


Aku lebih baik diam saja sekarang. Semua ucapanku nampaknya salah dan tidak pas.


\=\=\=\=\=\= bersambung besok