The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 37. I love You



Bova berjalan ke sebuah sudut lapangan parkir, jam 11 malam, tak seorang manusia pun terlihat disana. Sudut gelap itu sudah diamankan. Tak ada CCTV tak ada orang lain yang akan melihat apa yang terjadi disana.


"Apa yang dia katakan sebelumnya, apa dia tahu orangnya membawa senjata?" Bova bertanya pada Luca.


"Tidak, dia tidak tahu. Katanya dia hanya menyuruh membuat keributan. Dia tak tahu anak buahnya membawa senjata. Tapi tadi sudah kuhajar dia Tuan. Dia tidak akan berani melawan."


Bova sampai ke sebuah dua mobil yang berada disana dimana anak buah Luca masih berjaga dengan Fernandez sudah menunggu sejam disana.


"Keluarkan dia!" Fernandez dikeluarkan dari mobil. Bova menatapnya dengan marah. Wajahnya terlihat bengkak memerah bekas dihajar oleh Luca.


"Kau!" Satu lagi bogem menemui sasarannya karena Bova perlu melampiaskan emosinya yang dari tadi sudah dipendamnya.


"Tuan maafkan saya, saya tidak bermaksud membuat kekasih ada terluka."


"Terluka?! Dia hampir tewas karena orangmu bangsat!" Satu lagi pukulan menghajar ulu hatinya. Membuatnya terbatuk dan membungkukkan badan tak berdaya.


"Saya benar-benar tak memerintahkan begitu Tuan! Ampuni saya, saya benar-benar tak tahu Nona dibawah perlindungan Tuan dan Tuan Luca." Dia tak tahu siapa yang dia hadapi ini. Tapi kalau Luca saja berkata itu adalah bosnya maka kekuatannya tak diragukan lagi.


"Tak usah kau katakan lagi. Sekarang kau harus buat anak buahmu mengakui siapa yang memerintahkanmu di kantor polisi. Aku ingin menyeret Gianni, kau mengerti? Jika pengacara ini bilang kau tak mau kerjasama kau akan lihat apa yang bisa kulakukan dengan keluargamu."


"Saya mengerti."


"Luca!"


"Ya Tuan."


"Mulai besok sebarkan berita! Siapa lagi yang berani macam-macam membantu Gianni melakukan intimidasi akan menerima akibatnya. Dan kau sampai semua hal ini berakhir kau dibawah perintah Luca. Kau mengerti?!"


"Saya mengerti... Saya mengerti Tuan. Saya tidak akan melawan perintah Tuan."


"Luca, siapa yang mengacau di restoran pertama."


"Anak buah Morales Tuan."


"Siapa Morales?"


"Orang selatan Tuan. Ada beberapa kelompok orang selatan beroperasi di Milan. Gianni punya hubungan cukup baik dengan orang selatan disini."


"Kalau begitu aku perlu meminta dukungan orang selatan juga. Gianni tak akan menyerah terlalu mudah nampaknya."


"Kau mungkin benar Tuan, Gianni bukanlah orang yang akan menyerah dengan intimidasi dengan cepat. Mereka punya banyak uang."


"Kita lihat saja apa uangnya berguna kali ini. Kita datangi Morales sekarang. Luca, bawa Juan dan yang lainnya juga. Dan kau, jangan lupa, besok kau berurusan dengan Tuam Armando, jangan macam-macam."


"Saya mengerti Tuan."


"Seperti rencana kita Armando, mereka harus membayar penyerangan ini dengan mahal."


"Mengerti Tuan."


"Ayo pergi Luca." Dengan masih memakai baju kerjanya Bova pergi membawa orangnya ke Morales. Dua orang anak buahnya sudah dihajar tadi siang. Sekarang dia akan memastikan semua kelompok tidak ada yang berani membantu Gianni lagi di Milan atau mereka akan membayar dengan mahal harga keberanian mereka.


Dia menelepon Guilio Berutti kali ini, karena dia tahu Berutti ditakuti dan bisa menguasai beberapa geng besae Selatan. Sekali dia membawa nama Guilio tak akan ada orang selatan yang berani.


"Guilio, Bro, maaf menggangumu semalam ini."


"Bova? Ada apa? Tak biasanya kau menelepon malam."


"Kau tahu aku sedang bermasalah dengan Gianni. Dia menembak kekasihku yang sedang kulindungi. Aku ingin meminta izin meminjam namamu untuk menghentikan beberapa geng yang isinya orang-orang Sicily."


"Menembak?! Dia sedang terjerat masalah loan sharking dan meminta orang menembak kekasihmu? Bagaimana keadaannya?" Bova menjelaskan yang terjadi.


"Tentu, kau boleh menyebutkan namaku. Aku akan memberitahu beberapa orang di Milan besok. Gianni bukan orang yang mudah dihadapi. Kau sebaiknya berhati-hati."


"Tentu, terima kasih Guilio." Memperoleh dukungan lebih banyak akan menguntungkan melawan keluarga Gianni ini. Dia akan membuatnya tak bisa bergerak memakai tangan ke-3 selain menghadapi tuntutannya di pengadilan.


Mereka sampai di tempat Gonzales tengah malam. Luca yang terlihat mukanya oleh mereka langsung disambut.


"Tuan Luca? Kenapa kau kemari." Tadi siang Luca sudah mengancamnya. Sekarang dia datang untuk memberi peringatan sejelas-jelasnya kepada geng orang selatan ini.


"Dimana boss-mu. Aku ingin bicara padanya, sekarang juga."


"Tuan Luca, Anda disini. Apa yang membawa Anda kesini." Bova yang memberi tanda untuk Luca bicara.


"Orangmu membuat masalah di tempatku tadi siang kau sudah tahu..."


"Saya tidak akan berani lagi menggangu Nona itu. Saya berjanji, tidak akan terlibat lagi pada Anda."


"Kalau begitu sampaikan ini pada semua temanmu. Jika ada yang berani menggangu Nonaku, akan berhadapan dengan keluarga Bova dan Berutti."


"Keluarga Bova dan Berutti?! Jadi Tuan ini..." Dilindungi nama besar Bova dan Berutti siapa yang akan berani.


"Ini bossku Fabricio Bova, dan Nona yang kau ganggu itu adalah kekasihnya."


"Saya mengerti, saya tidak akan mencoba menganggu Nona. Saya minta maaf Tuan."


"Jika sudah diberi peringatan tapi kalian tetap mencoba, jangan salahkan aku bersikap kejam pada siapapun yang berani mencoba. Aku tak akan memberi kalian ampun."


"Saya mengerti Tuan. Kami tak akan berani..."


"Bagus! Peringatkan semua temanmu juga besok."


Setelah tengah malam urusan mereka selesai. Dan Luca akan menjalankan tugasnya memperingatkan yang lain besok...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


POV Eliza.


Yang pertama kulihat adalah langit-langit putih. Aku masih hidup setidaknya. Lalu infus di tanganku, dadaku yang terasa aneh ada selang di dadaku, jam yang menunjukkan jam 6 pagi. Dan Bova yang tidur di sofa.


"Vanilla, kau sudah bangun." Entah bagaimana dia juga bisa terbangun.


"Kau disini."


"Tentu saja aku disini. Aku tak mungkin meninggalkan mu sendiri..."


"Apa yang terjadi?"


"Kau akan baik-baik saja. Cuma sedikit tertembak diatas. Tidak ada yang serius..." Dia menggengam tanganku, dan merapikan rambutku. "Apa ada yang terasa sakit?" Aku cuma menggeleng, mungkin belum karena ada efek obat.


"Terima kasih sudah menjagaku semalaman."


"Aku hanya bersyukur kau baik-baik saja. Setelah ini tak akan ada yang berani membantu Gianni lagi. Aku sudah mengancam seluruh geng di Milan. Jika mereka berani mencoba, akan kumusnahkan mereka."


"Aku punya kekasih hebat. Jangan terlalu panas, nanti terbakar, Oven." Dia melihatku dan jarinya menyentuh hidungku.


"Aku tidak hebat, aku harusnya melakukannya lebih awal, sekarang kau terluka."


"Aku hanya sedang bernasib sangat jelek."


Dia menghela napas.


"Aku akan dimarahi Ayahmu."


"Bicara soal Ayah, dia kembali hari ini."


"Benarkah?"


"Iya, dia marah-marah karena aku tak mengikut sertakannya dalam perang." Aku meringis.


Pembicaraan ini nampaknya pembicaraan tak berarti tapi yang sebenarnya adalah ini adalah pembicaraan penuh rasa syukur karena bisa melihat satu sama lain kembali.


"Kupikir aku tak akan melihatmu lagi..." Aku tersenyum padanya. Bisa menyentuh wajahnya lagi rasanya sebuah keajaiban sekarang. Banyak hal yang terlintas di menit-menit aku tertembak, ketakutan, penyesalan, dan kenangan cinta. Bahwa aku bahkan belum mengatakan aku mencintainya setelah semua yang dia lakukan untukku


"Aku mencintaimu Vanilla, akan kubakar siapapun yang berani menggangumu lagi." Dia mengatakannya lebih dulu ternyata.


"Aku juga mencintaimu." Aku membalasnya dan sia mencium telapak tanganku yang mengelus wajahnya.


Rasa bersyukur ini lebih besar dari apapun. Pagi ini walaupun menyakitkan dan kacau tapi akan teringat selamanya.


Pertama dia mengatakan dia mencintaiku.