
Langit biru Tenerife menyambut kedatangan kami, untunglah cerah. Bulan-bulan ini adalah musim penghujan, tapi berganti cuaca dari udara pegunungan ke udara pantai cukup membuat siapapun tersenyum. Canary Island ini sebenarnya lebih dekat ke Marocco dibanding Spanyol, tapi wilayah ini adalah wilayah Spanyol.
Pulau yang disebut sebagai pulau yang sering diserang bajak laut, saking seringnya penduduknya punya desa tempat mereka bersembunyi di kedalaman pulau untuk mengungsi jika bajak laut datang. Ini dikarenakan pulau ini adalah pulau pemberhentian terakhir para pelaut dari Spanyol dan Ingris untuk menyeberangi Atlantik ke benua Amerika. Mereka membuat markas disini dan pulau ini menjadi hidup dan bisa dikatakan kaya, plus sering dipakai untuk menyembunyikan emas.
Maka dari itu tidak heran armada bajak laut sering menyerang pulau ini untuk merebut emas yang dibawa kapal-kapal dari benua Amerika.
“Langit biru dan pantai, ini sangat menyenangkan.” Ibu langsung tersenyum saat kami memcapai hotel kami dan matahari masih bersinar dan laut Atlantic yang biru masih seperti permata azure yang biru mempesona.
“Tentu saja Mamma,...”
“Guilio tetap tak mau dibayar?”
“Tidak.”
“Monica, bersikap baiklah padanya. Mungkin dia memang baik padamu, Ibu rasa dihatinya dia menganggapmu lebih dari teman.”
“Kau tahu reputasinya Mamma, apa yang kuharapkan.” Aku tahu maksud perkataan Mamma tapi apakah mungkin seorang Guilio yang tak pernah melihatku itu sekarang entah bagaimana jadi berbalik padaku. Casanova yang bisa mendapatkan gadis tercantik yang dia inginkan hanya dengan menatapnya.
“Manusia bisa berubah Monica, ...mungkin dia lelah dengan permainannya sendiri, ada saatnya dia ingin sebuah kehidupan yang tenang.” Aku tersenyum mendengar Ibu, entahlah apa yang terjadi padanya. Sejak dia mengajakku dansa kemarin, hadiahnya yang terlalu mahal itu, aku tahu aku berubah di pandangannya. Kenapa dia berubah, kenapa dia melihatku, itu perlu dijelaskan. Selama ini aku cukup menikmati menjadi temannya, dan tidak ingin merusak apapun.
“Entahlah Mamma, kita lihat saja nanti.” Aku tak akan tidur dengannya disini. Dia harus tahu itu, aku bukan gadisnya yang sedang menemaninya liburan.
“Belum lapar?” Dia suka sekali memastikan aku tak kelaparan rupanya.
“Belum, nanti saja, sepertinya restoran laut di hotel ini sangat menggiurkan. Tunggu lebih malam, makan terlalu pagi merusak ***** makan...” Aku ingin berjalan menyusuri garis pantai saja, tak memikirkan apa-apa hanya berjalan begitu saja.
“Tempat yang kupilih bagus bukan, ...”
“Bagus, terimakasih untuk liburannya Gulio.” Dia hanya tersenyum dan ikut berjalan bersamaku menyusuri garis pantai. Aku mengambil keputusan tak akan bertanya apapun kenapa dia mengajakku kesini, tidak akan memancingnya, aku hanya ingin tetap berada di status teman ini lebih lama lagi. Tanpa memikirkan yang akan terjadi didepan.
“Kau pernah kesini?”
“Pernah, tapi bukan di hotel ini. Sudah lama, sebelum aku menikah ...”
“Nanti hari ketiga kita akan pindah ke hotel lain di pulau satunya, La Palmas, pantainya lebih bagus.”
“Oke, nampaknya akan menyenangkan.” Dia menemaniku berjalan menyusuri pantai, gadis-gadis melihat padanya, aku sudah biasa dengan pemandangan ini. Tidak terganggu sama sekali.
Pikiranku melayang saat kami pertama kali bertemu bertahun-tahun yang lalu saat high school. Saat pertama masuk kelas hanya ada beberapa yang kukenal, karena aku pindah ke sekolah yang lebih besar, tadinya aku hanya bersekolah di sekolah lokal di Linguaglossa, Mamma memindahkanku ke sekolah yang lebih jauh dengan faselitas dan grade yang lebih baik. Saat masuk aku melihat sekelompok gadis berkerumun di kelas kami. Tentu saja kau tahu siapa itu Guilio,...